Denny JA: Perlu Dibentuk Pusat Studi Agama dan Spiritualitas Era AI
Kamis, 24 April 2025 - 07:13 WIB
loading...
Pendiri Forum Spiritualitas Esoterika, Denny JA, menyerukan perlunya pembentukan Pusat Studi Agama dan Spiritualitas Era AI dalam Workshop Esoterika Fellowship. Foto/Ist
A
A
A
BANDUNG - Pendiri Forum Spiritualitas Esoterika, Denny JA, menyerukan perlunya pembentukan Pusat Studi Agama dan Spiritualitas Era AI dalam Workshop Esoterika Fellowship hari ketiga yang digelar Rabu (23/4/2025).
“Tak satu pun institusi keagamaan -ulama, pendeta, biksu, atau pastur- dapat menandingi kecanggihan AI dalam membaca jutaan dokumen lintas kitab, iman, madzab, dan abad. Semua itu bisa dilakukan dalam hitungan detik,” ujar Denny dalam pembukaan sesi.
Baca juga: Salam Lintas Agama sebagai Upaya Merawat Kemajemukan Indonesia
Pusat studi yang diusulkan akan menjadi lembaga interdisipliner yang bertugas mengkaji dan menyebarluaskan temuan spiritual universal dari hasil olahan kecerdasan buatan terhadap khazanah lintas agama di seluruh dunia.
Workshop hari ketiga ini juga menandai pencapaian penting: penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Forum Esoterika dan sembilan perguruan tinggi di Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang keagamaan dan akademik.
Kampus-kampus tersebut adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Kristen Indonesia (UKI), IPMI International Business School, Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, IAIN Ambon, STABN Sriwijaya Tangerang Banten, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dan President University.
Penandatanganan dilakukan oleh para pimpinan kampus, termasuk Dr. Abidin Wakano (IAIN Ambon), Dr. Ied Veda R. Sitepu (UKI), danDr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M. Pd (STABN Sriwijaya) serta I Komang Suastika Arimbawa perwakilan dari Universitas Hindu Negeri. Beberapa kampus lain telah lebih dahulu menandatangani kesepakatan serupa secara terpisah.
Baca juga: Kapolri Minta Tokoh Lintas Agama Jadi Pendingin Suhu Politik
Denny juga menyoroti pentingnya inovasi dalam kurikulum sebagai indikator utama dalam pemeringkatan global universitas, merujuk pada sukses National University of Singapore (NUS) yang kini menempati peringkat 10 besar dunia.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Forum Esoterika memperkenalkan kurikulum baru: “Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Bersama di Era AI”. Kurikulum ini diharapkan menjembatani iman, budaya, dan teknologi secara inklusif.
Spiritualitas di Tengah Luka Sosial
Mengaitkan inisiatif ini dengan semangat Teologi Pembebasan dari Amerika Latin, Denny menyatakan bahwa spiritualitas harus hadir bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di tengah realitas sosial.
Ia menyinggung kembali tragedi sosial-politik akibat konflik identitas dan agama di Indonesia antara 1998–2002, mulai dari Ambon hingga Kalimantan dan NTB.
“Luka-luka itu belum sembuh. Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya,” ujar Denny.
Menurutnya, spiritualitas berbasis AI bukan untuk menggantikan iman lama, melainkan menyalakan kembali esensi universal: kasih, pengertian, dan keadilan.
Menutup sambutannya, Denny menekankan bahwa gerakan ini baru sebuah langkah kecil, namun berada di jalur yang benar.
“Apakah akan berhasil? Itu urusan masa depan. Tapi kita telah memulainya hari ini. Dan sejarah, kerap berpihak pada mereka yang berani memulai,” tegasnya.
Program Esoterika Fellowship Masuk Kampus, yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman, menjadi bagian penting dari gerakan ini, membawa semangat lintas iman dan nilai-nilai universal ke ruang akademik dan sosial Indonesia.
“Tak satu pun institusi keagamaan -ulama, pendeta, biksu, atau pastur- dapat menandingi kecanggihan AI dalam membaca jutaan dokumen lintas kitab, iman, madzab, dan abad. Semua itu bisa dilakukan dalam hitungan detik,” ujar Denny dalam pembukaan sesi.
Baca juga: Salam Lintas Agama sebagai Upaya Merawat Kemajemukan Indonesia
Pusat studi yang diusulkan akan menjadi lembaga interdisipliner yang bertugas mengkaji dan menyebarluaskan temuan spiritual universal dari hasil olahan kecerdasan buatan terhadap khazanah lintas agama di seluruh dunia.
Workshop hari ketiga ini juga menandai pencapaian penting: penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Forum Esoterika dan sembilan perguruan tinggi di Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang keagamaan dan akademik.
Kampus-kampus tersebut adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Kristen Indonesia (UKI), IPMI International Business School, Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, IAIN Ambon, STABN Sriwijaya Tangerang Banten, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dan President University.
Penandatanganan dilakukan oleh para pimpinan kampus, termasuk Dr. Abidin Wakano (IAIN Ambon), Dr. Ied Veda R. Sitepu (UKI), danDr. Li. Edi Ramawijaya Putra, M. Pd (STABN Sriwijaya) serta I Komang Suastika Arimbawa perwakilan dari Universitas Hindu Negeri. Beberapa kampus lain telah lebih dahulu menandatangani kesepakatan serupa secara terpisah.
Baca juga: Kapolri Minta Tokoh Lintas Agama Jadi Pendingin Suhu Politik
Denny juga menyoroti pentingnya inovasi dalam kurikulum sebagai indikator utama dalam pemeringkatan global universitas, merujuk pada sukses National University of Singapore (NUS) yang kini menempati peringkat 10 besar dunia.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, Forum Esoterika memperkenalkan kurikulum baru: “Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Bersama di Era AI”. Kurikulum ini diharapkan menjembatani iman, budaya, dan teknologi secara inklusif.
Spiritualitas di Tengah Luka Sosial
Mengaitkan inisiatif ini dengan semangat Teologi Pembebasan dari Amerika Latin, Denny menyatakan bahwa spiritualitas harus hadir bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di tengah realitas sosial.
Ia menyinggung kembali tragedi sosial-politik akibat konflik identitas dan agama di Indonesia antara 1998–2002, mulai dari Ambon hingga Kalimantan dan NTB.
“Luka-luka itu belum sembuh. Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya,” ujar Denny.
Menurutnya, spiritualitas berbasis AI bukan untuk menggantikan iman lama, melainkan menyalakan kembali esensi universal: kasih, pengertian, dan keadilan.
Menutup sambutannya, Denny menekankan bahwa gerakan ini baru sebuah langkah kecil, namun berada di jalur yang benar.
“Apakah akan berhasil? Itu urusan masa depan. Tapi kita telah memulainya hari ini. Dan sejarah, kerap berpihak pada mereka yang berani memulai,” tegasnya.
Program Esoterika Fellowship Masuk Kampus, yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman, menjadi bagian penting dari gerakan ini, membawa semangat lintas iman dan nilai-nilai universal ke ruang akademik dan sosial Indonesia.
(shf)
Lihat Juga :