Diksar Maut, Mahasiswa Gelar Gelar Doa Bersama dan Tuntut Keadilan untuk Pratama Wijaya
Rabu, 04 Juni 2025 - 07:19 WIB
loading...
Doa menggema untuk Pratama Wijaya Kusuma yang diduga meninggal dunia akibat tindak kekerasaan saat mengikuti Diksar Mahepel Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila. Foto/Ira Widyanti
A
A
A
BANDAR LAMPUNG - Doa menggema untuk Pratama Wijaya Kusuma yang diduga meninggal dunia akibat tindak kekerasaan saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (Unila). Ratusan mahasiswa menyalakan lilin dan menggelar doa bersama di Bundaran Unila, Selasa (3/6/2025) malam.
Ratusan mahasiswa menyalakan lilin dan menggelar doa bersama di Bundaran Unila, Selasa (3/6/2025) malam. Foto/Ira Widyanti
Tak hanya mahasiswa Unila, mahasiswa dari universitas lainnya di Bandar Lampung juga turut hadir dalam aksi solidaritas tersebut.
Baca juga: Mahasiswa Unila Meninggal Diduga Akibat Kekerasan saat Diksar di Gunung Betung
Selain menyalakan lilin dan menggelar doa bersama, aksi tersebut juga turut diisi dengan pembacaan puisi dan permainan biola dari salah satu rekan Pratama.
Ratusan mahasiswa yang hadir tersebut berharap Pratama bisa mendapatkan keadilan atas kekerasan yang dialami karena Diksar yang digelar pada 11-14 November 2024 lalu di Gunung Betung, Pesawaran, Lampung.
“Justice for Pratama, Keadilan Untuk Pratama," seru para mahasiswa.
Terlihat ara mahasiswa menaburkan bunga ke Foto Zidan. Terlihat juga sebuah Banner bertuliskan “Jangan Bungkam Suara Keadilan : Pratama Harus Dapat Keadilan #justiceforpratama” terbentang di belakang foto Pratama.
Baca juga: Dua Mahasiswa UIN Malang Tewas saat Diklat Silat, Polisi Periksa 11 Saksi
Koordinator Aksi, Zidan menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran rekan mahasiswa yang hadir sebagai bentuk solidaritas dalam mencari keadilan bagi Pratama.
“Disini kita mencari keadilan bagi teman kita Pratama yang menjadi korban kekerasan dari senior-senior, yang mana ormawa ini seharusnya dapat mengayomi,” ungkapnya.
Zidan menegaskan, Pratama harus mendapatkan keadilan, dan pihak Kepolisian maupun pihak kampus Unila dapat mengusut agar tidak ada lagi tindakan kekerasan yang dilakukan ormawa.
Menurut Zidan, lilin merupakan lambang cahaya yang diharapkan akan menjadi penerang bagi Almarhum Pratama.
"Keadilan harus ada bagi teman kita,” ucapnya.
Zidan berharap aksi yang telah dilakukan baik orasi maupun melakukan 1.000 lilin dan doa bersama bisa memiliki dampak yang besar bagi keadilan Pratama.
Unila sepakat untuk menurunkan tim investigasi untuk membantu Polda Lampung guna mengungkap dugaan tindak kekerasan dalam pendidikan dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan yang juga Alumni Unila Prof Sunyono mengatakan, pihaknya telah melibatkan berbagai unsur untuk melakukan investigasi paska peristiwa meninggal Pratama Wijaya Kusuma.
"Tadi pagi tim kami juga sudah ke Polda Lampung dalam rangka koordinasi berkaitan dengan dugaan kekerasan yang berakibat pada meninggalnya Pratama," ujar Warek Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof Sunyono.
Sunyono menyebutkan, bersama dengan pihak kepolisian, telah disepakati tim investigasi Unila akan turun bersama-sama dengan penyidik.
"Di dalam tim ini juga. Karena ini berkaitan dengan mahasiswa, tim juga melibatkan mahasiswa didalam investigasi," kata Prof Sunyono.
Untuk itu, Sunyono meminta masyarakat untuk bersabar dan menunggu hasil investigasi yang diharapkan dapat berlangsung cepat.
Sunyono juga berharap segera ada rekomendasi apa yang harus dilakukan oleh rektor, apa yang harus dilakukan oleh dekanat, berkaitan dengan hasil investigasi ini.
"Mohon bantu saya untuk mengungkap kebenaran. Saya sepakat bahwa di perguruan tinggi tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apapun," tegasnya.
Mantan Dekan FKIP Unila ini menambahkan, insiden ini tak hanya menimbulkan cacat fisik, cacat mental, namun juga ada korban jiwa. Dia berharap, hal serupa tidak lagi terjadi di Unila maupun kampus lainnya.
"Ini adalah cobaan yang luar biasa bagi Universitas Lampung, mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita semua," pungkasnya.
Sunyono meminta semua pihak untuk dapat melakukan evaluasi diri terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
.jpg)
Ratusan mahasiswa menyalakan lilin dan menggelar doa bersama di Bundaran Unila, Selasa (3/6/2025) malam. Foto/Ira Widyanti
Tak hanya mahasiswa Unila, mahasiswa dari universitas lainnya di Bandar Lampung juga turut hadir dalam aksi solidaritas tersebut.
Baca juga: Mahasiswa Unila Meninggal Diduga Akibat Kekerasan saat Diksar di Gunung Betung
Selain menyalakan lilin dan menggelar doa bersama, aksi tersebut juga turut diisi dengan pembacaan puisi dan permainan biola dari salah satu rekan Pratama.
Ratusan mahasiswa yang hadir tersebut berharap Pratama bisa mendapatkan keadilan atas kekerasan yang dialami karena Diksar yang digelar pada 11-14 November 2024 lalu di Gunung Betung, Pesawaran, Lampung.
“Justice for Pratama, Keadilan Untuk Pratama," seru para mahasiswa.
Terlihat ara mahasiswa menaburkan bunga ke Foto Zidan. Terlihat juga sebuah Banner bertuliskan “Jangan Bungkam Suara Keadilan : Pratama Harus Dapat Keadilan #justiceforpratama” terbentang di belakang foto Pratama.
Baca juga: Dua Mahasiswa UIN Malang Tewas saat Diklat Silat, Polisi Periksa 11 Saksi
Koordinator Aksi, Zidan menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran rekan mahasiswa yang hadir sebagai bentuk solidaritas dalam mencari keadilan bagi Pratama.
“Disini kita mencari keadilan bagi teman kita Pratama yang menjadi korban kekerasan dari senior-senior, yang mana ormawa ini seharusnya dapat mengayomi,” ungkapnya.
Zidan menegaskan, Pratama harus mendapatkan keadilan, dan pihak Kepolisian maupun pihak kampus Unila dapat mengusut agar tidak ada lagi tindakan kekerasan yang dilakukan ormawa.
Menurut Zidan, lilin merupakan lambang cahaya yang diharapkan akan menjadi penerang bagi Almarhum Pratama.
"Keadilan harus ada bagi teman kita,” ucapnya.
Zidan berharap aksi yang telah dilakukan baik orasi maupun melakukan 1.000 lilin dan doa bersama bisa memiliki dampak yang besar bagi keadilan Pratama.
Turunkan Tim Investigasi
Unila sepakat untuk menurunkan tim investigasi untuk membantu Polda Lampung guna mengungkap dugaan tindak kekerasan dalam pendidikan dasar (Diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan yang juga Alumni Unila Prof Sunyono mengatakan, pihaknya telah melibatkan berbagai unsur untuk melakukan investigasi paska peristiwa meninggal Pratama Wijaya Kusuma.
"Tadi pagi tim kami juga sudah ke Polda Lampung dalam rangka koordinasi berkaitan dengan dugaan kekerasan yang berakibat pada meninggalnya Pratama," ujar Warek Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof Sunyono.
Sunyono menyebutkan, bersama dengan pihak kepolisian, telah disepakati tim investigasi Unila akan turun bersama-sama dengan penyidik.
"Di dalam tim ini juga. Karena ini berkaitan dengan mahasiswa, tim juga melibatkan mahasiswa didalam investigasi," kata Prof Sunyono.
Untuk itu, Sunyono meminta masyarakat untuk bersabar dan menunggu hasil investigasi yang diharapkan dapat berlangsung cepat.
Sunyono juga berharap segera ada rekomendasi apa yang harus dilakukan oleh rektor, apa yang harus dilakukan oleh dekanat, berkaitan dengan hasil investigasi ini.
"Mohon bantu saya untuk mengungkap kebenaran. Saya sepakat bahwa di perguruan tinggi tidak boleh ada kekerasan dalam bentuk apapun," tegasnya.
Mantan Dekan FKIP Unila ini menambahkan, insiden ini tak hanya menimbulkan cacat fisik, cacat mental, namun juga ada korban jiwa. Dia berharap, hal serupa tidak lagi terjadi di Unila maupun kampus lainnya.
"Ini adalah cobaan yang luar biasa bagi Universitas Lampung, mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita semua," pungkasnya.
Sunyono meminta semua pihak untuk dapat melakukan evaluasi diri terkait dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
(shf)
Lihat Juga :