1.000 Hari Keluarga Paulus Iwan Boedi Menunggu Polisi Tanpa Kejelasan
Selasa, 08 Juli 2025 - 09:03 WIB
loading...
Misa Arwah Peringatan 1.000 Hari Paulus Iwan Boedi Prasetijo di Gereja St. Maria Fatima Banyumanik, Kota Semarang, Senin 7 Juli 2025 malam. Foto/Eka Setiawan
A
A
A
SEMARANG - 1.000 hari sudah keluarga Paulus Iwan Boedi Prasetijo menunggu polisi tanpa kejelasan kapan pelaku pembunuhan seorang ASN di lingkungan Bapenda Kota Semarang itu diungkap. Istrinya Onee Anggrawati dan keluarga besarnya menyelenggarakan Misa Arwah Peringatan 1.000 Hari Paulus Iwan Boedi Prasetijo di Gereja St. Maria Fatima Banyumanik, Senin 7 Juli 2025 malam.
Misa yang dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. “Saya tidak pernah meminta kehilangan ini terjadi, tidak ada isyarat apa pun, tidak ada pesan. Saya cuma bisa bertanya, Tuhan, saya harus bagaimana? Saya ini keluarga gereja,” kata Onee di atas altar, Senin malam.
Dengan suara bergetar, Onee juga menceritakan, sebab sudah menempuh banyak jalur kasus tak kunjung terungkap, dia sampai linglung. “Sampai hari ini belum ada titik terang,” kata dia.
![1.000 Hari Keluarga Paulus Iwan Boedi Menunggu Polisi Tanpa Kejelasan]()
Baca juga: Minta Keadilan Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Iwan Budi, Keluarga Mengadu ke Presiden Jokowi
“Kepada aparat polisi, bekerjalah, berkarya dan dapat menyelesaikan kasus ini dengan bimbingan Tuhan,” sambungnya.
Koordinator Acara Misa Arwah Edy Nugroho mengemukakan dirinya diminta pihak keluarga untuk menggelar acara ini.
“Kami mendoakan untuk kedamaian jiwa Paulus Iwan. Hanya itu, perkara yang lain-lain sudah ada yang menangani, tugas aparat. Kami tentu berharap kasus ini terungkap, siapa yang melakukan itu (pembunuhan), selama ini kan kita nggak ngerti, sekaligus kalau ketemu (pelakunya) motifnya apa, kan itu!” kata Edy.
Baca juga: Isak Tangis Iringi Pemakaman Iwan, ASN Semarang Korban Pembunuhan Mutilasi dan Pembakaran
Kuasa hukum keluarga korban, Yunantyo Adi Setiawan alias Yas mengemukakan peringatan 1.000 hari ini membangkitkan memori ada pekerjaan rumah yang jadi kewajiban negara yang sampai sekarang belum tuntas.
“Prinsipnya Iwan itu adalah saksi, negara gagal melindungi Iwan Boedi sebagai saksi sehingga dia hilang dan ditemukan jenazahnya. Dalam koridor negara gagal melindungi Iwan sebagai saksi ini adalah pelanggaran HAM. Kejahatan kemanusiaan,” kata Yas.
“Point kedua, jangan sampai negara sudah gagal melindungi Iwan sebagai saksi, kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal jangan sampai pelakunya nggak terungkap. Sudah gagal melindungi sebagai saksi, gagal pula mengungkap pelakunya, repot itu!” tegasnya.
Pihaknya, sebut Yas, meyakini pembunuhan Iwan Boedi itu terkait dengan dugaan kasus korupsi yang hendak diungkap oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng. Perkaranya adalah dugaan penyimpangan atas 8 bidang lahan fasum/fasos di Kelurahan Pesantren dan Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
“Saat itu dipanggil bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi yang mengetahui atau menyimpan informasi penting,” lanjut Yas.
Yas mengungkapkan Polda Jateng masih berupaya mengungkap kasus ini. “Terbaru, kami sudah berkoordinasi dengan Dir (Direktur Reskrimum Polda Jateng), ada sejumlah perkembangan, detailnya mungkin silakan ditanyakan ke Direktur,” ungkapnya.
Iwan sedianya akan hadir memberikan keterangan kepada penyidik pada Kamis 25 Agustus 2022. Namun, sehari sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya. Sempat berpamitan berangkat kerja ke Pemkot Semarang, namun tak kunjung pulang.
Setelah dilakukan berbagai pencarian, ternyata ditemukan sudah meninggal dunia di Kawasan Marina Kota Semarang pada 8 September 2022. Kondisinya hangus terbakar dan kepalanya hingga saat ini belum ditemukan.
Sepeda motor Iwan dan aneka barang lain juga ditemukan di dekat Tempat Kejadian Perkara (TKP) penemuan jenazah itu. Polisi memastikan kondisi jenazah hangus terbakar tak utuh itu adalah Iwan Budi dari hasil pemeriksaan DNA.
