Festival Kali Brantas, Ruwatan Ekologis dan Doa untuk Sungai Jadi Event Pamungkas
Kamis, 31 Juli 2025 - 06:35 WIB
loading...
A
A
A
"Kami patut menghaturkan beribu terima kasih pada semua kampung tematik, para pengelola kampung, dan pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan event itu," imbuhnya.
Malam harinya, festival ditutup dengan ritual Nyadran Kali Brantas dan Ruwatan Wayang Topeng "Ronggeng Kali Brantas". Sebuah pentas seni sakral di tepi sungai sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan pemulihan ekologi sungai. Nyadran dipimpin oleh Ki Lelono dan Ibu Omie Solekhan, dengan tabur bunga dan atraksi penari Danyang, sebagai simbol permohonan keselamatan dari bencana banjir.
Kemudian dilanjutkan dengan ruwatan oleh Dalang Ki Dio Akbar, dimulai dari suluk, japa mantra, hingga tembang ruatan, lalu ditampilkan lakon "Ronggeng Tangis Kali Brantas", yang menggambarkan kesedihan sungai akibat rusaknya ekosistem akibat ulah manusia.
Makna mendalam Festival Kali Brantas #4 disampaikan oleh penggagas Festival sekaligus Ketua Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi. Ki Demang sapaan akrab Isa Wahyudi mengatakan, penampilan wayang topeng di pinggir kali Brantas ini adalah bentuk happening art yang menggabungkan ekspresi seni, spiritualitas, dan kepedulian ekologi.
"Wayang topeng ini adalah penggambaran tangisan dari Brantas, suara dari alam yang selama ini kita abaikan. Festival ini bukan hanya panggung hiburan, tapi ruang kontemplasi kolektif tentang hubungan manusia dengan air sebagai sumber kehidupan," terang Ki Demang.
Malam harinya, festival ditutup dengan ritual Nyadran Kali Brantas dan Ruwatan Wayang Topeng "Ronggeng Kali Brantas". Sebuah pentas seni sakral di tepi sungai sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan pemulihan ekologi sungai. Nyadran dipimpin oleh Ki Lelono dan Ibu Omie Solekhan, dengan tabur bunga dan atraksi penari Danyang, sebagai simbol permohonan keselamatan dari bencana banjir.
Kemudian dilanjutkan dengan ruwatan oleh Dalang Ki Dio Akbar, dimulai dari suluk, japa mantra, hingga tembang ruatan, lalu ditampilkan lakon "Ronggeng Tangis Kali Brantas", yang menggambarkan kesedihan sungai akibat rusaknya ekosistem akibat ulah manusia.
Makna mendalam Festival Kali Brantas #4 disampaikan oleh penggagas Festival sekaligus Ketua Pokdarwis Kota Malang, Isa Wahyudi. Ki Demang sapaan akrab Isa Wahyudi mengatakan, penampilan wayang topeng di pinggir kali Brantas ini adalah bentuk happening art yang menggabungkan ekspresi seni, spiritualitas, dan kepedulian ekologi.
"Wayang topeng ini adalah penggambaran tangisan dari Brantas, suara dari alam yang selama ini kita abaikan. Festival ini bukan hanya panggung hiburan, tapi ruang kontemplasi kolektif tentang hubungan manusia dengan air sebagai sumber kehidupan," terang Ki Demang.
Lihat Juga :