Kisah Permusuhan Tokoh Agama dan Pejabat Tumapel, Jalan Ken Arok Jadi Brahmana
Minggu, 27 April 2025 - 07:22 WIB
loading...
Di masa Tunggul Ametung terjadi perang dingin antara golongan bangsawan, para pejabat dan kaum Brahmana atau pemuka agama. FOTO ILUSTRASI/IST
A
A
A
KONDISI sosial di Tumapel, wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri , tak kondusif. Terjadi perang dingin antara golongan bangsawan, para pejabat dan kaum Brahmana atau pemuka agama. Situasi ini disebabkan kesewenang-wenangan Tunggul Ametung , penguasa Tumapel.
Tunggul Ametung memang sedang bermusuhan dengan pemuka agama. Memang sejak lama keturunan Airlangga yang menjadi raja-raja ini memiliki sekat dengan kaum pemuka agama. Bahkan hal ini juga yang diamati oleh Ken Arok, yang terlahir dari golongan Sudra, kasta terendah dalam agama Hindu.
Di banyak kasus, berdasarkan analisis Ken Arok, kaum Brahmana hanya mampu tunduk di bawah kekuasaan para kaum Ksatria. Hal ini juga konon muncul ketika peristiwa penculikan anak Brahmana, Mpu Purwa bernama Ken Dedes.
Baca juga: Kisah Pertempuran Raja Mataram dengan Adiknya Sendiri
Sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Ken Arok: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan", Tunggul Ametung mengeluarkan kata-kata yang seolah mengejek. "Semua Brahmana telah takluk menyembah pada kaum Ksatria. Apakah Mpu Purwa, ayahmu, belum ajarkan itu padamu?" kata-kata Tunggul Ametung itu menunjukkan betapa kerasnya pertentangan antara kaum Brahmana versus kaum Ksatria saat itu.
Dalam kondisi seperti itulah, kaum Brahmana, seperti dikatakan Tunggul Ametung, telah menyusun kekuatan, mereka sesama Brahmana tengah menggalang persekutuan. Jika agenda penggalangan kekuatan ini diketahui, maka tak segan, raja dan pejabat Istana akan memberikan hukuman yang sangat menyakitkan.
Namun, kaum Brahmana tetap nekad untuk terus berusaha menjalin kekuatan dalam menghadapi arogansi dan dominasi kaum Ksatria. Lohgawe sebagai salah seorang brahmana sangat berharap kepada Ken Arok yang dinilai sangat cerdas, genius, dan berani.
Tunggul Ametung memang sedang bermusuhan dengan pemuka agama. Memang sejak lama keturunan Airlangga yang menjadi raja-raja ini memiliki sekat dengan kaum pemuka agama. Bahkan hal ini juga yang diamati oleh Ken Arok, yang terlahir dari golongan Sudra, kasta terendah dalam agama Hindu.
Di banyak kasus, berdasarkan analisis Ken Arok, kaum Brahmana hanya mampu tunduk di bawah kekuasaan para kaum Ksatria. Hal ini juga konon muncul ketika peristiwa penculikan anak Brahmana, Mpu Purwa bernama Ken Dedes.
Baca juga: Kisah Pertempuran Raja Mataram dengan Adiknya Sendiri
Sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Ken Arok: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan", Tunggul Ametung mengeluarkan kata-kata yang seolah mengejek. "Semua Brahmana telah takluk menyembah pada kaum Ksatria. Apakah Mpu Purwa, ayahmu, belum ajarkan itu padamu?" kata-kata Tunggul Ametung itu menunjukkan betapa kerasnya pertentangan antara kaum Brahmana versus kaum Ksatria saat itu.
Dalam kondisi seperti itulah, kaum Brahmana, seperti dikatakan Tunggul Ametung, telah menyusun kekuatan, mereka sesama Brahmana tengah menggalang persekutuan. Jika agenda penggalangan kekuatan ini diketahui, maka tak segan, raja dan pejabat Istana akan memberikan hukuman yang sangat menyakitkan.
Namun, kaum Brahmana tetap nekad untuk terus berusaha menjalin kekuatan dalam menghadapi arogansi dan dominasi kaum Ksatria. Lohgawe sebagai salah seorang brahmana sangat berharap kepada Ken Arok yang dinilai sangat cerdas, genius, dan berani.
Lihat Juga :