Tekan Polusi Organik, IPAL Sentra Tahu Dibangun di Jombang
Rabu, 17 September 2025 - 08:14 WIB
loading...
Menekan 77 persen polusi organik, IPAL sentra tahu dibangun di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Foto: Ist
A
A
A
JOMBANG - Menekan 77 persen polusi organik, IPAL sentra tahu dibangun di Kabupaten Jombang , Jawa Timur. Pembangunan IPAL merupakan hasil kerja sama PT Pertamina Persero sebagai Holding Migas melalui Subholding Gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemkab Jombang.
Program Tanggung Jawab Sosial atau CSR ini bagian dari melaksanakan program Community Development Kampung Pangan BERSINAR (Berwawasan Lingkungan, Higienis, dan Tenar) dengan fokus di pusat industri tahu demi terwujudnya ramah lingkungan.
Baca juga: Sentra Ikan Bulak Surabaya Bakal Disulap Jadi Sentra Pengolahan Hasil Laut
“Dari 88 pabrik tahu yang beroperasi di Kecamatan Jogoroto setiap harinya membutuhkan pasokan kedelai mencapai 84 ton per hari. Dari proses produksi tersebut, dihasilkan limbah cair dengan volume sekitar 1.260 m3 atau setara 1.260.000 liter per hari, dengan kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) mencapai 4.200 kilogram per hari,” ujar Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLHK Tulus Laksono, Selasa (16/9/2025).
Melalui pengolahan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, kadar BOD berhasil ditekan secara signifikan menjadi hanya 960 kilogram per hari, sehingga kualitas limbah yang dihasilkan lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan standar pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
“Sentra tahu Jombang dipilih KLH untuk dibantu karena laporan dari DLH Jombang untuk mencari solusi pengelolaan limbah dan memperbaiki kualitas air Sungai Brantas. Hal ini juga untuk mengurangi gesekan horizontal dan pengelolaan konservasi air tanah,” ungkapnya.
Bupati Jombang Warsubi mengatakan, keberadaan pabrik tahu di Jogoroto Jombang menyerap ribuan tenaga kerja dengan penghasilan di atas UMR tentunya membawa tantangan besar dalam pengelolaan limbah produksi tahu yang mencemari sungai.
Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN Rachmat Hutama menjelaskan, keberadaan IPAL merupakan solusi yang dirumuskan terpadu untuk mengatasi isu lingkungan. “Usaha berbasis tahu merupakan produk unggulan masyarakat Jombang, dengan dukungan penguatan pada sisi lingkungan, sosial maupun ekonomi diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi kualitas tahu khas daerah ini,” ujarnya.
Adanya IPAL, hasil dari kolam fitoremediasi memanfaatkan air hasil olahan limbah tahu sebagai irigasi pertanian. Termasuk kegiatan berbasis wawasan lingkungan lainnya meliputi pengolahan eceng gondok menjadi pupuk, energy shifting dari kayu bakar menjadi menggunakan gas bumi dan pengumpulan minyak jelantah yang bisa dilakukan untuk UMKM.
“Kami juga ingin membantu perekonomian warga melalui literasi finansial, pelatihan UMKM dan pusat literasi lingkungan,” kata Rachmat.
Dia berharap upaya kolaboratif ini menjadi langkah kongkret untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi dan mengembangkan potensi lokal.
Program Tanggung Jawab Sosial atau CSR ini bagian dari melaksanakan program Community Development Kampung Pangan BERSINAR (Berwawasan Lingkungan, Higienis, dan Tenar) dengan fokus di pusat industri tahu demi terwujudnya ramah lingkungan.
Baca juga: Sentra Ikan Bulak Surabaya Bakal Disulap Jadi Sentra Pengolahan Hasil Laut
“Dari 88 pabrik tahu yang beroperasi di Kecamatan Jogoroto setiap harinya membutuhkan pasokan kedelai mencapai 84 ton per hari. Dari proses produksi tersebut, dihasilkan limbah cair dengan volume sekitar 1.260 m3 atau setara 1.260.000 liter per hari, dengan kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) mencapai 4.200 kilogram per hari,” ujar Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLHK Tulus Laksono, Selasa (16/9/2025).
Melalui pengolahan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, kadar BOD berhasil ditekan secara signifikan menjadi hanya 960 kilogram per hari, sehingga kualitas limbah yang dihasilkan lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan standar pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
“Sentra tahu Jombang dipilih KLH untuk dibantu karena laporan dari DLH Jombang untuk mencari solusi pengelolaan limbah dan memperbaiki kualitas air Sungai Brantas. Hal ini juga untuk mengurangi gesekan horizontal dan pengelolaan konservasi air tanah,” ungkapnya.
Bupati Jombang Warsubi mengatakan, keberadaan pabrik tahu di Jogoroto Jombang menyerap ribuan tenaga kerja dengan penghasilan di atas UMR tentunya membawa tantangan besar dalam pengelolaan limbah produksi tahu yang mencemari sungai.
Direktur SDM dan Penunjang Bisnis PGN Rachmat Hutama menjelaskan, keberadaan IPAL merupakan solusi yang dirumuskan terpadu untuk mengatasi isu lingkungan. “Usaha berbasis tahu merupakan produk unggulan masyarakat Jombang, dengan dukungan penguatan pada sisi lingkungan, sosial maupun ekonomi diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi kualitas tahu khas daerah ini,” ujarnya.
Adanya IPAL, hasil dari kolam fitoremediasi memanfaatkan air hasil olahan limbah tahu sebagai irigasi pertanian. Termasuk kegiatan berbasis wawasan lingkungan lainnya meliputi pengolahan eceng gondok menjadi pupuk, energy shifting dari kayu bakar menjadi menggunakan gas bumi dan pengumpulan minyak jelantah yang bisa dilakukan untuk UMKM.
“Kami juga ingin membantu perekonomian warga melalui literasi finansial, pelatihan UMKM dan pusat literasi lingkungan,” kata Rachmat.
Dia berharap upaya kolaboratif ini menjadi langkah kongkret untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi dan mengembangkan potensi lokal.
(jon)
Lihat Juga :