UEA Dukung Penanganan Sampah Plastik di Aliran Sungai Kota Surabaya
Jum'at, 13 Juni 2025 - 17:18 WIB
loading...
Kota Surabaya, Jawa Timur akan menjadi lokasi pertama pelaksanaan proyek kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam penanganan sampah plastik. Foto/istimewa
A
A
A
JATIM - Kota Surabaya, Jawa Timur akan menjadi lokasi pertama pelaksanaan proyek kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam penanganan sampah plastik sungai guna mencegah kebocoran di perairan laut Indonesia. Melalui kemitraan UNDP di Indonesia dan Clean Rivers Ltd yang berbasis di Abu Dhabi, pelaksanaan proyek ini didorong untuk mengurangi kebocoran sampah plastik sungai memasuki perairan laut di Indonesia.
Dilaksanakan selama tiga tahun sejak awal 2025, program ini diharapkan turut berkontribusi untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas lembaga pemerintah, lembaga masyarakat dan komunitas untuk dapat bersama-sama menangani sampah yang masuk ke badan dan aliran sungai.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Ikhsan menyampaikan apresiasi terhadap kemitraan ini. Khususnya dukungan terhadap urgensi penanganan sampah. Penanggulangan sampah di aliran Kali Tebu memang dibutuhkan untuk mencegah masuk ke perairan laut.
"Dengan perlengkapan yang saat ini juga terpasang di aliran sungai, serta peran dari masyarakat di area tersebut, tentunya (kolaborasi) penanganan sampah di lokasi ini akan lebih maksimal”, jelas Ikhsan, dalam keterangannya, Jumat (13/6/2025).
Baca juga: Pemerintah Targetkan Masalah Sampah Tuntas 100% pada 2029
Kondisi pencemaran dan penanganan sampah di badan dan aliran sungai yang ada di kota-kota besar terus mendapat perhatian besar dari masyarakat.
Bentuk kewenangan terkait pengelolaan sungai di Indonesia turut menjadi tantangan tersendiri, khususnya dalam penanganan sampah yang ada di bantaran dan aliran sungai di Indonesia.
Beberapa situasi ditunjukkan dalam penanganan sampah sungai yang belum maksimal serta keberadaan bangunan liar yang ikut memicu sampah masuk ke aliran sungai, maupun kebocoran sampah sungai yang masih terus terjadi setiap hari.
Baca juga: Mengatasi Polusi Plastik lewat Aturan Global dan Kerja Sama Multi Pihak
“Dukungan program ini tentunya hanya satu dari berbagai upaya penanganan sampah yang kita kolaborasikan bersama, termasuk beberapa upaya lainnya seperti pendekatan sirkular ekonomi dan penanganan sampah yang turut dikelola oleh kelompok masyarakat,” kata Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rofi Alhanif.
Sementara itu, CEO Clean Rivers Ltd Deborah Backus menyatakan bahwa pelaksanaan kemitraan di Surabaya merupakan bentuk komitmen dari lembaganya mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah UEA.
"Bersama-sama Pemerintah Kota Surabaya (Kita) dapat melakukan transformasi penanganan sampah di sungai yang mengedepankan kolaborasi lintas lembaga pemerintah serta peran aktif dari masyarakat,” kata Deborah.
Saat ini kapasitas penanganan sampah di TPA Benowo (Kota Surabaya) saat ini terbatas sebanyak 1.530 ton/hari. Dengan timbulan sampah yang mencapai 1.810 ton/hari, kondisi ini meninggalkan hampir 300 ton sampah per hari yang masih membutuhkan penanganan sampah melalui peran aktif seperti bank sampah, kelompok masyarakat, penanganan sampah organik, dan sebagainya.
Dalam kegiatan ini, Clean Rivers dan UNDP dengan Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) juga mengunjungi salah satu kelompok Gerakan Sedekah Sampah (GRADASI) yang ada di Kelurahan Balas Klumprik, sebagai salah satu bentuk integrasi penanganan sampah berbasis komunitas.
Melalui pengelolaan sampah anorganik di Bank Sampah dan Gerakan Sedekah Sampah di RW 05 Kelurahan Balas Klumprik, serta pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak, warga telah menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berdaya guna. Ditambah dengan inisiatif penanaman mangrove dan urban farming, RW 05 tak hanya menangani sampah dari rumah tangga, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan pangan secara lokal.
