Kisah Penangkapan Crazy Rich Kiai Murmo yang Memicu Kemarahan Pangeran Diponegoro Kepada Belanda
Sabtu, 15 Maret 2025 - 07:23 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan sang penguasa residen wilayah Belanda atau sekelas pejabat pemerintah daerah kala itu Nahuys Van Burgst juga memerintahkan penyitaan dan perampasan harta benda Kiai Murmo Wijoyo tanpa sebab. Diduga penangkapan dan pengasingan sang crazy rich era Diponegoro ini hanya dijadikan kedok agar Belanda bisa menguasai harta benda milik sang kiai dan menjarah harta kekayaan desa Kepundung.
Kiai Murmo akhirnya dipulangkan Belanda ke tanah Jawa kembali pada September 1824. Ia diizinkan kembali ke Semarang dari pengasingannya di Ambon, tetapi kondisi kesehatan guru agama Pangeran Diponegoro semasa kecil itu sudah memburuk, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tanpa melihat keluarganya lagi.
Lambat laun tak hanya Kiai Murmo yang menjadi korban tangan besi sang residen Belanda, para santri yang belajar agama pun ikut dijatuhi hukuman mati. Pasalnya mereka dianggap menjadi simpatisan pro Pangeran Diponegoro.
Kasus penangkapan Kiai Murmo dan peristiwa penangkapan santri menjadi tahap penting merosotnya hubungan Diponegoro dengan penguasa kolonial Belanda. Pengasingan sang kiai selama enam tahun dan penangkapan santri mengguncang jiwa, serta menumbuhkan keyakinan diri Pangeran Diponegoro, bahwa para pejabat baru Belanda pasca 1816 dan para penyewa tanah betul-betul tidak menghormati Islam.
Kiai Murmo akhirnya dipulangkan Belanda ke tanah Jawa kembali pada September 1824. Ia diizinkan kembali ke Semarang dari pengasingannya di Ambon, tetapi kondisi kesehatan guru agama Pangeran Diponegoro semasa kecil itu sudah memburuk, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tanpa melihat keluarganya lagi.
Lambat laun tak hanya Kiai Murmo yang menjadi korban tangan besi sang residen Belanda, para santri yang belajar agama pun ikut dijatuhi hukuman mati. Pasalnya mereka dianggap menjadi simpatisan pro Pangeran Diponegoro.
Kasus penangkapan Kiai Murmo dan peristiwa penangkapan santri menjadi tahap penting merosotnya hubungan Diponegoro dengan penguasa kolonial Belanda. Pengasingan sang kiai selama enam tahun dan penangkapan santri mengguncang jiwa, serta menumbuhkan keyakinan diri Pangeran Diponegoro, bahwa para pejabat baru Belanda pasca 1816 dan para penyewa tanah betul-betul tidak menghormati Islam.
(abd)
Lihat Juga :