Kisah Heroik Legenda Kopassus Pratu Suparlan Hadapi Ratusan Musuh di Belantara Timor Timur

Minggu, 06 April 2025 - 15:59 WIB
loading...
Kisah Heroik Legenda...
Di tengah kepungan ratusan senapan musuh, satu nama bangkit dan menolak mundur. Dia adalah prajurit Kopassus Pratu Suparlan yang dengan heroik menghadapi ratusan musuh di belantara Timor Timur. Foto/Ist
A A A
DI TENGAH kepungan ratusan senapan musuh, satu nama bangkit dan menolak mundur. Dia adalah anggota pasukan elite Kopassandha yang sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Pratu Suparlan. Dia merupakan simbol keberanian tanpa syarat, sang martir dalam pertempuran berdarah di Timor Timur.

Seorang diri, ia menahan gelombang musuh demi menyelamatkan pasukan yang nyaris hancur total. Kisah ini adalah potongan sejarah yang tercetak dengan darah dan kehormatan.

Baca juga: Kisah Tak Terduga Jenderal Kopassus AM Hendropriyono Bertemu Eks Musuh di Rimba Kalimantan Bong Kee Chok

Pada tahun 1975, dunia bergejolak. Revolusi Bunga mengguncang Portugal, melemahkan cengkeraman kolonial mereka di Timor Timur. Di saat kekosongan itu, muncul kekuatan baru, yakni Fretilin-kelompok separatis berhaluan kiri yang mengangkat senjata.

Warga yang pro-integrasi dengan Indonesia menjadi sasaran. Puluhan ribu nyawa sipil melayang. Indonesia tak tinggal diam.



Pasukan elite gabungan kemudian dibentuk. Sembilan prajurit TNI terbaik, termasuk Pratu Suparlan, diturunkan ke zona paling berbahaya, yakni pedalaman Hutan Larose pada 9 Januari 1983. Lima prajurit berasal dari Kopassandha, dan empat prajurit dari Kostrad. Pasukan elite ini dipimpin oleh Letnan Poniman.

Di lokasi ini, Fretilin menguasai penuh dengan berbagai senjata dan strategi gerilya.

Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh

Pertempuran Maut di Tengah Hutan


Misi awal berjalan lancar. Mereka berhasil menyergap pos pengamatan musuh. Tapi tak butuh waktu lama sebelum bencana datang.

Dikutip dari Majalah Baret Merah edisi April 2014, kala itu Pratu Suparlan menghadang lebih dari ratusan pasukan Fretelin saat berpatroli di KV 34-34/Komplek Liasidi yang merupakan sarang pemberontak Fretelin yang terkenal sadis dan kejam.

Awalnya dari balik pepohonan, 300 lebih pasukan Fretilin muncul, mengepung dari segala arah. Mereka membawa mortar, GLM, dan senapan serbu. Jumlah pasukan tak seimbang. Posisi pasukan TNI terjepit di bibir jurang.

Satu demi satu rekan Pratu Suparlan tumbang. Peluru datang dari segala arah. Sementara musuh terus mendesak, hanya ada satu pilihan, yakni mundur atau musnah.

Letnan Poniman, sang komandan, memerintahkan pasukan mundur lewat celah bukit. Tapi itu butuh waktu. Jika tak ada yang menahan serangan, tak satu pun akan selamat.

Tanpa ragu, Pratu Suparlan angkat tangan.

“Biar saya yang tahan mereka,” katanya.

Dengan senapan mesin otomatis FN di tangan yang ia ambil dari tubuh rekannya yang gugur, Suparlan maju ke garis depan. Peluru menembus tubuhnya. Tapi ia tak berhenti.

Dia seperti banteng terluka. Berlari ke arah musuh. Menembak. Menabrak. Bertarung.

Ketika peluru habis, dia tak lari. Dia cabut pisau. Bertarung satu lawan satu di semak-semak. Enam anggota Fretilin tumbang di tangannya.

Hingga akhirnya, tubuhnya mulai menyerah. Tenaga habis. Darah mengucur deras. Tapi tekadnya masih hidup.

Dengan sisa napas terakhir, ia mengeluarkan dua granat dari saku. Menarik pin. Berteriak: “Allahu Akbar!”
Dentuman keras mengguncang hutan. Puluhan pasukan Fretilin ikut roboh bersamanya.

Pengorbanan Abadi Tak Terlupakan


Dari sembilan prajurit, enam gugur. Tapi berkat pengorbanan Pratu Suparlan, sebagian berhasil lolos. Dan dari pihak Fretilin, 83 orang tewas. Satu perlawanan terakhir yang berhasil membalik keadaan.

Jasad Pratu Suparlan ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tak utuh. Tapi semangatnya tetap utuh, hidup dalam setiap langkah prajurit Kopassus hingga hari ini.

Pemerintah menganugerahkan Bintang Sakti sebagai bentuk penghargaan tertinggi. Dan untuk mengenang jasanya, nama Pratu Suparlan kini diabadikan sebagai nama landasan udara di Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung Barat.

Landasan pacu sepanjang 1.652 meter itu jadi tempat para prajurit elite berlatih, berlari di atas aspal yang mengabadikan nama seorang prajurit yang rela berlari menuju maut demi kawan-kawannya.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Aksi Heroik Pilot Marinir...
Aksi Heroik Pilot Marinir yang Gugur Ditembak demi Selamatkan Kopassus Di Timtim
23 Prajurit Kopassus...
23 Prajurit Kopassus dan Kostrad Dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa dari Panglima TNI
Tongkat Komando di Kopasgat...
Tongkat Komando di Kopasgat Berganti, Ada Kasiintel hingga Wadansatbravo 90 Pasgat
Rekomendasi
10 Tahun Arbitrase Laut...
10 Tahun Arbitrase Laut China Selatan Tak Mempan, Saatnya Mulai Perundingan COC
Jebakan Ilusi PDB, Mantan...
Jebakan Ilusi PDB, Mantan Menkeu Fuad Bawazier Ungkap Fakta di Balik Utang RI Rp8.000 Triliun
Rakernas Perdana IKAL...
Rakernas Perdana IKAL Lemhannas Rumuskan Program Strategis Dukung Asta Cita Prabowo
Berita Terkini
6 Kendaraan Tabrakan...
6 Kendaraan Tabrakan Beruntun di Tol Bintara Arah Cakung, 1 Orang Tewas dan 2 Luka-luka
Kemarau Makin Meluas,...
Kemarau Makin Meluas, BMKG Prediksi Potensi Hujan Lokal Masih Tetap Ada
Pecinta Hewan Sambangi...
Pecinta Hewan Sambangi Kelurahan Pluit, Spanduk Larangan Memberi Makan Kucing Tak Bertuan Dicopot
Dukung Fatwa Haram MUI...
Dukung Fatwa Haram MUI Jatim, Kadin dan APVI Tegaskan Produk Vape Legal Bebas Narkoba
Ada Konser Akbar Monas...
Ada Konser Akbar Monas 2026, Berikut Ini Jalur Alternatif Hindari Kemacetan
Gunung Semeru Erupsi,...
Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 3.500 Meter
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved