Kisah Utang Budi Raja Majapahit hingga Munculnya Sumpah Gajah Mada
Kamis, 02 Oktober 2025 - 07:26 WIB
loading...
Mahapatih Gajah Mada ingin mengulang kesuksesan Kerajaan Singasari dan diimplementasikan ke Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
MAHAPATIH Gajah Mada ingin mengulang kesuksesan Kerajaan Singasari dan diimplementasikan ke Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Saat itu Gajah Mada memang memiliki obsesi keinginan supaya misi penyatuan Nusantara melalui Sumpah Palapa dapat terwujud.
Apalagi misi itu terbantu dengan status jabatan Patih Amangkubhumi yang diemban Gajah Mada, yang membuatnya mempunyai wewenang penuh dalam sistem pemerintahan. Maka saat menjabat Patih Amangkubhumi inilah Gajah Mada berujar akan menunaikan politik nusantara, atau menaklukkan wilayah-wilayah lain. Termasuk beberapa wilayah yang sebelumnya pernah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Baca juga: Sumpah Palapa Gajah Mada, 21 Tahun Penaklukan Nusantara
Kiprah Gajah Mada dalam mengemban amanah sebagai Mahapatih diawali di masa raja perempuan pertama Kerajaan Majapahit Tribhuwana Tunggadewi. Sang raja itu konon kata Sejarawan Prof. Slamet Muljana dalam bukunya "Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit" mendukung Gajah Mada karene memiliki utang budi ke sang Mahapatih.
Oleh karena itu, Gajah Mada hampir seluruhnya berhak menetapkan program politik pemerintahan. Program politik yang diumumkan berbeda dengan program politik yang pernah dijalankan oleh Raja Kertarajasa dan Jayanegara. Di masa pemerintahan keduanyalah pemberontakan-pemberontakan sering terjadi.
Program politik Gajah Mada, pada hakikatnya adalah kelanjutan gagasan nusantara Raja Kertanegara. Lebih tepat disebut sebagai Gagasan Nusantara II. Dimana itu berisi usaha menundukkan pulau-pulau dan negara-negara seberang, seperti yang termuat dalam sumpah Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Pallapa.
Baca juga: Kekuasaan Kerajaan Majapahit Terbelah Dua Sebelum Sumpah Palapa Gajah Mada
Negara-negara yang akan ditundukkan itu adalah negara-negara seberang yang pernah ditundukkan di masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Namun keruntuhan Singasari dan kerusuhan dalam negeri membuat negara-negara ini bebas kembali.
Demikianlah Gajah Mada mencoba ingin mengulang kisah sukses Singasari kendati mendapat ledekan dari pejabat tinggi Majapahit, termasuk Aria Tadah yang sebelumnya menjabat sebagai patih amangku bumi. Tapi Gajah Mada tetaplah Gajah Mada, ia terus berusaha merealisasikan mimpinya menundukkan nusantara.
Langkah pertama untuk menyingkirkan orang-orang di pemerintahan yang tak satu visi misi dengannya. Alhasil dari sana terjadi perubahan susunan kabinet di awal pemerintahan Gajah Mada. Pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubhumi sendiri terjadi pada tahun Saka 1268 atau tahun 1246 Masehi.
Konon setelah itu, dikisahkan pada kitab Negarakertagama, Bali menjadi daerah pertama yang diinvasi serangan Majapahit. Serangan ini tercatat terjadi pada tahun Saka 1265.
Dahulu di era Singasari Bali juga menjadi salah satu target Kartanegara dengan Ekspedisi Pamalayu. Sang Raja Singasari ini melakukan ekspansi ke Bali pada 1284 untuk mencoba merealisasikan ide penyatuan nusantara.
Tapi adanya sejumlah pemberontakan pada zaman pemerintahan Raja Kertarajasa dan Jayanegara, tidak mengizinkan adanya gagasan nusantara. Bahkan gagasan nusantara yang telah bangkit pada pemerintahan Raja Kertanegara, padam kembali.
Orang - orang yang mengabdi pada pemerintahan Raja Kertanegara banyak terlibat pemberontakan dan kemudian mati terbunuh. Hal ini berbeda dengan pemerintahan Kerajaan Majapahit yang mencoba mewacanakan gagasan nusantara, dengan menghendaki kerelaan sekedarnya untuk mengkonsolidasikan negaranya.
Beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Kuti, Empu Mada tampil ke muka. Rupanya sejak saat itulah Majapahit mencoba mengkonsolidasikan untuk melaksanakan gagasan nusantara. Sempat terganggu dengan peristiwa Tanca yang membunuh Tanca dan Raja Jayanegara sendiri.
