Bak Fir'aun, Raja Kediri Minta Pemuka Agama dan Rakyatnya Menyembah Berujung Petaka
Kamis, 24 Juli 2025 - 06:29 WIB
loading...
Permintaan Kertajaya, Raja Kediri untuk disembah seperti Tuhan, layaknya kisah Firaun menjadi awal petaka. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Permintaan Kertajaya, Raja Kediri untuk disembah seperti Tuhan, layaknya kisah Fir'aun menjadi awal petaka. Para pemuka agama di wilayah Kerajaan Kediri mulai gerah dan menjadi puncak kemarahan mereka. Apalagi sifat dari Kertajaya dianggap memerintah dengan arogan.
Sikap inilah yang juga memicu kontroversi dan ditentang oleh pemuka agama hingga beberapa rakyatnya. Tapi sikap Kertajaya sudah terlanjur tak lagi bisa dikontrol, hingga memberikan hukuman mati kepada brahmana atau pemuka agama yang menolak menyembahnya.
Kondisi keamanan inilah yang akhirnya membuat kaum brahmana pergi dari Kediri ke Tumapel. Akibat ulah dan sifat rajanya, membuat karut marut Kerajaan Kediri kian tinggi. Keamanan di Kediri mulai terganggu dan tidak stabil. Alhasil kaum brahmana Kediri berpisah untuk menghindari Kerajaan Kediri.
Baca juga: Rayuan Ken Arok ke Pemuka Agama Kediri saat Berkonflik dengan Raja Kertajaya
Sebagian besar dari mereka berbondong-bondong meminta suaka politik ke Ken Arok, dan tinggal di Tumapel. Singkat cerita kaum brahmana meminta tolong ke Ken Arok yang berhasil menggulingkan pemerintahan Tunggul Ametung, untuk mengembalikan marwah agama, sebagaimana dikisahkan pada "Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan" dikutip SindoNews, Kamis (24/7/2025).
Ken Arok yang kala itu menjadi penguasa Tumapel bergelar Abhiseka Rajasa Sang Amurwabhumi ini menerima kaum brahmana dengan senang hati. Menurut Ken Arok, ia dan kaum brahmana memiliki hubungan yang kuat. Apalagi masa kecil Ken Arok pernah berguru ke dua brahmana Mahaguru Tantripala dan Lohgawe. Sehingga Ken Arok yang datang dari golongan sudra amat menghargai dan hormat kepada brahmana.
Baca juga: Syahwat Penguasa Tumapel Melihat Kecantikan Ken Dedes hingga Paksa Menikahinya
Oleh kaum brahmana dari Kediri dan Tumapel pun Ken Arok dianugerahi gelar Batara Guru dan titisan Dewa Syiwa. Ken Arok oleh kaum brahmana dipandang sebagai manifestasi Dewa Syiwa di muka bumi. Gelar ini dipandang sebagai usaha melegitimasi dan dukungan moral kaum brahmana ke Ken Arok untuk kembali membalikkan marwah agama Hindu, selain tentu untuk mengalahkan Raja Kertajaya.
Kaum brahmana pun turut melakukan provokasi kepada rakyat agar tak patuh kepada pemimpin yang menistakan agama. Sontak saja karena panggilan agama inilah akhirnya rakyat Kediri turut memberikan perlawanan kepada pemimpinnya sendiri.
Sebab yang memerintahkan hal itu adalah kaum brahmana yang dipandang rakyat sosok suci, mereka pun patuh. Rakyat Kediri akhirnya balik mendukung brahmana dan Ken Arok untuk mengalahkan Raja Kertajaya. Mereka atas seruan kaum brahmana ikut andil terjun ke medan pertempuran untuk melawan pemimpinnya, Kertajaya.
Pasukan pun terkumpul, strategi pun disusun. Hal ini membuat Tumapel memiliki kesiapan sewaktu - waktu untuk menyerbu Kerajaan Kediri. Apalagi sebagian besar rakyat Kediri juga mulai muak dengan ulah sang Raja Kertajaya.
Kabar ini pun akhirnya sampai ke telinga Raja Kertajaya, hal ini membuat raja terakhir Kerajaan Kediri ini menyiapkan pasukan untuk berperang melawan Tumapel. Kesiapan Tumapel dibawah komando Ken Arok ternyata lebih tinggi.
Hal ini membuat Kerajaan Kediri yang berperang di Genter kalah. Banyak pasukan Kerajaan Kediri yang tewas, termasuk dua panglima tertinggi Kerajaan Kediri Mahesa Wulungan dan Geber Baleman, yang tewas di tangan Ken Arok dan bala tentaranya.
Kediri pun berhasil ditaklukkan Tumapel, secara otomatis wilayah Kediri masuk dalam kekuasaan Tumapel. Seiring perkembangan waktu Tumapel, akhirnya mengubah namanya menjadi Singasari. Dari sinilah akhirnya Kediri menjadi salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Kendati telah takluk, Ken Arok tak membunuh seluruh anggota Kerajaan Kediri yang menyerah. Beberapa anggota Kerajaan Kediri dibiarkan hidup oleh Ken Arok, bahkan diberikan jabatan oleh Ken Arok. Salah satunya adalah anak Kertajaya yakni Jayasabha, yang diangkat sebagai adipati atau bupati di wilayah Kediri.
Sikap inilah yang juga memicu kontroversi dan ditentang oleh pemuka agama hingga beberapa rakyatnya. Tapi sikap Kertajaya sudah terlanjur tak lagi bisa dikontrol, hingga memberikan hukuman mati kepada brahmana atau pemuka agama yang menolak menyembahnya.
Kondisi keamanan inilah yang akhirnya membuat kaum brahmana pergi dari Kediri ke Tumapel. Akibat ulah dan sifat rajanya, membuat karut marut Kerajaan Kediri kian tinggi. Keamanan di Kediri mulai terganggu dan tidak stabil. Alhasil kaum brahmana Kediri berpisah untuk menghindari Kerajaan Kediri.
Baca juga: Rayuan Ken Arok ke Pemuka Agama Kediri saat Berkonflik dengan Raja Kertajaya
Sebagian besar dari mereka berbondong-bondong meminta suaka politik ke Ken Arok, dan tinggal di Tumapel. Singkat cerita kaum brahmana meminta tolong ke Ken Arok yang berhasil menggulingkan pemerintahan Tunggul Ametung, untuk mengembalikan marwah agama, sebagaimana dikisahkan pada "Hitam Putih Ken Arok dari Kejayaan hingga Keruntuhan" dikutip SindoNews, Kamis (24/7/2025).
Ken Arok yang kala itu menjadi penguasa Tumapel bergelar Abhiseka Rajasa Sang Amurwabhumi ini menerima kaum brahmana dengan senang hati. Menurut Ken Arok, ia dan kaum brahmana memiliki hubungan yang kuat. Apalagi masa kecil Ken Arok pernah berguru ke dua brahmana Mahaguru Tantripala dan Lohgawe. Sehingga Ken Arok yang datang dari golongan sudra amat menghargai dan hormat kepada brahmana.
Baca juga: Syahwat Penguasa Tumapel Melihat Kecantikan Ken Dedes hingga Paksa Menikahinya
Oleh kaum brahmana dari Kediri dan Tumapel pun Ken Arok dianugerahi gelar Batara Guru dan titisan Dewa Syiwa. Ken Arok oleh kaum brahmana dipandang sebagai manifestasi Dewa Syiwa di muka bumi. Gelar ini dipandang sebagai usaha melegitimasi dan dukungan moral kaum brahmana ke Ken Arok untuk kembali membalikkan marwah agama Hindu, selain tentu untuk mengalahkan Raja Kertajaya.
Kaum brahmana pun turut melakukan provokasi kepada rakyat agar tak patuh kepada pemimpin yang menistakan agama. Sontak saja karena panggilan agama inilah akhirnya rakyat Kediri turut memberikan perlawanan kepada pemimpinnya sendiri.
Sebab yang memerintahkan hal itu adalah kaum brahmana yang dipandang rakyat sosok suci, mereka pun patuh. Rakyat Kediri akhirnya balik mendukung brahmana dan Ken Arok untuk mengalahkan Raja Kertajaya. Mereka atas seruan kaum brahmana ikut andil terjun ke medan pertempuran untuk melawan pemimpinnya, Kertajaya.
Pasukan pun terkumpul, strategi pun disusun. Hal ini membuat Tumapel memiliki kesiapan sewaktu - waktu untuk menyerbu Kerajaan Kediri. Apalagi sebagian besar rakyat Kediri juga mulai muak dengan ulah sang Raja Kertajaya.
Kabar ini pun akhirnya sampai ke telinga Raja Kertajaya, hal ini membuat raja terakhir Kerajaan Kediri ini menyiapkan pasukan untuk berperang melawan Tumapel. Kesiapan Tumapel dibawah komando Ken Arok ternyata lebih tinggi.
Hal ini membuat Kerajaan Kediri yang berperang di Genter kalah. Banyak pasukan Kerajaan Kediri yang tewas, termasuk dua panglima tertinggi Kerajaan Kediri Mahesa Wulungan dan Geber Baleman, yang tewas di tangan Ken Arok dan bala tentaranya.
Kediri pun berhasil ditaklukkan Tumapel, secara otomatis wilayah Kediri masuk dalam kekuasaan Tumapel. Seiring perkembangan waktu Tumapel, akhirnya mengubah namanya menjadi Singasari. Dari sinilah akhirnya Kediri menjadi salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Kendati telah takluk, Ken Arok tak membunuh seluruh anggota Kerajaan Kediri yang menyerah. Beberapa anggota Kerajaan Kediri dibiarkan hidup oleh Ken Arok, bahkan diberikan jabatan oleh Ken Arok. Salah satunya adalah anak Kertajaya yakni Jayasabha, yang diangkat sebagai adipati atau bupati di wilayah Kediri.
(cip)
Lihat Juga :