Antisipasi Macet Kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Bongkar Muat Tak Lebih 1 Jam
Rabu, 20 Agustus 2025 - 17:50 WIB
loading...
Sistem Terminal Booking Sistem (TBS) mengantisipasi macet kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara resmi digunakan IPC Terminal Petikemas (IPC TPK). Truk kontainer yang melakukan bongkar muat tidak lebih dari 1 jam. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Sistem Terminal Booking Sistem (TBS) mengantisipasi macet kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara resmi digunakan IPC Terminal Petikemas (IPC TPK). Nanti truk kontainer yang melakukan bongkar muat tidak lebih dari 1 jam.
Direktur Utama IPC TPK Guna Mulyana mengatakan, langkah ini sebagai bentuk keseriusan pihaknya agar kejadian 17 April 2025 di kawasan pesisir Jakarta tak terulang kembali. “Sebuah sistem kami persiapan sebagai komitmen membenahi pelabuhan dan bongkar muat barang,” ujar Guna, Rabu (20/8/2025).
Sebelumnya, pada 17 April 2025 lalu kemacetan mengular terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Ribuan kontainer tersendat akibat volume aktivitas bongkar muat. Kondisi ini menyita perhatian sejumlah pihak mulai Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hingga Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Macet Horor di Tanjung Priok Bikin Stres Sopir Angkot
Setelah kejadian pihaknya terus berbenah, aktivitas bongkar muat pun kini dibatasi tidak lebih dari 3.000 kontainer per harinya. Termasuk soal waktu tunggu, dia juga membuat aturan aktivitas maksimal 1 jam dan memonitoring bongkar muat baik secara digital, sistematis, hingga manual. “Hingga hari ini saja rata-rata waktu bongkar muat hanya 17 menit per kontainer,” ucapnya.
Lewat sistem ini, sopir kontainer akan diawasi melalui kartu get pass yang memonitoring aktivitas di sana. Bila melewati 30 menit, maka sistem akan memberi peringatan melalui data centre yang kemudian ditindaklanjuti tim lapangan.
“Selain TBS, IPC TPK juga mengembangkan berbagai inovasi digital melalui TOS Nusantara yang mengintegrasi data pergerakan peti kemas di bawah Pelindo Terminal Petikemas. Transformasi digital ini ditujukan agar layanan lebih cepat, transparan, dan mudah diakses pengguna jasa,” kata Guna.
Di tahun 2025, IPC TPK menjalankan inisiatif strategis seperti Penerapan Join Gate, Pembangunan Container Scanner, Standarisasi Operasi (Planning and Control), Implementasi sistem TOS Nusantara, Peningkatan Kompetensi dan Kapabilitas SDM serta Optimalisasi Aset.
IPC TPK menghadapi tantangan untuk menjaga Yard Occupancy Ratio (YOR) di bawah 65 persen di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai kebijakan otoritas pelabuhan. Pembatasan YOR ini bertujuan mencegah penumpukan antrean truk peti kemas yang dapat menghambat arus barang.
“Kami akan terus berfokus pada peningkatan layanan, membuka layanan tambahan rute, serta digitalisasi sehingga pelabuhan semakin efisien,” ujarnya.
Pada periode Januari - Juli 2025, IPC TPK mencatat kinerja positif. Arus peti kemas tercatat 2.009.185 TEUs. Capaian tersebut meningkat 15 persen dibanding periode yang sama di tahun 2024 sebesar 1.749.093 TEUs.
Peningkatan ini terjadi di sebagian besar Area Terminal IPC TPK meliputi Area Tanjung Priok secara keseluruhan meningkat 15,8 persen, Area Panjang mencatat peningkatan 31,1 persen, Area Palembang mengalami peningkatan 4 persen, Area Teluk Bayur meningkat 17,9 persen dan Area Pontianak mencatat peningkatan 6,8 persen.
Selain kinerja operasi, perusahaan juga memperkuat konektivitas dengan membuka rute pelayaran baru. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat 23 rute tambahan domestik dan internasional, termasuk ke China, Rusia, Oman, hingga Papua Nugini.
Direktur Utama IPC TPK Guna Mulyana mengatakan, langkah ini sebagai bentuk keseriusan pihaknya agar kejadian 17 April 2025 di kawasan pesisir Jakarta tak terulang kembali. “Sebuah sistem kami persiapan sebagai komitmen membenahi pelabuhan dan bongkar muat barang,” ujar Guna, Rabu (20/8/2025).
Sebelumnya, pada 17 April 2025 lalu kemacetan mengular terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Ribuan kontainer tersendat akibat volume aktivitas bongkar muat. Kondisi ini menyita perhatian sejumlah pihak mulai Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung hingga Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga: Macet Horor di Tanjung Priok Bikin Stres Sopir Angkot
Setelah kejadian pihaknya terus berbenah, aktivitas bongkar muat pun kini dibatasi tidak lebih dari 3.000 kontainer per harinya. Termasuk soal waktu tunggu, dia juga membuat aturan aktivitas maksimal 1 jam dan memonitoring bongkar muat baik secara digital, sistematis, hingga manual. “Hingga hari ini saja rata-rata waktu bongkar muat hanya 17 menit per kontainer,” ucapnya.
Lewat sistem ini, sopir kontainer akan diawasi melalui kartu get pass yang memonitoring aktivitas di sana. Bila melewati 30 menit, maka sistem akan memberi peringatan melalui data centre yang kemudian ditindaklanjuti tim lapangan.
“Selain TBS, IPC TPK juga mengembangkan berbagai inovasi digital melalui TOS Nusantara yang mengintegrasi data pergerakan peti kemas di bawah Pelindo Terminal Petikemas. Transformasi digital ini ditujukan agar layanan lebih cepat, transparan, dan mudah diakses pengguna jasa,” kata Guna.
Di tahun 2025, IPC TPK menjalankan inisiatif strategis seperti Penerapan Join Gate, Pembangunan Container Scanner, Standarisasi Operasi (Planning and Control), Implementasi sistem TOS Nusantara, Peningkatan Kompetensi dan Kapabilitas SDM serta Optimalisasi Aset.
IPC TPK menghadapi tantangan untuk menjaga Yard Occupancy Ratio (YOR) di bawah 65 persen di Pelabuhan Tanjung Priok sesuai kebijakan otoritas pelabuhan. Pembatasan YOR ini bertujuan mencegah penumpukan antrean truk peti kemas yang dapat menghambat arus barang.
“Kami akan terus berfokus pada peningkatan layanan, membuka layanan tambahan rute, serta digitalisasi sehingga pelabuhan semakin efisien,” ujarnya.
Pada periode Januari - Juli 2025, IPC TPK mencatat kinerja positif. Arus peti kemas tercatat 2.009.185 TEUs. Capaian tersebut meningkat 15 persen dibanding periode yang sama di tahun 2024 sebesar 1.749.093 TEUs.
Peningkatan ini terjadi di sebagian besar Area Terminal IPC TPK meliputi Area Tanjung Priok secara keseluruhan meningkat 15,8 persen, Area Panjang mencatat peningkatan 31,1 persen, Area Palembang mengalami peningkatan 4 persen, Area Teluk Bayur meningkat 17,9 persen dan Area Pontianak mencatat peningkatan 6,8 persen.
Selain kinerja operasi, perusahaan juga memperkuat konektivitas dengan membuka rute pelayaran baru. Dalam tiga tahun terakhir, tercatat 23 rute tambahan domestik dan internasional, termasuk ke China, Rusia, Oman, hingga Papua Nugini.
(jon)
Lihat Juga :