Keangkeran Gunung Arjuno Bikin Pendaki Tersesat, Mitos Akar Mimang hingga Kerajaan Gaib
Jum'at, 30 Mei 2025 - 14:44 WIB
loading...
A
A
A
"Karena pertama mereka itu acuh tak acuh jadi ya nggak mau komunikasi tetap diam, nggak tahu kehadiran saya. Makanya nggak interaksi," ujarnya.
Sementara itu, praktisi spiritual Ki Mudo Leksono menuturkan, bila penerawangan mata batinnya di Gunung Arjuno ada sebuah permukiman gaib yang kerap mengganggu aktivitas pendaki di gunung.
Permukiman ini dihuni oleh beberapa makhluk menyerupai manusia namun berpakaian Jawa zaman dahulu lengkap dengan keris dan parang hingga blangkonnya.
"Memang di sana banyak aktivitas gaib yang tidak bisa dilihat semua orang. Orang-orangnya pakai pakaian Jawa zaman dahulu, ya pakai blangkon dan keris juga," kata Ki Mudo Leksono.
Menurutnya, orang-orang zaman dahulu itu berpakaian hanya bercelana saja dengan pakaian menyerupai rompi dan dadanya telanjang.
Sementara ada kaum bangsawan yang mengenakan pakaian. Kehidupan mereka juga terdapat pemimpinnya layaknya kerajaan di masa lampau.
"Caranya berpakaian memang kerajaan, nggak pakai blangkon, pakaiannya telanjang dada. Ada yang bangsawan pakai kain sedikit, seperti di film-film," imbuhnya.
Sering juga aktivitas gaib layaknya acara pernikahan seperti bunyi gamelan, atau musik-musik Jawa di masa lalu. Aktivitas itu bahkan kerap kali mengganggu pendakian jika tak waspada dan konsentrasinya lengah.
"Di pasar kelihatan banyak orang, mereka lewat seperti prajurit, aktivitasnya kalau malam mulai, habis maghrib sampai pagi. Itu kayak di pasar, cuma di sana seperti zaman dahulu. Ada istana kerajaan gaib juga, ya persis ada rajanya juga," ujarnya.
Sementara itu, praktisi spiritual Ki Mudo Leksono menuturkan, bila penerawangan mata batinnya di Gunung Arjuno ada sebuah permukiman gaib yang kerap mengganggu aktivitas pendaki di gunung.
Permukiman ini dihuni oleh beberapa makhluk menyerupai manusia namun berpakaian Jawa zaman dahulu lengkap dengan keris dan parang hingga blangkonnya.
"Memang di sana banyak aktivitas gaib yang tidak bisa dilihat semua orang. Orang-orangnya pakai pakaian Jawa zaman dahulu, ya pakai blangkon dan keris juga," kata Ki Mudo Leksono.
Menurutnya, orang-orang zaman dahulu itu berpakaian hanya bercelana saja dengan pakaian menyerupai rompi dan dadanya telanjang.
Sementara ada kaum bangsawan yang mengenakan pakaian. Kehidupan mereka juga terdapat pemimpinnya layaknya kerajaan di masa lampau.
"Caranya berpakaian memang kerajaan, nggak pakai blangkon, pakaiannya telanjang dada. Ada yang bangsawan pakai kain sedikit, seperti di film-film," imbuhnya.
Sering juga aktivitas gaib layaknya acara pernikahan seperti bunyi gamelan, atau musik-musik Jawa di masa lalu. Aktivitas itu bahkan kerap kali mengganggu pendakian jika tak waspada dan konsentrasinya lengah.
"Di pasar kelihatan banyak orang, mereka lewat seperti prajurit, aktivitasnya kalau malam mulai, habis maghrib sampai pagi. Itu kayak di pasar, cuma di sana seperti zaman dahulu. Ada istana kerajaan gaib juga, ya persis ada rajanya juga," ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :