Kerajaan Kediri dan Singasari Kembali Bersatu usai Pemberontakan dan Perkawinan Politik Penuh Intrik
Sabtu, 22 Februari 2025 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Proses penyatuan Kediri dan Singasari sebagaimana diuraikan Prasasti Mula-Malurung juga berbeda dengan yang diuraikan Pararaton. Menurut Pararaton, penyatuan Singasari dan Kediri berlangsung melalui komplotan Rangga Wuni dan Mahisa Campaka, masing-masing adalah putera Sang Anusapati dan Mahisa Wungu Teleng, terhadap Sang Prabu Tohjaya.
Untuk menghindari penangkapan oleh Lembu Ampal atas perintah Sang Prabu Tohjaya, Rangga Wuni dan Mahisa Campaka bersembunyi di rumah Panji Patipati. Prof. Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" menyebutkan dengan bantuan tentara Rajasa dan Simelir, mereka menyerang istana dan berhasil menimbulkan kekacauan.
Pada kekacauan itu, Nararya Tohjaya berusaha untuk melarikan diri, namun karena menderita luka-luka terpaksa diangkut ke Katang Lumbang, di mana beliau mangkat. Sepeninggal Tohjaya, Rangga Wuni naik tahta dan mengambil nama abhiseka Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka mengambil nama abhiseka Narasinghamurti dan menjadi Ratu Angabhaya (raja kedua atau wakil raja).
Prasasti Mula-Malurung tidak menyinggung soal pemberontakan atau komplotan, menguraikan secara biasa bahwa sepeninggal Sang Prabu Tohjaya, Nararya Seminingrat naik tahta berkat dukungan para pembesar, terutama dukungan Sang Pamegat di Ranu Kababyan Sang Apanji Patipati.
Berkat dukungan itu, pulih kembali Kerajaan Tumapel atau yang biasa dikenal Singasari. Sebagai balas budi, Sang Prabu Seminingrat atau yang akrab dengan Wisnuwardhana meresmikan Desa Kayu Manis sebagai tanah perdikan bagi para brahmana, sebagaimana terdapat pada lempengan III B Prasasti Mula-Malurung.
Dapat ditambahkan di sini bahwa lempengan III A menguraikan perkawinan antara Nararya Seminingrat atau Wisnuwardhana dan Nararya Waning Hyun, putri Bhatara Parameswara dari Kediri, paman Nararya Seminingrat. Jadi, Seminingrat dan Waning Hyun adalah saudara sepupu.
Untuk menghindari penangkapan oleh Lembu Ampal atas perintah Sang Prabu Tohjaya, Rangga Wuni dan Mahisa Campaka bersembunyi di rumah Panji Patipati. Prof. Slamet Muljana pada bukunya "Tafsir Sejarah Nagarakretagama" menyebutkan dengan bantuan tentara Rajasa dan Simelir, mereka menyerang istana dan berhasil menimbulkan kekacauan.
Pada kekacauan itu, Nararya Tohjaya berusaha untuk melarikan diri, namun karena menderita luka-luka terpaksa diangkut ke Katang Lumbang, di mana beliau mangkat. Sepeninggal Tohjaya, Rangga Wuni naik tahta dan mengambil nama abhiseka Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka mengambil nama abhiseka Narasinghamurti dan menjadi Ratu Angabhaya (raja kedua atau wakil raja).
Prasasti Mula-Malurung tidak menyinggung soal pemberontakan atau komplotan, menguraikan secara biasa bahwa sepeninggal Sang Prabu Tohjaya, Nararya Seminingrat naik tahta berkat dukungan para pembesar, terutama dukungan Sang Pamegat di Ranu Kababyan Sang Apanji Patipati.
Berkat dukungan itu, pulih kembali Kerajaan Tumapel atau yang biasa dikenal Singasari. Sebagai balas budi, Sang Prabu Seminingrat atau yang akrab dengan Wisnuwardhana meresmikan Desa Kayu Manis sebagai tanah perdikan bagi para brahmana, sebagaimana terdapat pada lempengan III B Prasasti Mula-Malurung.
Dapat ditambahkan di sini bahwa lempengan III A menguraikan perkawinan antara Nararya Seminingrat atau Wisnuwardhana dan Nararya Waning Hyun, putri Bhatara Parameswara dari Kediri, paman Nararya Seminingrat. Jadi, Seminingrat dan Waning Hyun adalah saudara sepupu.
Lihat Juga :