Water Symposium 2025 di Unud Bahas Strategi Pengelolaan Air Limbah Sirkular
Selasa, 26 Agustus 2025 - 15:56 WIB
loading...
Universitas Udayana melalui Fakultas Teknik berkolaborasi dengan Department of Environmental Technology Wageningen University & Research (WUR), Bali Youth Parliament for Water, dan Water Network Initiative menggelar Water Symposium 2025. Foto: Ist
A
A
A
DENPASAR - Universitas Udayana melalui Fakultas Teknik berkolaborasi dengan Department of Environmental Technology Wageningen University & Research (WUR), Bali Youth Parliament for Water, dan Water Network Initiative menyelenggarakan Water Symposium 2025. Kegiatan bertema "Closing the Loop: Enhancing Urban Water Metabolism Through Circular Wastewater Strategies for Sustainable Cities."
Simposium diselenggarakan di Aula Pascasarjana, Kampus Sudirman, Universitas Udayana, belum lama ini. Simposium dihadiri 100 partisipan dari undangan pemerintah daerah, perumda, NGO/komunitas, sektor private, akademisi, praktisi, hingga mahasiswa.
Tujuan dari kegiatan ini untuk menjadi wadah berbagi ilmu, pandangan, serta gagasan mengenai pengelolaan air berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Wakil Koordinator Panitia Sarah Abigail menuturkan simposium ini mengangkat isu yang hadir dari tantangan pengelolaan air di perkotaan, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami pertumbuhan populasi yang pesat seperti Bali. Hal ini turut diperparah dengan tantangan air limbah yang berpotensi merusak kualitas air tanah sekaligus mencemari air jika tidak ditangani dengan baik.
"Mengingat urgensi tersebut, Water Symposium 2025 ini hadir untuk merespons tantangan tersebut dengan harapan bahwa ada langkah lebih lanjut untuk menindaklanjuti urgensi pengelolaan air limbah berkelanjutan," ujarnya.
Rektor Universitas Udayana Prof Ir I Ketut Sudarsana mengatakan, pengelolaan air menjadi semakin kompleks seiring pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Melalui strategi pengelolaan air limbah sirkular, kita didorong untuk mengubah perspektif dari memandang air limbah sebagai beban, menjadi melihatnya sebagai sumber daya yang dapat dipulihkan baik sebagai air bersih, energi, maupun produk berharga lainnya yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Rektor juga melihat kolaborasi dalam Water Symposium 2025 ini juga menjadi bagian dari upaya Unud mewujudkan cita-cita sebagai universitas kelas dunia yang memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat. "Saya yakin forum ini akan menjadi platform yang berharga bagi pertukaran pengetahuan dan kolaborasi baik di tingkat nasional maupun internasional dalam upaya bersama kita mewujudkan kota yang berkelanjutan dan tangguh," ungkapnya.
Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta berkomitmen menjaga ketersediaan air bersih dan kelestarian lingkungan di Pulau Dewata. Dia menyambut baik inisiatif penyelenggaraan Water Symposium tersebut. Air merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar.
“Tantangan lingkungan dan air nyata kita hadapi. Suhu semakin meningkat, sementara sumber air terus menurun. Upaya yang kami lakukan meliputi penghijauan, pengelolaan daerah aliran sungai, serta koordinasi dengan kabupaten/kota seperti inisiatif di Sungai Ayung. Maka, kolaborasi dalam Water Symposium ini bagi saya luar biasa,” ujarnya.
Giri menekankan pentingnya menjaga lingkungan secara konsisten. Dia berharap Water Symposium tidak hanya menjadi forum akademis semata, tetapi juga mampu menghasilkan rekomendasi nyata yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik maupun praktik di lapangan.
Simposium ini juga menampilkan berbagai perspektif riset dan kebijakan. Dr Katarzyna Kujawa, Senior Researcher Environmental Technology Department Wageningen University & Research memperkenalkan Urban Harvest Approach (UHA) untuk menjawab isu keberlanjutan perkotaan melalui biorecovery, pemanfaatan kembali air, dan urban system engineering. Dia menekankan solusi praktis seperti pusat sanitasi komunal, tangki septik bersama, dan sistem perpipaan sederhana.
Dari sisi akademisi Teknik Lingkungan Unud Prof Kadek Diana Harmayani memaparkan hasil penelitian mengenai kondisi Tukad Badung. Penelitian tersebut menemukan adanya pencemaran ringan, efektivitas constructed wetland dalam meningkatkan kualitas air, serta tingginya kandungan mikroplastik.
Kepala Pusdal LH Bali Nusra–KLH Ni Nyoman Santi menyoroti permasalahan air di Bali, termasuk pendangkalan danau, penurunan kualitas mata air, serta pencemaran sungai. Dia juga menjelaskan kerangka regulasi seperti UU No 32 Tahun 2009 dan PP No 22 Tahun 2021, serta strategi pengelolaan seperti pembangunan IPAL komunal dan pengembangan konsep ekoriparian yang berpotensi diterapkan di Bali.
Simposium diselenggarakan di Aula Pascasarjana, Kampus Sudirman, Universitas Udayana, belum lama ini. Simposium dihadiri 100 partisipan dari undangan pemerintah daerah, perumda, NGO/komunitas, sektor private, akademisi, praktisi, hingga mahasiswa.
Tujuan dari kegiatan ini untuk menjadi wadah berbagi ilmu, pandangan, serta gagasan mengenai pengelolaan air berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Wakil Koordinator Panitia Sarah Abigail menuturkan simposium ini mengangkat isu yang hadir dari tantangan pengelolaan air di perkotaan, terutama di wilayah-wilayah yang mengalami pertumbuhan populasi yang pesat seperti Bali. Hal ini turut diperparah dengan tantangan air limbah yang berpotensi merusak kualitas air tanah sekaligus mencemari air jika tidak ditangani dengan baik.
"Mengingat urgensi tersebut, Water Symposium 2025 ini hadir untuk merespons tantangan tersebut dengan harapan bahwa ada langkah lebih lanjut untuk menindaklanjuti urgensi pengelolaan air limbah berkelanjutan," ujarnya.
Rektor Universitas Udayana Prof Ir I Ketut Sudarsana mengatakan, pengelolaan air menjadi semakin kompleks seiring pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Melalui strategi pengelolaan air limbah sirkular, kita didorong untuk mengubah perspektif dari memandang air limbah sebagai beban, menjadi melihatnya sebagai sumber daya yang dapat dipulihkan baik sebagai air bersih, energi, maupun produk berharga lainnya yang mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Rektor juga melihat kolaborasi dalam Water Symposium 2025 ini juga menjadi bagian dari upaya Unud mewujudkan cita-cita sebagai universitas kelas dunia yang memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat. "Saya yakin forum ini akan menjadi platform yang berharga bagi pertukaran pengetahuan dan kolaborasi baik di tingkat nasional maupun internasional dalam upaya bersama kita mewujudkan kota yang berkelanjutan dan tangguh," ungkapnya.
Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta berkomitmen menjaga ketersediaan air bersih dan kelestarian lingkungan di Pulau Dewata. Dia menyambut baik inisiatif penyelenggaraan Water Symposium tersebut. Air merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar.
“Tantangan lingkungan dan air nyata kita hadapi. Suhu semakin meningkat, sementara sumber air terus menurun. Upaya yang kami lakukan meliputi penghijauan, pengelolaan daerah aliran sungai, serta koordinasi dengan kabupaten/kota seperti inisiatif di Sungai Ayung. Maka, kolaborasi dalam Water Symposium ini bagi saya luar biasa,” ujarnya.
Giri menekankan pentingnya menjaga lingkungan secara konsisten. Dia berharap Water Symposium tidak hanya menjadi forum akademis semata, tetapi juga mampu menghasilkan rekomendasi nyata yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik maupun praktik di lapangan.
Simposium ini juga menampilkan berbagai perspektif riset dan kebijakan. Dr Katarzyna Kujawa, Senior Researcher Environmental Technology Department Wageningen University & Research memperkenalkan Urban Harvest Approach (UHA) untuk menjawab isu keberlanjutan perkotaan melalui biorecovery, pemanfaatan kembali air, dan urban system engineering. Dia menekankan solusi praktis seperti pusat sanitasi komunal, tangki septik bersama, dan sistem perpipaan sederhana.
Dari sisi akademisi Teknik Lingkungan Unud Prof Kadek Diana Harmayani memaparkan hasil penelitian mengenai kondisi Tukad Badung. Penelitian tersebut menemukan adanya pencemaran ringan, efektivitas constructed wetland dalam meningkatkan kualitas air, serta tingginya kandungan mikroplastik.
Kepala Pusdal LH Bali Nusra–KLH Ni Nyoman Santi menyoroti permasalahan air di Bali, termasuk pendangkalan danau, penurunan kualitas mata air, serta pencemaran sungai. Dia juga menjelaskan kerangka regulasi seperti UU No 32 Tahun 2009 dan PP No 22 Tahun 2021, serta strategi pengelolaan seperti pembangunan IPAL komunal dan pengembangan konsep ekoriparian yang berpotensi diterapkan di Bali.
(jon)
Lihat Juga :