2 Sosok Purnawirawan Jenderal TNI yang Dukung Prabowo Tolak Ganti Wapres dan Reshuffle Kabinet
Senin, 05 Mei 2025 - 15:10 WIB
loading...
Jenderal (Purn) Agum Gumelar dan Jenderal (Purn) Wiranto menolak pemakzulan Wapres Gibran Rakabuming Raka serta reshuffle kabinet. Foto/Dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Terdapat dua sosok purnawirawan Jenderal TNI yang mendukung Prabowo dan dengan vokal menolak pemakzulan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka serta reshuffle kabinet.
Pertemuan yang dilakukan para pimpinan organisasi purnawirawan TNI dan Polri belum lama ini telah membahas tentang dinamika politik terkini. Di mana terdapat sejumlah kelompok purnawirawan TNI yang menginginkan pemakzulan Wapres dan meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet.
Baca juga: Try Sutrisno hingga Fachrul Razi Tuntut Gibran Dicopot, Pimpinan MPR Pegang Keputusan KPU
Forum itu juga menyatakan sikapnya dalam mendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Diketahui jika pertemuan tersebut dihadiri oleh dua purnawirawan Jenderal yakni Wiranto dan Agum Gumelar.
Selain mereka berdua, turut hadir juga Laksamana (Purn) Siwi Sukma Adji, Marsekal (Purn) Yuyu Sutisna, Letjen (Purn) H.B.L Mantiri, dan Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri.
1. Wiranto
Wiranto, lahir pada 4 April 1947 di Yogyakarta, adalah seorang tokoh militer dan politik senior Indonesia yang memiliki perjalanan karier panjang di bidang pertahanan dan pemerintahan. Lulusan Akademi Militer tahun 1968 ini memulai karier militernya di berbagai satuan, termasuk Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Pada era Orde Baru, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto, yang kemudian membuka jalan bagi kenaikan pangkat dan jabatan strategis di tubuh TNI. Puncak karier militernya terjadi ketika ia diangkat sebagai Panglima ABRI pada Februari 1998, menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.
Baca juga: Pembatalan Mutasi Letjen Kunto, Dino Patti Djalal: Sinyal Keras Istana Bahwa Panglima Tertinggi Adalah Presiden Prabowo
Dalam masa transisi menuju reformasi, Wiranto juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Namun, perannya dalam periode ini tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait peristiwa kekerasan di Timor Timur pada 1999, yang memunculkan tuduhan pelanggaran HAM terhadap dirinya.
Setelah pensiun dari militer, Wiranto terjun ke dunia politik. Ia mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004 melalui Partai Golkar, meskipun tidak berhasil melaju ke putaran kedua.
Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Wiranto kembali dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dari 2016 hingga 2019. Setelah itu, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden hingga 2024.
![2 Sosok Purnawirawan Jenderal TNI yang Dukung Prabowo Tolak Ganti Wapres dan Reshuffle Kabinet]()
Agum Gumelar, lahir pada 17 Desember 1945 di Tasikmalaya, Jawa Barat, adalah seorang tokoh militer dan politik Indonesia yang memiliki karier panjang dan beragam.
Setelah lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1968, ia mengabdi di TNI Angkatan Darat, khususnya di satuan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Selama masa dinasnya, Agum terlibat dalam berbagai operasi militer penting, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur, serta penanganan konflik di Aceh dan Papua. Ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus dan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada akhir 1990-an.
Setelah pensiun dari militer, Agum memasuki dunia politik dan pemerintahan. Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dari 1999 hingga 2001.
Pada Juni 2001, ia diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan, serta sempat menjabat sebagai Menteri Pertahanan meskipun hanya dalam waktu singkat. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, Agum kembali menjabat sebagai Menteri Perhubungan hingga tahun 2004.
Selain di bidang militer dan politik, Agum juga aktif dalam dunia olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dari tahun 1999 hingga 2003, serta memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Pada 2018, Agum ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menggantikan Hasyim Muzadi yang wafat.
Pertemuan yang dilakukan para pimpinan organisasi purnawirawan TNI dan Polri belum lama ini telah membahas tentang dinamika politik terkini. Di mana terdapat sejumlah kelompok purnawirawan TNI yang menginginkan pemakzulan Wapres dan meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet.
Baca juga: Try Sutrisno hingga Fachrul Razi Tuntut Gibran Dicopot, Pimpinan MPR Pegang Keputusan KPU
Forum itu juga menyatakan sikapnya dalam mendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Diketahui jika pertemuan tersebut dihadiri oleh dua purnawirawan Jenderal yakni Wiranto dan Agum Gumelar.
Selain mereka berdua, turut hadir juga Laksamana (Purn) Siwi Sukma Adji, Marsekal (Purn) Yuyu Sutisna, Letjen (Purn) H.B.L Mantiri, dan Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri.
2 Sosok Purnawirawan Jenderal TNI yang Dukung Prabowo
1. Wiranto
![2 Sosok Purnawirawan Jenderal TNI yang Dukung Prabowo Tolak Ganti Wapres dan Reshuffle Kabinet]()
Wiranto, lahir pada 4 April 1947 di Yogyakarta, adalah seorang tokoh militer dan politik senior Indonesia yang memiliki perjalanan karier panjang di bidang pertahanan dan pemerintahan. Lulusan Akademi Militer tahun 1968 ini memulai karier militernya di berbagai satuan, termasuk Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).
Pada era Orde Baru, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto, yang kemudian membuka jalan bagi kenaikan pangkat dan jabatan strategis di tubuh TNI. Puncak karier militernya terjadi ketika ia diangkat sebagai Panglima ABRI pada Februari 1998, menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.
Baca juga: Pembatalan Mutasi Letjen Kunto, Dino Patti Djalal: Sinyal Keras Istana Bahwa Panglima Tertinggi Adalah Presiden Prabowo
Dalam masa transisi menuju reformasi, Wiranto juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Namun, perannya dalam periode ini tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait peristiwa kekerasan di Timor Timur pada 1999, yang memunculkan tuduhan pelanggaran HAM terhadap dirinya.
Setelah pensiun dari militer, Wiranto terjun ke dunia politik. Ia mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004 melalui Partai Golkar, meskipun tidak berhasil melaju ke putaran kedua.
Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Wiranto kembali dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan dari 2016 hingga 2019. Setelah itu, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden hingga 2024.
2. Agum Gumelar

Agum Gumelar, lahir pada 17 Desember 1945 di Tasikmalaya, Jawa Barat, adalah seorang tokoh militer dan politik Indonesia yang memiliki karier panjang dan beragam.
Setelah lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1968, ia mengabdi di TNI Angkatan Darat, khususnya di satuan elit Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Selama masa dinasnya, Agum terlibat dalam berbagai operasi militer penting, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur, serta penanganan konflik di Aceh dan Papua. Ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus dan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) pada akhir 1990-an.
Setelah pensiun dari militer, Agum memasuki dunia politik dan pemerintahan. Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah Presiden Abdurrahman Wahid dari 1999 hingga 2001.
Pada Juni 2001, ia diangkat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan, serta sempat menjabat sebagai Menteri Pertahanan meskipun hanya dalam waktu singkat. Ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden, Agum kembali menjabat sebagai Menteri Perhubungan hingga tahun 2004.
Selain di bidang militer dan politik, Agum juga aktif dalam dunia olahraga. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dari tahun 1999 hingga 2003, serta memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Pada 2018, Agum ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menggantikan Hasyim Muzadi yang wafat.
(shf)
Lihat Juga :