Selang 12 tahun kemudian, kemenangan Majapahit di bawah Raja Tribhuwana Tunggadewi atas Keta dan Sadeng, memberikan kesadaran bahwa Majapahit telah pulih kembali dan memberikan ilham untuk menjalankan politik nusantara di bawah gagasan Gajah Mada.
Apalagi misi itu terbantu dengan status jabatan Patih Amangkubhumi yang diemban Gajah Mada, yang membuatnya mempunyai wewenang penuh dalam sistem pemerintahan. Maka saat menjabat Patih Amangkubhumi inilah Gajah Mada berujar akan menunaikan politik nusantara, atau menaklukkan wilayah-wilayah lain. Termasuk beberapa wilayah yang sebelumnya pernah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Baca juga: Sumpah Palapa Gajah Mada, 21 Tahun Penaklukan Nusantara
Kiprah Gajah Mada dalam mengemban amanah sebagai Mahapatih diawali di masa raja perempuan pertama Kerajaan Majapahit Tribhuwana Tunggadewi. Sang raja itu konon kata Sejarawan Prof. Slamet Muljana dalam bukunya "Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Kerajaan Majapahit" mendukung Gajah Mada karene memiliki utang budi ke sang Mahapatih.
Oleh karena itu, Gajah Mada hampir seluruhnya berhak menetapkan program politik pemerintahan. Program politik yang diumumkan berbeda dengan program politik yang pernah dijalankan oleh Raja Kertarajasa dan Jayanegara. Di masa pemerintahan keduanyalah pemberontakan-pemberontakan sering terjadi.
Program politik Gajah Mada, pada hakikatnya adalah kelanjutan gagasan nusantara Raja Kertanegara. Lebih tepat disebut sebagai Gagasan Nusantara II. Dimana itu berisi usaha menundukkan pulau-pulau dan negara-negara seberang, seperti yang termuat dalam sumpah Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Pallapa.
Baca juga: Kekuasaan Kerajaan Majapahit Terbelah Dua Sebelum Sumpah Palapa Gajah Mada
Negara-negara yang akan ditundukkan itu adalah negara-negara seberang yang pernah ditundukkan di masa pemerintahan Kerajaan Singasari. Namun keruntuhan Singasari dan kerusuhan dalam negeri membuat negara-negara ini bebas kembali.
Demikianlah Gajah Mada mencoba ingin mengulang kisah sukses Singasari kendati mendapat ledekan dari pejabat tinggi Majapahit, termasuk Aria Tadah yang sebelumnya menjabat sebagai patih amangku bumi. Tapi Gajah Mada tetaplah Gajah Mada, ia terus berusaha merealisasikan mimpinya menundukkan nusantara.
Langkah pertama untuk menyingkirkan orang-orang di pemerintahan yang tak satu visi misi dengannya. Alhasil dari sana terjadi perubahan susunan kabinet di awal pemerintahan Gajah Mada. Pengangkatan Gajah Mada sebagai Patih Amangkubhumi sendiri terjadi pada tahun Saka 1268 atau tahun 1246 Masehi.
Konon setelah itu, dikisahkan pada kitab Negarakertagama, Bali menjadi daerah pertama yang diinvasi serangan Majapahit. Serangan ini tercatat terjadi pada tahun Saka 1265.
Dahulu di era Singasari Bali juga menjadi salah satu target Kartanegara dengan Ekspedisi Pamalayu. Sang Raja Singasari ini melakukan ekspansi ke Bali pada 1284 untuk mencoba merealisasikan ide penyatuan nusantara.
Tapi adanya sejumlah pemberontakan pada zaman pemerintahan Raja Kertarajasa dan Jayanegara, tidak mengizinkan adanya gagasan nusantara. Bahkan gagasan nusantara yang telah bangkit pada pemerintahan Raja Kertanegara, padam kembali.
Orang - orang yang mengabdi pada pemerintahan Raja Kertanegara banyak terlibat pemberontakan dan kemudian mati terbunuh. Hal ini berbeda dengan pemerintahan Kerajaan Majapahit yang mencoba mewacanakan gagasan nusantara, dengan menghendaki kerelaan sekedarnya untuk mengkonsolidasikan negaranya.
Beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Kuti, Empu Mada tampil ke muka. Rupanya sejak saat itulah Majapahit mencoba mengkonsolidasikan untuk melaksanakan gagasan nusantara. Sempat terganggu dengan peristiwa Tanca yang membunuh Tanca dan Raja Jayanegara sendiri.
Selang 12 tahun kemudian, kemenangan Majapahit di bawah Raja Tribhuwana Tunggadewi atas Keta dan Sadeng, memberikan kesadaran bahwa Majapahit telah pulih kembali dan memberikan ilham untuk menjalankan politik nusantara di bawah gagasan Gajah Mada.
(shf)
Lihat Juga :