Doktor UI Kembangkan Model Edukasi K3 Turunkan Angka Kecelakaan dan Penyakit Pekerja Sawit
Jum'at, 11 Juli 2025 - 13:17 WIB
loading...
Sidang Promosi Doktor Yusef Dwi Jayadi digelar di Aula Gedung G Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Foto/Ist
A
A
A
DEPOK - Sidang Promosi Doktor Yusef Dwi Jayadi digelar di Aula Gedung G Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada Senin, 23 Juni 2025. Sidang ini menjadi momen penting bagi FKM UI karena kembali melahirkan seorang Doktor dari Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Dalam sidang tersebut, Yusef berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pengembangan Model Edukasi K3 sebagai Upaya Pencegahan Kejadian Kecelakaan Kerja dan Penyakit pada Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit" dengan predikat cum laude dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90. Diketahui K3 merupakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Baca juga: Guru Besar FKM UI Raih Penghargaan K3 Dunia
Capaian ini mencerminkan dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di sektor ketenagakerjaan.
Peneliti promovendus Yusef Dwi Jayadi dilakukan di bawah bimbingan dari Prof. Robiana Modjo sebagai promotor, serta didukung dua ko-promotor, yaitu Prof. Fatma Lestari, dan Mila Tejamaya Ph.D.
Sidang promosi dihadiri tim penguji yang terdiri dari Prof Sabarinah Prasetyo; Prof. Sandra Fikawati; Dr. Sugiarti; Dr Sudi Astono; dan Dr Heny Mayawati.
Baca juga: Implementasi Aspek K3 Terkendala Kebijakan Perusahaan
![Doktor UI Kembangkan Model Edukasi K3 Turunkan Angka Kecelakaan dan Penyakit Pekerja Sawit]()
Foto/Ist
PenelitianYusef Dwi Jayadi berangkat dari kondisi keselamatan kerja di sektor perkebunan kelapa sawit.
“Pada tahun 2023, sektor perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 60,5 persen, dengan ten peningkatan tahunan sebesar 18 hingga 20 persen. Dua faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kecelakaan dan penyakit kerja di sektor ini adalah belum optimalnya penyelenggaraan Sistem Manajemen K3 di Perusahaan serta rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran para pekerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Untuk menjawab permasalahan ini, Yusef merancang sebuah model edukasi K3 dengan intervensi yang terstruktur melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit.” ujar Yusef kepada wartawan, Jumat (11/7/2025).
“Modul Edukasi K3 merupakan panduan pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memberikan informasi mengenai penerapan K3, termasuk risiko dan kondisi kerja di sektor perkebunan kelapa sawit,” sambungnya.
Selain itu Yusef juga membentuk Kader Sawit yang menjadi agen edukasi dalam menyampaikan berbagai informasi dan materi pembelajaran seputar keselamatan dan kesehatan kerja. Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit ini merupakan sebuah kombinasi baru dalam Model Edukasi K3 yang dikembangkan Yusef untuk mengatasi lack of knowledge dari para pekerja sawit.
“Model ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pada pekerja di industri sawit. Model Edukasi K3 ini telah resmi didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Kementerian Hukum Republik Indonesia,” ujarnya.
Hasil penelitian Yusef Dwi Jayadi menunjukkan bahwa intervensi edukasi K3 yang dikembangkan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja di sektor perkebunan.
Skor pengetahuan meningkat dari 38,68 menjadi 50,60; sikap dari 61,87 menjadi 68,13; dan perilaku dari 25,38 menjadi 30,53. Rata-rata peningkatan dalam kelompok intervensi tercatat 7,4 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Tak hanya itu, angka kecelakaan kerja berhasil ditekan secara drastis dari 66,7 persen menjadi hanya 10 persen, sementara kejadian penyakit kerja turn dari 43,3 persen menjadi 33,3 persen setelah intervensi dilakukan.
Yusef Dwi Jayadi lahir di Pematang Panjang pada tahun 1991 dari latar belakang keluarga sederhana yang tinggal dipinggiran sungai Seruyan Kalimantan Tengah dengan orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang ikan dan sembako. Saat ini Yusef menjabat sebagai Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Lamandau.
Tidak hanya mencatatkan prestasi melalui disertasinya, tetapi juga menerbitkan buku berjudul Edukasi K3 Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit, yang telah dipublikasikan sebagai E-book nasional ber-ISBN pada tahun 2025.
“Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam penguatan budaya keselamatan kerja di sektor perkebunan Indonesia, serta memperluas dampak keilmuan dari hail penelitian,” sebutnya.
Yusef Dwi Jayadi merekomendasikan agar pemerintah menetapkan K3 di sektor perkebunan kelapa sawit sebagai prioritas nasional melalui penegakan kepatuhan dan pengawasan terpadu. Perusahaan sawit diharapkan mengimplementasikan program in secara berkelanjutan dengan membentuk unit khusus, mengintegrasikan edukasi K3 dalam P2K3, serta menjadikannya sebagai kebijakan wajib.
“Di tingkat pekerja, model edukasi K3 perlu dijalankan secara rutin melalui pendampingan kader dan pemanfaatan modul untuk membentuk budaya kerja yang sehat dan aman,” ungkapnya.
Dia juga menyarankan adanya penelitian lanjutan untuk menyesuaikan modul dengan job desk, menambah mater akses layanan kesehatan, memperluas kaderisasi berbasis peer education, serta mengembangkan pelatihan kader melalui program ToT oleh Tim Ahli K3.
Dalam sidang tersebut, Yusef berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pengembangan Model Edukasi K3 sebagai Upaya Pencegahan Kejadian Kecelakaan Kerja dan Penyakit pada Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit" dengan predikat cum laude dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90. Diketahui K3 merupakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Baca juga: Guru Besar FKM UI Raih Penghargaan K3 Dunia
Capaian ini mencerminkan dedikasi dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu kesehatan masyarakat di sektor ketenagakerjaan.
Peneliti promovendus Yusef Dwi Jayadi dilakukan di bawah bimbingan dari Prof. Robiana Modjo sebagai promotor, serta didukung dua ko-promotor, yaitu Prof. Fatma Lestari, dan Mila Tejamaya Ph.D.
Sidang promosi dihadiri tim penguji yang terdiri dari Prof Sabarinah Prasetyo; Prof. Sandra Fikawati; Dr. Sugiarti; Dr Sudi Astono; dan Dr Heny Mayawati.
Baca juga: Implementasi Aspek K3 Terkendala Kebijakan Perusahaan
%20Universitas%20Indonesia%20(UI)%2C%20Depok%20(Oke2).jpg)
Foto/Ist
PenelitianYusef Dwi Jayadi berangkat dari kondisi keselamatan kerja di sektor perkebunan kelapa sawit.
“Pada tahun 2023, sektor perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 60,5 persen, dengan ten peningkatan tahunan sebesar 18 hingga 20 persen. Dua faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kecelakaan dan penyakit kerja di sektor ini adalah belum optimalnya penyelenggaraan Sistem Manajemen K3 di Perusahaan serta rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran para pekerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Untuk menjawab permasalahan ini, Yusef merancang sebuah model edukasi K3 dengan intervensi yang terstruktur melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit.” ujar Yusef kepada wartawan, Jumat (11/7/2025).
“Modul Edukasi K3 merupakan panduan pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memberikan informasi mengenai penerapan K3, termasuk risiko dan kondisi kerja di sektor perkebunan kelapa sawit,” sambungnya.
Selain itu Yusef juga membentuk Kader Sawit yang menjadi agen edukasi dalam menyampaikan berbagai informasi dan materi pembelajaran seputar keselamatan dan kesehatan kerja. Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit ini merupakan sebuah kombinasi baru dalam Model Edukasi K3 yang dikembangkan Yusef untuk mengatasi lack of knowledge dari para pekerja sawit.
“Model ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pada pekerja di industri sawit. Model Edukasi K3 ini telah resmi didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Kementerian Hukum Republik Indonesia,” ujarnya.
Hasil penelitian Yusef Dwi Jayadi menunjukkan bahwa intervensi edukasi K3 yang dikembangkan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja di sektor perkebunan.
Skor pengetahuan meningkat dari 38,68 menjadi 50,60; sikap dari 61,87 menjadi 68,13; dan perilaku dari 25,38 menjadi 30,53. Rata-rata peningkatan dalam kelompok intervensi tercatat 7,4 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Tak hanya itu, angka kecelakaan kerja berhasil ditekan secara drastis dari 66,7 persen menjadi hanya 10 persen, sementara kejadian penyakit kerja turn dari 43,3 persen menjadi 33,3 persen setelah intervensi dilakukan.
Yusef Dwi Jayadi lahir di Pematang Panjang pada tahun 1991 dari latar belakang keluarga sederhana yang tinggal dipinggiran sungai Seruyan Kalimantan Tengah dengan orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang ikan dan sembako. Saat ini Yusef menjabat sebagai Kepala BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Lamandau.
Tidak hanya mencatatkan prestasi melalui disertasinya, tetapi juga menerbitkan buku berjudul Edukasi K3 Pekerja Perkebunan Kelapa Sawit, yang telah dipublikasikan sebagai E-book nasional ber-ISBN pada tahun 2025.
“Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam penguatan budaya keselamatan kerja di sektor perkebunan Indonesia, serta memperluas dampak keilmuan dari hail penelitian,” sebutnya.
Yusef Dwi Jayadi merekomendasikan agar pemerintah menetapkan K3 di sektor perkebunan kelapa sawit sebagai prioritas nasional melalui penegakan kepatuhan dan pengawasan terpadu. Perusahaan sawit diharapkan mengimplementasikan program in secara berkelanjutan dengan membentuk unit khusus, mengintegrasikan edukasi K3 dalam P2K3, serta menjadikannya sebagai kebijakan wajib.
“Di tingkat pekerja, model edukasi K3 perlu dijalankan secara rutin melalui pendampingan kader dan pemanfaatan modul untuk membentuk budaya kerja yang sehat dan aman,” ungkapnya.
Dia juga menyarankan adanya penelitian lanjutan untuk menyesuaikan modul dengan job desk, menambah mater akses layanan kesehatan, memperluas kaderisasi berbasis peer education, serta mengembangkan pelatihan kader melalui program ToT oleh Tim Ahli K3.
(shf)
Lihat Juga :