Keluarga dan kuasa hukum sudah menempuh berbagai upaya, di antaranya; menyurati Presiden Jokowi pada 3 November 2022, menyurati Kapolri Jenderal Listyo Sigit, mengadu ke Kompolnas, meminta perlindungan LPSK hingga Komnas HAM. Namun, belum ada hasil menggembirakan.
Pihak keluarga juga menggelar penyelidikan internal atas kasus ini, berharap temuan-temuan di lapangan bisa membantu aparat mengungkap kasus tersebut.
Misa yang dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. “Saya tidak pernah meminta kehilangan ini terjadi, tidak ada isyarat apa pun, tidak ada pesan. Saya cuma bisa bertanya, Tuhan, saya harus bagaimana? Saya ini keluarga gereja,” kata Onee di atas altar, Senin malam.
Dengan suara bergetar, Onee juga menceritakan, sebab sudah menempuh banyak jalur kasus tak kunjung terungkap, dia sampai linglung. “Sampai hari ini belum ada titik terang,” kata dia.

Baca juga: Minta Keadilan Kasus Pembunuhan dan Mutilasi Iwan Budi, Keluarga Mengadu ke Presiden Jokowi
“Kepada aparat polisi, bekerjalah, berkarya dan dapat menyelesaikan kasus ini dengan bimbingan Tuhan,” sambungnya.
Koordinator Acara Misa Arwah Edy Nugroho mengemukakan dirinya diminta pihak keluarga untuk menggelar acara ini.
“Kami mendoakan untuk kedamaian jiwa Paulus Iwan. Hanya itu, perkara yang lain-lain sudah ada yang menangani, tugas aparat. Kami tentu berharap kasus ini terungkap, siapa yang melakukan itu (pembunuhan), selama ini kan kita nggak ngerti, sekaligus kalau ketemu (pelakunya) motifnya apa, kan itu!” kata Edy.
Baca juga: Isak Tangis Iringi Pemakaman Iwan, ASN Semarang Korban Pembunuhan Mutilasi dan Pembakaran
Kuasa hukum keluarga korban, Yunantyo Adi Setiawan alias Yas mengemukakan peringatan 1.000 hari ini membangkitkan memori ada pekerjaan rumah yang jadi kewajiban negara yang sampai sekarang belum tuntas.
“Prinsipnya Iwan itu adalah saksi, negara gagal melindungi Iwan Boedi sebagai saksi sehingga dia hilang dan ditemukan jenazahnya. Dalam koridor negara gagal melindungi Iwan sebagai saksi ini adalah pelanggaran HAM. Kejahatan kemanusiaan,” kata Yas.
“Point kedua, jangan sampai negara sudah gagal melindungi Iwan sebagai saksi, kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal jangan sampai pelakunya nggak terungkap. Sudah gagal melindungi sebagai saksi, gagal pula mengungkap pelakunya, repot itu!” tegasnya.
Pihaknya, sebut Yas, meyakini pembunuhan Iwan Boedi itu terkait dengan dugaan kasus korupsi yang hendak diungkap oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng. Perkaranya adalah dugaan penyimpangan atas 8 bidang lahan fasum/fasos di Kelurahan Pesantren dan Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
“Saat itu dipanggil bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi yang mengetahui atau menyimpan informasi penting,” lanjut Yas.
Yas mengungkapkan Polda Jateng masih berupaya mengungkap kasus ini. “Terbaru, kami sudah berkoordinasi dengan Dir (Direktur Reskrimum Polda Jateng), ada sejumlah perkembangan, detailnya mungkin silakan ditanyakan ke Direktur,” ungkapnya.
Iwan sedianya akan hadir memberikan keterangan kepada penyidik pada Kamis 25 Agustus 2022. Namun, sehari sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya. Sempat berpamitan berangkat kerja ke Pemkot Semarang, namun tak kunjung pulang.
Setelah dilakukan berbagai pencarian, ternyata ditemukan sudah meninggal dunia di Kawasan Marina Kota Semarang pada 8 September 2022. Kondisinya hangus terbakar dan kepalanya hingga saat ini belum ditemukan.
Sepeda motor Iwan dan aneka barang lain juga ditemukan di dekat Tempat Kejadian Perkara (TKP) penemuan jenazah itu. Polisi memastikan kondisi jenazah hangus terbakar tak utuh itu adalah Iwan Budi dari hasil pemeriksaan DNA.
Keluarga dan kuasa hukum sudah menempuh berbagai upaya, di antaranya; menyurati Presiden Jokowi pada 3 November 2022, menyurati Kapolri Jenderal Listyo Sigit, mengadu ke Kompolnas, meminta perlindungan LPSK hingga Komnas HAM. Namun, belum ada hasil menggembirakan.
Pihak keluarga juga menggelar penyelidikan internal atas kasus ini, berharap temuan-temuan di lapangan bisa membantu aparat mengungkap kasus tersebut.
(rca)
Lihat Juga :