Puluhan Santri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Masih Terjepit, Tim Evakuasi Berburu Waktu
Kamis, 02 Oktober 2025 - 13:18 WIB
loading...
Puluhan santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur masih terjepit di reruntuhan bangunan musala. Foto: Dok Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Puluhan santri Pondok Pesantren Al Khoziny , Sidoarjo, Jawa Timur masih terjepit di reruntuhan bangunan musala. Petugas berjibaku berburu dengan waktu untuk mengevakuasi santri terjebak bangunan ambruk yang terjadi pada Senin (29/9/2025) atau memasuki hari ketiga.
Upaya evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban dalam kondisi tidak bernyawa, Rabu (1/10/2025). Dengan begitu, total korban hingga hari ketiga sebanyak 5 orang.
Baca juga: Update Korban Musala Ambruk Ponpes Al Khoziny, 5 Santri Meninggal Dunia
"Penemuan ini sekaligus menambah data jumlah korban meninggal dunia atas insiden yang terjadi akibat kegagalan konstruksi menjadi lima orang," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Pada hari ketiga, petugas juga mengevakuasi 5 santri dalam kondisi masih hidup. "Satu orang dalam keadaan kritis dan memerlukan penanganan medis khusus. Seluruh penyintas itu segera dibawa ke RSUD Sidoarjo," katanya.
Aam, sapaan akrab Abdul Muhari menuturkan tim akan memaksimalkan pencarian dengan langkah-langkah yang diperhitungkan secara matang. Sebab, lokasi korban yang terdeteksi berada di posisi yang cukup sulit dan menantang sehingga selain keahlian tentunya juga dibutuhkan strategi khusus agar korban maupun tim yang bertugas semuanya dapat selamat.
"Dalam kondisi ini, penggunaan alat berat berpotensi menambah risiko semakin tinggi. Sebab, struktur bangunan yang runtuh sangat labil terhadap guncangan. Apabila dipaksakan dikhawatirkan justru mengancam nyawa," ungkapnya.
Jika tidak lagi ditemukan tanda-tanda kehidupan, BNPB bersama Basarnas dan Pemprov Jawa Timur akan mengajak keluarga korban santri untuk kembali bermusyawarah dan memohon kesediaan dari segala keadaan yang ada. Babak baru dalam operasi SAR menggunakan alat berat dapat segera dilaksanakan guna mengangkat seluruh korban dengan berbagai kondisi.
Berdasarkan data sementara yang dimutakhirkan per Rabu (1/10/2025) pukul 23.00 WIB, sebanyak 59 santri masih terjebak di reruntuhan bangunan. Angka tersebut diperoleh dari daftar absensi yang dirilis oleh pondok pesantren, termasuk dari laporan kehilangan pihak keluarga korban.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran Forkopimda menggelar rapat di tengah penanganan tragedi bangunan musala ambruk.
Kehadiran mereka menjadi bukti betapa seriusnya penanganan tragedi ini, namun di sisi lain menambah ketegangan emosional keluarga korban yang menunggu kepastian.
Salah satu poin pembahasan yakni penggunaan 5 alat berat yang sudah terparkir di sekitar ponpes. Tim SAR gabungan menilai langkah ini harus ditempuh karena dikhawatirkan indikasi korban selamat semakin menipis.
Upaya evakuasi yang dilakukan tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban dalam kondisi tidak bernyawa, Rabu (1/10/2025). Dengan begitu, total korban hingga hari ketiga sebanyak 5 orang.
Baca juga: Update Korban Musala Ambruk Ponpes Al Khoziny, 5 Santri Meninggal Dunia
"Penemuan ini sekaligus menambah data jumlah korban meninggal dunia atas insiden yang terjadi akibat kegagalan konstruksi menjadi lima orang," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Pada hari ketiga, petugas juga mengevakuasi 5 santri dalam kondisi masih hidup. "Satu orang dalam keadaan kritis dan memerlukan penanganan medis khusus. Seluruh penyintas itu segera dibawa ke RSUD Sidoarjo," katanya.
Aam, sapaan akrab Abdul Muhari menuturkan tim akan memaksimalkan pencarian dengan langkah-langkah yang diperhitungkan secara matang. Sebab, lokasi korban yang terdeteksi berada di posisi yang cukup sulit dan menantang sehingga selain keahlian tentunya juga dibutuhkan strategi khusus agar korban maupun tim yang bertugas semuanya dapat selamat.
"Dalam kondisi ini, penggunaan alat berat berpotensi menambah risiko semakin tinggi. Sebab, struktur bangunan yang runtuh sangat labil terhadap guncangan. Apabila dipaksakan dikhawatirkan justru mengancam nyawa," ungkapnya.
Jika tidak lagi ditemukan tanda-tanda kehidupan, BNPB bersama Basarnas dan Pemprov Jawa Timur akan mengajak keluarga korban santri untuk kembali bermusyawarah dan memohon kesediaan dari segala keadaan yang ada. Babak baru dalam operasi SAR menggunakan alat berat dapat segera dilaksanakan guna mengangkat seluruh korban dengan berbagai kondisi.
Berdasarkan data sementara yang dimutakhirkan per Rabu (1/10/2025) pukul 23.00 WIB, sebanyak 59 santri masih terjebak di reruntuhan bangunan. Angka tersebut diperoleh dari daftar absensi yang dirilis oleh pondok pesantren, termasuk dari laporan kehilangan pihak keluarga korban.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran Forkopimda menggelar rapat di tengah penanganan tragedi bangunan musala ambruk.
Kehadiran mereka menjadi bukti betapa seriusnya penanganan tragedi ini, namun di sisi lain menambah ketegangan emosional keluarga korban yang menunggu kepastian.
Salah satu poin pembahasan yakni penggunaan 5 alat berat yang sudah terparkir di sekitar ponpes. Tim SAR gabungan menilai langkah ini harus ditempuh karena dikhawatirkan indikasi korban selamat semakin menipis.
(jon)
Lihat Juga :