Jaga Stabilitas Pangan, 750 Sapi Impor Didatangkan ke Jakarta
Jum'at, 25 Juli 2025 - 23:14 WIB
loading...
Sebanyak 750 ekor sapi impor dari Australia didatangkan Perumda Dharma Jaya pada pertengahan Juli 2025. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sebanyak 750 ekor sapi impor dari Australia didatangkan Perumda Dharma Jaya pada pertengahan Juli 2025. Komitmen dalam menjaga ketahanan dan stabilitas pangan di Provinsi DKI Jakarta itu kembali direalisasikan.
Kedatangan ratusan sapi impor ini merupakan tahap kedua dari program pengadaan 5.000 ekor sapi impor yang ditargetkan terpenuhi sepanjang 2025. Total sapi impor sebanyak 1.250 ekor, kini berada di kandang penggemukan Dharma Jaya - Serang, Banten.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan, pengadaan 750 ekor sapi impor dari Australia ini merupakan bagian dari tahap kedua program pengadaan sapi pada 2025.
Baca juga: Perluas Jangkauan Pasar, Dharma Jaya Kembali Hadirkan Hub Channel Baru di Tangerang
“Kedatangan 750 ekor sapi ini merupakan pengiriman tahap kedua. Ratusan sapi ini akan melalui masa penggemukan selama tiga hingga empat bulan di kandang penggemukan kami di Serang, sebelum nantinya dijual dalam bentuk sapi hidup,” ujar Raditya dalam siaran persnya, Jumat (25/7/2025).
Dia menjelaskan, sapi yang datang pada tahap kedua ini terdiri dari 711 ekor jenis feeder steer dan bull, serta 39 ekor jenis productive heifer. Sapi ini diperuntukkan dijual sebagai sapi potong setelah penggemukan dan pengembangan.
"Sapi jenis feeder steer dan bull kami rawat dengan baik agar berat badannya bertambah setiap hari, sehingga nilai jualnya pun meningkat. Sementara sapi betina jenis productive heifer akan kami ternakkan dan kembangkan hingga empat kali masa produktifnya. Ini adalah bentuk komitmen Dharma Jaya untuk membantu meningkatkan populasi sapi di Indonesia," tuturnya.
Dia mengungkapkan, 500 ekor sapi impor tahap pertama yang telah digemukkan, semua berjenis feeder steer dan bull sudah laku terjual. Sementara 750 ekor pada tahap kedua juga sudah bisa dipesan, meski masih menunggu proses penggemukan.
"Sapi impor tahap pertama sudah laku terjual. Kami punya sekitar 10 pelanggan tetap dari RPH di Cakung, Serang, Bogor, dan Sukabumi. Tiap pelanggan bisa pesan hingga 50 ekor per bulan. Jadi begitu proses penggemukan selesai, sapi langsung dikirim karena semuanya sudah dipesan," jelasnya.
Direktur Bisnis Perumda Dharma Jaya Irwan Nusyirwan, menegaskan bahwa penggemukan sapi bukan sekadar jual-beli. Proses ini meningkatkan berat badan sapi secara optimal, menambah nilai jual, serta ikut membuka lapangan kerja dan mendorong ekonomi lokal.
“Setiap proses penggemukan melibatkan pembelian pakan ternak, menyerap tenaga kerja untuk merawat sapi, hingga distribusi sapi tersebut. Hal ini membuat efek berganda pada ekonomi di wilayah sekitar kandang penggemukan. Jadi ekonominya benar-benar bertumbuh,” kata Irwan.
Dia menambahkan pengiriman sapi impor dari Australia tahap ketiga akan tiba di Jakarta pada awal September, kemudian langsung dibawa ke kandang penggemukan di Serang yang memiliki kapasitas penampungan hingga 3.000 ekor sapi.
“Pengiriman dilakukan bertahap agar proses penggemukan berjalan optimal dan distribusi ke pasar lebih terkendali. Dengan begitu, kita dapat memastikan stok daging sapi selalu tersedia dan stabil,” pungkasnya.
Kedatangan ratusan sapi impor ini merupakan tahap kedua dari program pengadaan 5.000 ekor sapi impor yang ditargetkan terpenuhi sepanjang 2025. Total sapi impor sebanyak 1.250 ekor, kini berada di kandang penggemukan Dharma Jaya - Serang, Banten.
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan, pengadaan 750 ekor sapi impor dari Australia ini merupakan bagian dari tahap kedua program pengadaan sapi pada 2025.
Baca juga: Perluas Jangkauan Pasar, Dharma Jaya Kembali Hadirkan Hub Channel Baru di Tangerang
“Kedatangan 750 ekor sapi ini merupakan pengiriman tahap kedua. Ratusan sapi ini akan melalui masa penggemukan selama tiga hingga empat bulan di kandang penggemukan kami di Serang, sebelum nantinya dijual dalam bentuk sapi hidup,” ujar Raditya dalam siaran persnya, Jumat (25/7/2025).
Dia menjelaskan, sapi yang datang pada tahap kedua ini terdiri dari 711 ekor jenis feeder steer dan bull, serta 39 ekor jenis productive heifer. Sapi ini diperuntukkan dijual sebagai sapi potong setelah penggemukan dan pengembangan.
"Sapi jenis feeder steer dan bull kami rawat dengan baik agar berat badannya bertambah setiap hari, sehingga nilai jualnya pun meningkat. Sementara sapi betina jenis productive heifer akan kami ternakkan dan kembangkan hingga empat kali masa produktifnya. Ini adalah bentuk komitmen Dharma Jaya untuk membantu meningkatkan populasi sapi di Indonesia," tuturnya.
Dia mengungkapkan, 500 ekor sapi impor tahap pertama yang telah digemukkan, semua berjenis feeder steer dan bull sudah laku terjual. Sementara 750 ekor pada tahap kedua juga sudah bisa dipesan, meski masih menunggu proses penggemukan.
"Sapi impor tahap pertama sudah laku terjual. Kami punya sekitar 10 pelanggan tetap dari RPH di Cakung, Serang, Bogor, dan Sukabumi. Tiap pelanggan bisa pesan hingga 50 ekor per bulan. Jadi begitu proses penggemukan selesai, sapi langsung dikirim karena semuanya sudah dipesan," jelasnya.
Direktur Bisnis Perumda Dharma Jaya Irwan Nusyirwan, menegaskan bahwa penggemukan sapi bukan sekadar jual-beli. Proses ini meningkatkan berat badan sapi secara optimal, menambah nilai jual, serta ikut membuka lapangan kerja dan mendorong ekonomi lokal.
“Setiap proses penggemukan melibatkan pembelian pakan ternak, menyerap tenaga kerja untuk merawat sapi, hingga distribusi sapi tersebut. Hal ini membuat efek berganda pada ekonomi di wilayah sekitar kandang penggemukan. Jadi ekonominya benar-benar bertumbuh,” kata Irwan.
Dia menambahkan pengiriman sapi impor dari Australia tahap ketiga akan tiba di Jakarta pada awal September, kemudian langsung dibawa ke kandang penggemukan di Serang yang memiliki kapasitas penampungan hingga 3.000 ekor sapi.
“Pengiriman dilakukan bertahap agar proses penggemukan berjalan optimal dan distribusi ke pasar lebih terkendali. Dengan begitu, kita dapat memastikan stok daging sapi selalu tersedia dan stabil,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :