Kesalahan Strategi Perang Bikin 600 Prajurit Kerajaan Singasari Dihabisi Ribuan Tentara Kediri
Senin, 16 Juni 2025 - 09:23 WIB
loading...
Raja Singasari Kertanagara salah strategi dalam memperkirakan pertahanannya. Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh besannya bernama Jayakatwang membelot. Foto: Ist
A
A
A
RAJA Singasari Kertanagara salah strategi dalam memperkirakan pertahanannya. Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh besannya bernama Jayakatwang membelot. Serangan besar-besaran dilakukan dari dua arah ibu kota Kerajaan Singasari membuat pasukan Singasari kewalahan.
Situasi saat itu sangat mencekam. Istana Singasari menjadi neraka bagi setiap orangnya. Seluruh pejabat kerajaan, termasuk Kertanagara, istrinya, dan pejabat tinggi lainnya tewas. Gayatri anak dari Kertanagara berhasil selamat dengan menyamar atas nasihat pembantunya.
Baca juga: Di Mana Letak Kerajaan Singasari? Ini Penjelasannya
Pasukan Singasari benar-benar tak kuat menghadapi banyaknya pasukan Kediri dari uțara dan selatan. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Sumatera ternyata tak bisa kembali ke Jawa dengan cepat karena arah angin yang bertiup berlawanan arah selama berminggu-minggu.
Pasukan pengawal raja yang bertahan di Singasari Selatan tercerai-berai sejak komandan mereka Pangeran Ardaraja membelot ke pasukan ayahnya yang menyerbu dari selatan. Naluri Ardaraja sebagai seorang anak akhirnya turut membantu Jayakatwang, ayahnya menghabisi juragannya sebagaimana dikisahkan dari buku 'Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit' karya Earl Drake.
Pasukan Singasari hanya tersisa sekitar 600 orang di bawah komando Pangeran Wijaya berhadapan ribuan pasukan Jayakatwang. Mereka bertempur dalam kondisi tak seimbang di utara ibu kota kerajaan. Pasukan Singasari bertempur dengan sengit demi mempertahankan ibu kota.
Pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar mengepung Desa Kambang Sri lalu memaksanya mundur ke seberang Sungai Brantas yang deras. Di sanalah dia mendapati dirinya dalam situasi bahaya dengan jumlah pendukung yang tak seberapa. Sebagian besar pasukannya tenggelam, sebagian lagi tertangkap, dan sisanya yang berhasil menyeberangi sungai tercerai-berai.
Akhirnya, dia berhasil mencapai Desa Kudadu dalam kondisi letih, lapar, dan sedih. Kepala desa menyambutnya dengan tulus serta menyuguhkan makanan dan minuman. Dia memberikan tempat berlindung, menyembunyikan Pangeran Wijaya dari musuh yang tengah mencarinya.
Karena tak melihat harapan untuk menang kali ini, Wijaya memutuskan kabur ke pulau terdekat yaitu Madura. Dia berharap Bupati Madura Arya Wiraraja yang sulit ditebak jalan pikirannya itu tetap setia kepada Kerajaan Singasari meski sang raja telah gugur.
Tanpa sepengetahuan Wijaya, ternyata sang bupati adalah seorang yang licik dan suka berkomplot ke sana kemari. Namun, untuk saat ini dia siap membantu Wijaya sampai dia mengetahui ke arah mana angin berhembus. Keputusan penting dibuat Pangeran Wijaya dan pasukannya kabur melarikan diri ke Madura dengan tenaga tersisa.
Situasi saat itu sangat mencekam. Istana Singasari menjadi neraka bagi setiap orangnya. Seluruh pejabat kerajaan, termasuk Kertanagara, istrinya, dan pejabat tinggi lainnya tewas. Gayatri anak dari Kertanagara berhasil selamat dengan menyamar atas nasihat pembantunya.
Baca juga: Di Mana Letak Kerajaan Singasari? Ini Penjelasannya
Pasukan Singasari benar-benar tak kuat menghadapi banyaknya pasukan Kediri dari uțara dan selatan. Sedangkan pasukan yang dikirim ke Sumatera ternyata tak bisa kembali ke Jawa dengan cepat karena arah angin yang bertiup berlawanan arah selama berminggu-minggu.
Pasukan pengawal raja yang bertahan di Singasari Selatan tercerai-berai sejak komandan mereka Pangeran Ardaraja membelot ke pasukan ayahnya yang menyerbu dari selatan. Naluri Ardaraja sebagai seorang anak akhirnya turut membantu Jayakatwang, ayahnya menghabisi juragannya sebagaimana dikisahkan dari buku 'Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit' karya Earl Drake.
Pasukan Singasari hanya tersisa sekitar 600 orang di bawah komando Pangeran Wijaya berhadapan ribuan pasukan Jayakatwang. Mereka bertempur dalam kondisi tak seimbang di utara ibu kota kerajaan. Pasukan Singasari bertempur dengan sengit demi mempertahankan ibu kota.
Pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar mengepung Desa Kambang Sri lalu memaksanya mundur ke seberang Sungai Brantas yang deras. Di sanalah dia mendapati dirinya dalam situasi bahaya dengan jumlah pendukung yang tak seberapa. Sebagian besar pasukannya tenggelam, sebagian lagi tertangkap, dan sisanya yang berhasil menyeberangi sungai tercerai-berai.
Akhirnya, dia berhasil mencapai Desa Kudadu dalam kondisi letih, lapar, dan sedih. Kepala desa menyambutnya dengan tulus serta menyuguhkan makanan dan minuman. Dia memberikan tempat berlindung, menyembunyikan Pangeran Wijaya dari musuh yang tengah mencarinya.
Karena tak melihat harapan untuk menang kali ini, Wijaya memutuskan kabur ke pulau terdekat yaitu Madura. Dia berharap Bupati Madura Arya Wiraraja yang sulit ditebak jalan pikirannya itu tetap setia kepada Kerajaan Singasari meski sang raja telah gugur.
Tanpa sepengetahuan Wijaya, ternyata sang bupati adalah seorang yang licik dan suka berkomplot ke sana kemari. Namun, untuk saat ini dia siap membantu Wijaya sampai dia mengetahui ke arah mana angin berhembus. Keputusan penting dibuat Pangeran Wijaya dan pasukannya kabur melarikan diri ke Madura dengan tenaga tersisa.
(jon)
Lihat Juga :