Puluhan Montir dari Berbagai Daerah Dapat Pelatihan Konversi Kendaraan BBG di Bekasi
Selasa, 01 Juli 2025 - 16:41 WIB
loading...
Sebanyak 20 montir mendapatkan program Pelatihan Teknisi Konversi dan Pemeliharaan Kendaraan BBG yang resmi dimulai, Senin (30/6/2025) di Grand Caman Hotel Bekasi. Foto: Ist
A
A
A
BEKASI - Sebanyak 20 montir yang berasal dari berbagai kota seperti Batam, Balikpapan, Lampung, Semarang, dan Bandung mendapatkan program Pelatihan Teknisi Konversi dan Pemeliharaan Kendaraan Bahan Bakar Gas (BBG) yang resmi dimulai, Senin (30/6/2025) di Grand Caman Hotel Bekasi. Pelatihan ini juga diikuti mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas 17 Agustus 1945.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PGN yang bekerja sama dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas). Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknisi konversi kendaraan BBG di berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: PGN Gandeng Mitra Ojek Online Sukseskan Pilot Project Konversi BBG Sepeda Motor
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Gas Negara (PGN) Fajriyah Usman mengatakan, pelatihan ini dirancang untuk membekali para teknisi dengan pemahaman teknis terkait proses konversi kendaraan dari bahan bakar minyak ke gas (CNG) sekaligus aspek perawatan dan keselamatan.
“Melalui pelatihan ini kami berharap lahir teknisi-teknisi BBG yang kompeten, sehingga adopsi kendaraan berbahan bakar gas dapat semakin luas. Upaya pengurangan emisi dan efisiensi biaya operasional transportasi bisa semakin optimal,” ujar Fajriyah, Selasa (1/7/2025).
Melalui pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan yang lebih baik bagi para peserta terkait energi terbarukan yakni BBG. Kemudian, membuat montir menjadi lebih mandiri dan memiliki efek berkelanjutan.
“Keberadaan teknisi BBG yang andal sangat penting untuk mendukung keberlanjutan ekosistem kendaraan berbahan bakar gas mengingat masih terbatasnya jumlah teknisi terlatih di berbagai daerah. Diharapkan proses konversi kendaraan BBG dapat dipercepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas,” kata Fajriyah.
Direktur Utama Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan menyatakan pelatihan ini juga mendukung optimalisasi infrastruktur dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan jumlah kendaraan berbahan bakar gas juga mendukung optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) milik PGN di seluruh Indonesia.
"Melalui pelatihan teknisi ini, kami berharap konversi kendaraan BBG dapat berjalan lebih cepat, aman, dan sesuai standar. Dengan biaya BBG yang lebih terjangkau dibandingkan BBM bersubsidi, masyarakat bisa menikmati penghematan signifikan sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi," katanya.
Ketua Komunitas Mobil Gas (Komogas) Andy Lala Lumban Gaol menambahkan penggunaan BBG memiliki banyak manfaat nyata bagi pengguna kendaraan, salah satunya biaya operasional yang jauh lebih hemat dibandingkan BBM bersubsidi.
Selain itu, penggunaan BBG juga mendukung upaya pengurangan emisi. “Kehadiran teknisi BBG yang terlatih akan menjawab tantangan minimnya tenaga ahli konversi di berbagai daerah. Dengan kerja sama ini, kami optimistis konversi kendaraan ke BBG dapat dipercepat dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Pelatihan ini berlangsung selama 7 hari ke depan hingga 7 Juli 2025. Dalam pelatihan ini, Komogas turut menggandeng IPTTI (Institusi Pengembangan Teknologi Terapan Indonesia) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sebagai mentor pelatihan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PGN yang bekerja sama dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas). Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas teknisi konversi kendaraan BBG di berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: PGN Gandeng Mitra Ojek Online Sukseskan Pilot Project Konversi BBG Sepeda Motor
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Gas Negara (PGN) Fajriyah Usman mengatakan, pelatihan ini dirancang untuk membekali para teknisi dengan pemahaman teknis terkait proses konversi kendaraan dari bahan bakar minyak ke gas (CNG) sekaligus aspek perawatan dan keselamatan.
“Melalui pelatihan ini kami berharap lahir teknisi-teknisi BBG yang kompeten, sehingga adopsi kendaraan berbahan bakar gas dapat semakin luas. Upaya pengurangan emisi dan efisiensi biaya operasional transportasi bisa semakin optimal,” ujar Fajriyah, Selasa (1/7/2025).
Melalui pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keahlian dan pengetahuan yang lebih baik bagi para peserta terkait energi terbarukan yakni BBG. Kemudian, membuat montir menjadi lebih mandiri dan memiliki efek berkelanjutan.
“Keberadaan teknisi BBG yang andal sangat penting untuk mendukung keberlanjutan ekosistem kendaraan berbahan bakar gas mengingat masih terbatasnya jumlah teknisi terlatih di berbagai daerah. Diharapkan proses konversi kendaraan BBG dapat dipercepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas,” kata Fajriyah.
Direktur Utama Gagas Energi Indonesia Santiaji Gunawan menyatakan pelatihan ini juga mendukung optimalisasi infrastruktur dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan jumlah kendaraan berbahan bakar gas juga mendukung optimalisasi pemanfaatan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) milik PGN di seluruh Indonesia.
"Melalui pelatihan teknisi ini, kami berharap konversi kendaraan BBG dapat berjalan lebih cepat, aman, dan sesuai standar. Dengan biaya BBG yang lebih terjangkau dibandingkan BBM bersubsidi, masyarakat bisa menikmati penghematan signifikan sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi," katanya.
Ketua Komunitas Mobil Gas (Komogas) Andy Lala Lumban Gaol menambahkan penggunaan BBG memiliki banyak manfaat nyata bagi pengguna kendaraan, salah satunya biaya operasional yang jauh lebih hemat dibandingkan BBM bersubsidi.
Selain itu, penggunaan BBG juga mendukung upaya pengurangan emisi. “Kehadiran teknisi BBG yang terlatih akan menjawab tantangan minimnya tenaga ahli konversi di berbagai daerah. Dengan kerja sama ini, kami optimistis konversi kendaraan ke BBG dapat dipercepat dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Pelatihan ini berlangsung selama 7 hari ke depan hingga 7 Juli 2025. Dalam pelatihan ini, Komogas turut menggandeng IPTTI (Institusi Pengembangan Teknologi Terapan Indonesia) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) sebagai mentor pelatihan.
(jon)
Lihat Juga :