Makna Simbol Surya Majapahit dalam Kehidupan Religius Era Nusantara Kuno
Jum'at, 18 April 2025 - 07:08 WIB
loading...
Surya Majapahit menjadi simbol yang banyak ditemukan di candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. FOTO/IST
A
A
A
KERAJAAN Majapahit menjadi salah satu kerajaan besar di Nusantara kala itu. Kesehariannya dipengaruhi agama Hindu yang cukup kuat. Dari catatan sejarah, Hindu Siwa menjadi agama resmi di kerajaan meski ada beberapa kepercayaan dan agama lain yang diakomodasi serta dihormati kerajaan.
Dalam kehidupan beragama masa Majapahit konon berkembang kultus terhadap dewa-dewa di antaranya Dewa Matahari. Dengan demikian konsep kosmogoni mendasari pandangan hidup masyarakat Majapahit.
Dikutip dari "700 Tahun Majapahit (1293-1993): Suatu Bunga Rampai", konsep kosmogoni dunia senantiasa berada di bawah pengaruh tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, bintang, dan planet. Kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai, apabila terjadi kesejajaran antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Baca juga: Kisah Mpu Prapanca, Penulis Sejarah Majapahit yang Mengungsi ke Lereng Gunung Akibat Hinaan Bangsawan
Refleksi konsep kosmologi tampak pada susunan bangunan dan benda-benda yang dianggap keramat. Cara penyusunan letak bangunan disesuaikan dengan susunan alam semesta, seperti orientasi bangunan diarahkan ke penjuru mata angin.
Kultus terhadap Dewa Matahari amat populer dalam kehidupan keagamaan Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya simbol-simbol yang dapat dihubungkan dengan matahari atau surya. Di antara simbol-simbol surya yang cukup dikenal adalah "Surya Majapahit", seperti yang terdapat di Candi-candi Penataran, Candi Rimbi, dan Candi Jabung. Ciri utama "Surya Majapahit" adalah adanya satu unsur yang selalu berada di tengah sebagai pusat, dikelilingi garis atau sinar berjumlah empat atau kelipatannya.
Maka wujud "Surya Majapahit" disusun sesuai arah mata angin atau kosmogoni. Pemujaan Dewa Surya dalam keagamaan Majapahit tampaknya juga dijiwai oleh konsep pemujaan terhadap matahari berkembang, sebelum Hindu Siwa menjadi agama negara.
Pemujaan matahari atau anggapan sebagai keturunan Dewa Matahari (Children of the Sun), telah dianut dan dikembangkan oleh pendukung budaya Megalitik, seperti yang masih dianut oleh beberapa suku bangsa di Indonesa. Suku bangsa yang melakukan pemujaan Dewa Matahari di antaranya suku yang berdiam di Pulau Timor, Kei, Seram, dan Pulau Sumba.
Dalam kehidupan beragama masa Majapahit konon berkembang kultus terhadap dewa-dewa di antaranya Dewa Matahari. Dengan demikian konsep kosmogoni mendasari pandangan hidup masyarakat Majapahit.
Dikutip dari "700 Tahun Majapahit (1293-1993): Suatu Bunga Rampai", konsep kosmogoni dunia senantiasa berada di bawah pengaruh tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, bintang, dan planet. Kesejahteraan dan kemakmuran dapat tercapai, apabila terjadi kesejajaran antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Baca juga: Kisah Mpu Prapanca, Penulis Sejarah Majapahit yang Mengungsi ke Lereng Gunung Akibat Hinaan Bangsawan
Refleksi konsep kosmologi tampak pada susunan bangunan dan benda-benda yang dianggap keramat. Cara penyusunan letak bangunan disesuaikan dengan susunan alam semesta, seperti orientasi bangunan diarahkan ke penjuru mata angin.
Kultus terhadap Dewa Matahari amat populer dalam kehidupan keagamaan Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya simbol-simbol yang dapat dihubungkan dengan matahari atau surya. Di antara simbol-simbol surya yang cukup dikenal adalah "Surya Majapahit", seperti yang terdapat di Candi-candi Penataran, Candi Rimbi, dan Candi Jabung. Ciri utama "Surya Majapahit" adalah adanya satu unsur yang selalu berada di tengah sebagai pusat, dikelilingi garis atau sinar berjumlah empat atau kelipatannya.
Maka wujud "Surya Majapahit" disusun sesuai arah mata angin atau kosmogoni. Pemujaan Dewa Surya dalam keagamaan Majapahit tampaknya juga dijiwai oleh konsep pemujaan terhadap matahari berkembang, sebelum Hindu Siwa menjadi agama negara.
Pemujaan matahari atau anggapan sebagai keturunan Dewa Matahari (Children of the Sun), telah dianut dan dikembangkan oleh pendukung budaya Megalitik, seperti yang masih dianut oleh beberapa suku bangsa di Indonesa. Suku bangsa yang melakukan pemujaan Dewa Matahari di antaranya suku yang berdiam di Pulau Timor, Kei, Seram, dan Pulau Sumba.
Lihat Juga :