Hans Hamzah, Intel TNI AD dan Ahli Kunci Keturunan Tionghoa yang Membobol Koper Atase Militer Portugal
Minggu, 12 Januari 2025 - 13:52 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: 16 Pati TNI Bintang 2 Dimutasi Jenderal Agus Subiyanto Awal 2025, Ada yang Naik Pangkat
Setelah gagal membongkar isi koper Soers di Jakarta, Dading merancang siasat. Hans Hamzah menyamar sebagai Kepala Cabang Maskapai Merpati Airlines ketika Soares berada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, bersiap terbang ke Kupang. Saat Soares melapor, Hamzah berimprovisasi bahwa visa sang atase harus mendapat persetujuan dari imigrasi.
“Mayor Antonio Joao Soares diminta untuk melapor ke kantor imigrasi setempat untuk pengecekan rutin. Hal ini sebenarnya merupakan tugas yang diemban oleh Kolonel Dading Kalbuadi atas perintah Brigjen Benny Moerdani dalam rangka mengetahui dokumen yang dibawa oleh perutusan Portugal,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.
Soares tentu saja berang. Namun Hamzah dengan cerdik mengantarnya ke kantor Imigrasi di Denpasar. Saat Soares akhirnya dipertemukan dengan kepala Imigrasi di ruangannya, koper yang dibawa ditinggalkan di luar. Saat itulah Hamzah secepat kilat membuka kunci koper. Dokumen-dokumen rahasia Soares lantas dipotret prajurit intel lainnya yang bertugas sebagai fotografer.
Hans Hamzah juga sukses memimpin sebuah operasi mata-mata bersandi Puyuh. Operasi ini dibuat ketika Bakin mencuriga kedatangan Hugo Tinguely, mahasiswa asal Swiss ke Jakarta pada April 1977. Bakin sebelumnya telah menerima memo dari CIA tentang kemungkinan serangan terhadap kampanye Golkar yang akan berlangsung di Stadion Senayan. Namun CIA menyebut informasi itu dari sumber yang masih diragukan.
Belakangan Bakin juga mendapat informasi dari mitra asingnya. Sebelum masuk Indonesia, Tinguely sebulan tinggal di Jepang. Di negara itu dia menjadi buruan polisi karena dianggap bersimpati dengan Tentara Merah Jepang. Bekal informasi itu menyimpulkan Tinguely sebagai target yang harus diawasi dan dikorek informasinya. “Satsus Intel bergegas melakukan pengintaian terhadap mahasiswa yang dicurigai ini. Dengan bersandi Puyuh, tim ini dipimpin Hans Hamzah,” tutur Ken.
Setelah gagal membongkar isi koper Soers di Jakarta, Dading merancang siasat. Hans Hamzah menyamar sebagai Kepala Cabang Maskapai Merpati Airlines ketika Soares berada di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, bersiap terbang ke Kupang. Saat Soares melapor, Hamzah berimprovisasi bahwa visa sang atase harus mendapat persetujuan dari imigrasi.
“Mayor Antonio Joao Soares diminta untuk melapor ke kantor imigrasi setempat untuk pengecekan rutin. Hal ini sebenarnya merupakan tugas yang diemban oleh Kolonel Dading Kalbuadi atas perintah Brigjen Benny Moerdani dalam rangka mengetahui dokumen yang dibawa oleh perutusan Portugal,” tulis Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.
Soares tentu saja berang. Namun Hamzah dengan cerdik mengantarnya ke kantor Imigrasi di Denpasar. Saat Soares akhirnya dipertemukan dengan kepala Imigrasi di ruangannya, koper yang dibawa ditinggalkan di luar. Saat itulah Hamzah secepat kilat membuka kunci koper. Dokumen-dokumen rahasia Soares lantas dipotret prajurit intel lainnya yang bertugas sebagai fotografer.
Hans Hamzah juga sukses memimpin sebuah operasi mata-mata bersandi Puyuh. Operasi ini dibuat ketika Bakin mencuriga kedatangan Hugo Tinguely, mahasiswa asal Swiss ke Jakarta pada April 1977. Bakin sebelumnya telah menerima memo dari CIA tentang kemungkinan serangan terhadap kampanye Golkar yang akan berlangsung di Stadion Senayan. Namun CIA menyebut informasi itu dari sumber yang masih diragukan.
Belakangan Bakin juga mendapat informasi dari mitra asingnya. Sebelum masuk Indonesia, Tinguely sebulan tinggal di Jepang. Di negara itu dia menjadi buruan polisi karena dianggap bersimpati dengan Tentara Merah Jepang. Bekal informasi itu menyimpulkan Tinguely sebagai target yang harus diawasi dan dikorek informasinya. “Satsus Intel bergegas melakukan pengintaian terhadap mahasiswa yang dicurigai ini. Dengan bersandi Puyuh, tim ini dipimpin Hans Hamzah,” tutur Ken.
Lihat Juga :