Gelar Hening Cipta dan Doa Kebangsaan, PB HMI Komitmen Kawal Demokrasi
Selasa, 09 September 2025 - 20:41 WIB
loading...
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2024–2026 menggelar Hening Cipta dan Doa Kebangsaan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2024–2026 menggelar Hening Cipta dan Doa Kebangsaan. Kegiatan tersebut digelar di Sekretariat PB HMI, Jakarta.
Acara yang mengusung tema “Ikhtiar dan Tawakal untuk Koreksi Indonesia” ini dihadiri oleh jajaran internal PB HMI. Meski terbatas, kegiatan ini mengandung makna yang sangat mendalam, yaitu sebagai momentum refleksi kolektif dan konsolidasi moral di tengah kondisi bangsa yang penuh dengan dinamika dan tantangan.
Ketua Umum PB HMI Bagas Kurniawan menekankan kegiatan doa kebangsaan ini adalah bentuk kesadaran spiritual dan refleksi organisasi atas perjalanan bangsa yang tidak selalu berjalan di jalur yang benar.
Baca juga: Jadi Ketua Umum PB HMI 2023-2025, Bagas Kurniawan Janjikan Perubahan Progresif
“Ikhtiar dan tawakal adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa ikhtiar, kita hanya akan jatuh pada sikap pasrah yang keliru, sementara tanpa tawakal, ikhtiar kita bisa berubah menjadi kesombongan. Keduanya harus berjalan seiring untuk menghadirkan energi perubahan yang sehat bagi Indonesia,” kata Bagas, Selasa (9/9/2025).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB HMI Muhammad Jusrianto menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar kegiatan doa kebangsaan ini menjadi pengingat bahwa koreksi terhadap bangsa dimulai dari diri sendiri.
“Walaupun kegiatan ini hanya dihadiri oleh internal PB HMI, maknanya sangat besar. Dari sini kita ingin menegaskan bahwa koreksi terhadap bangsa harus berawal dari internal organisasi, dari hati dan tekad kader HMI, sebelum meluas menjadi gerakan besar untuk rakyat Indonesia,” ungkap Jusrianto.
Baca juga: Bagas Kurniawan Pimpin PB HMI Usai Terpilih Secara Aklamasi di Putaran 2
Ketua Bidang Hukum, Pertahanan, dan Keamanan PB HMI Rifan Ridwan Saleh menyampaikan, kegiatan ini juga merupakan penguatan posisi moral PB HMI dalam merespons kondisi bangsa, khususnya terkait krisis hukum, pelanggaran hak asasi manusia, dan praktik represif aparat terhadap mahasiswa maupun rakyat.
“Doa dan hening cipta ini adalah fondasi spiritual perjuangan kita. PB HMI menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa. Kritik dan koreksi bukanlah pengkhianatan, melainkan bentuk cinta kepada bangsa. Ikhtiar dan tawakal adalah senjata moral kita untuk koreksi Indonesia,” tegasnya.
Ketua Bidang PTKP PB HMI Abdul Hakim El menegaskan refleksi spiritual ini juga harus diterjemahkan dalam gerakan nyata di jalanan dan ruang publik.
“Sebagai pimpinan masa aksi, saya melihat doa dan hening cipta ini bukan hanya simbol, tetapi amunisi moral untuk turun ke lapangan. Kita berikhtiar dengan gerakan, kita bertawakal dengan doa. Di hadapan rakyat, kita harus berani bersuara lantang, dan di hadapan Tuhan, kita harus tetap tunduk. Dari Sekretariat PB HMI inilah kita teguhkan bahwa aksi mahasiswa adalah suara nurani bangsa,” ujarnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin secara khusyuk, dilanjutkan dengan ikrar kebangsaan sebagai komitmen kolektif untuk terus mengawal keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan. Suasana hening yang tercipta menjadi simbol bahwa dari ruang kecil di Sekretariat PB HMI, lahir kekuatan besar yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan bangsa.
Melalui momentum ini, PB HMI menegaskan kembali posisinya sebagai kekuatan moral (moral force) sekaligus pengawal demokrasi (agent of control) yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial, tegaknya hukum, dan keberpihakan kepada rakyat.
Acara yang mengusung tema “Ikhtiar dan Tawakal untuk Koreksi Indonesia” ini dihadiri oleh jajaran internal PB HMI. Meski terbatas, kegiatan ini mengandung makna yang sangat mendalam, yaitu sebagai momentum refleksi kolektif dan konsolidasi moral di tengah kondisi bangsa yang penuh dengan dinamika dan tantangan.
Ketua Umum PB HMI Bagas Kurniawan menekankan kegiatan doa kebangsaan ini adalah bentuk kesadaran spiritual dan refleksi organisasi atas perjalanan bangsa yang tidak selalu berjalan di jalur yang benar.
Baca juga: Jadi Ketua Umum PB HMI 2023-2025, Bagas Kurniawan Janjikan Perubahan Progresif
“Ikhtiar dan tawakal adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa ikhtiar, kita hanya akan jatuh pada sikap pasrah yang keliru, sementara tanpa tawakal, ikhtiar kita bisa berubah menjadi kesombongan. Keduanya harus berjalan seiring untuk menghadirkan energi perubahan yang sehat bagi Indonesia,” kata Bagas, Selasa (9/9/2025).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB HMI Muhammad Jusrianto menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar kegiatan doa kebangsaan ini menjadi pengingat bahwa koreksi terhadap bangsa dimulai dari diri sendiri.
“Walaupun kegiatan ini hanya dihadiri oleh internal PB HMI, maknanya sangat besar. Dari sini kita ingin menegaskan bahwa koreksi terhadap bangsa harus berawal dari internal organisasi, dari hati dan tekad kader HMI, sebelum meluas menjadi gerakan besar untuk rakyat Indonesia,” ungkap Jusrianto.
Baca juga: Bagas Kurniawan Pimpin PB HMI Usai Terpilih Secara Aklamasi di Putaran 2
Ketua Bidang Hukum, Pertahanan, dan Keamanan PB HMI Rifan Ridwan Saleh menyampaikan, kegiatan ini juga merupakan penguatan posisi moral PB HMI dalam merespons kondisi bangsa, khususnya terkait krisis hukum, pelanggaran hak asasi manusia, dan praktik represif aparat terhadap mahasiswa maupun rakyat.
“Doa dan hening cipta ini adalah fondasi spiritual perjuangan kita. PB HMI menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa. Kritik dan koreksi bukanlah pengkhianatan, melainkan bentuk cinta kepada bangsa. Ikhtiar dan tawakal adalah senjata moral kita untuk koreksi Indonesia,” tegasnya.
Ketua Bidang PTKP PB HMI Abdul Hakim El menegaskan refleksi spiritual ini juga harus diterjemahkan dalam gerakan nyata di jalanan dan ruang publik.
“Sebagai pimpinan masa aksi, saya melihat doa dan hening cipta ini bukan hanya simbol, tetapi amunisi moral untuk turun ke lapangan. Kita berikhtiar dengan gerakan, kita bertawakal dengan doa. Di hadapan rakyat, kita harus berani bersuara lantang, dan di hadapan Tuhan, kita harus tetap tunduk. Dari Sekretariat PB HMI inilah kita teguhkan bahwa aksi mahasiswa adalah suara nurani bangsa,” ujarnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin secara khusyuk, dilanjutkan dengan ikrar kebangsaan sebagai komitmen kolektif untuk terus mengawal keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan. Suasana hening yang tercipta menjadi simbol bahwa dari ruang kecil di Sekretariat PB HMI, lahir kekuatan besar yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan bangsa.
Melalui momentum ini, PB HMI menegaskan kembali posisinya sebagai kekuatan moral (moral force) sekaligus pengawal demokrasi (agent of control) yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial, tegaknya hukum, dan keberpihakan kepada rakyat.
(cip)
Lihat Juga :