Keberhasilan RW 05 adalah bukti bahwa solusi atas krisis sampah plastik sungai dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, mitra pembangunan, dan masyarakat. Inisiatif seperti ini menjadi inspirasi kuat bagi wilayah lain untuk ikut bergerak.
Dilaksanakan selama tiga tahun sejak awal 2025, program ini diharapkan turut berkontribusi untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas lembaga pemerintah, lembaga masyarakat dan komunitas untuk dapat bersama-sama menangani sampah yang masuk ke badan dan aliran sungai.
Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Ikhsan menyampaikan apresiasi terhadap kemitraan ini. Khususnya dukungan terhadap urgensi penanganan sampah. Penanggulangan sampah di aliran Kali Tebu memang dibutuhkan untuk mencegah masuk ke perairan laut.
"Dengan perlengkapan yang saat ini juga terpasang di aliran sungai, serta peran dari masyarakat di area tersebut, tentunya (kolaborasi) penanganan sampah di lokasi ini akan lebih maksimal”, jelas Ikhsan, dalam keterangannya, Jumat (13/6/2025).
Baca juga: Pemerintah Targetkan Masalah Sampah Tuntas 100% pada 2029
Kondisi pencemaran dan penanganan sampah di badan dan aliran sungai yang ada di kota-kota besar terus mendapat perhatian besar dari masyarakat.
Bentuk kewenangan terkait pengelolaan sungai di Indonesia turut menjadi tantangan tersendiri, khususnya dalam penanganan sampah yang ada di bantaran dan aliran sungai di Indonesia.
Beberapa situasi ditunjukkan dalam penanganan sampah sungai yang belum maksimal serta keberadaan bangunan liar yang ikut memicu sampah masuk ke aliran sungai, maupun kebocoran sampah sungai yang masih terus terjadi setiap hari.
Baca juga: Mengatasi Polusi Plastik lewat Aturan Global dan Kerja Sama Multi Pihak
“Dukungan program ini tentunya hanya satu dari berbagai upaya penanganan sampah yang kita kolaborasikan bersama, termasuk beberapa upaya lainnya seperti pendekatan sirkular ekonomi dan penanganan sampah yang turut dikelola oleh kelompok masyarakat,” kata Asisten Deputi Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rofi Alhanif.
Sementara itu, CEO Clean Rivers Ltd Deborah Backus menyatakan bahwa pelaksanaan kemitraan di Surabaya merupakan bentuk komitmen dari lembaganya mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah UEA.
"Bersama-sama Pemerintah Kota Surabaya (Kita) dapat melakukan transformasi penanganan sampah di sungai yang mengedepankan kolaborasi lintas lembaga pemerintah serta peran aktif dari masyarakat,” kata Deborah.
Saat ini kapasitas penanganan sampah di TPA Benowo (Kota Surabaya) saat ini terbatas sebanyak 1.530 ton/hari. Dengan timbulan sampah yang mencapai 1.810 ton/hari, kondisi ini meninggalkan hampir 300 ton sampah per hari yang masih membutuhkan penanganan sampah melalui peran aktif seperti bank sampah, kelompok masyarakat, penanganan sampah organik, dan sebagainya.
Dalam kegiatan ini, Clean Rivers dan UNDP dengan Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) juga mengunjungi salah satu kelompok Gerakan Sedekah Sampah (GRADASI) yang ada di Kelurahan Balas Klumprik, sebagai salah satu bentuk integrasi penanganan sampah berbasis komunitas.
Melalui pengelolaan sampah anorganik di Bank Sampah dan Gerakan Sedekah Sampah di RW 05 Kelurahan Balas Klumprik, serta pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak, warga telah menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berdaya guna. Ditambah dengan inisiatif penanaman mangrove dan urban farming, RW 05 tak hanya menangani sampah dari rumah tangga, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan pangan secara lokal.
Keberhasilan RW 05 adalah bukti bahwa solusi atas krisis sampah plastik sungai dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antara pemerintah, mitra pembangunan, dan masyarakat. Inisiatif seperti ini menjadi inspirasi kuat bagi wilayah lain untuk ikut bergerak.
(cip)
Lihat Juga :