Mengenal Ekspedisi Hongi yang Buat Pattimura dan Rakyat Maluku Melawan Belanda
Sabtu, 28 Desember 2024 - 09:35 WIB
loading...
Pattimura atau Thomas Matulessy memimpin perlawanan rakyat Maluku Tengah terhadap penjajah Belanda. Dialah yang mengobarkan genderang perang ke Belanda usai melihat kekejaman pemerintahan Belanda dibantu VOC. Foto: Dok SINDOnews
A
A
A
PATTIMURAatau Thomas Matulessy memimpin perlawanan rakyat Maluku Tengah terhadap penjajah Belanda. Dialah yang mengobarkan genderang perang ke Belanda usai melihat kekejaman pemerintahan Belanda dibantu VOC yang merupakan perusahaan milik Belanda.
Awalnya Pattimura memberikan ancaman gertak sambal ke Belanda pada 29 Mei 1817. Saat itu Pattimura menuntut perbaikan dari Belanda yang menguasai kawasan Maluku Tengah, termasuk Ambon. Pattimura dan pengikutnya mengancam akan memberi perlawanan jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Baca juga: 6 Fakta Kapitan Pattimura, Pahlawan Berdarah Bangsawan asal Maluku
Memang secara sosial, kedatangan VOC ke Maluku di abad 17 memunculkan permukiman-permukiman baru dengan nama 'Negeri' di pantai Kepulauan Maluku Tengah. Berangsur-angsur muncul suatu struktur sosial di negeri-negeri yang merupakan gabungan antara unsur-unsur sistem budaya lama dengan unsur yang dimasukkan VOC.
Masyarakat negeri di pantai Kepulauan Ambon-Uliase mendapat hak atas tanah (dati) untuk perkebunan-perkebunan cengkeh di samping tanah-tanah pusaka milik keluarga masing-masing.
Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia", hasil cengkeh setiap dati dijual kepada VOC dengan harga tertentu, sedangkan hasil tanah pusaka berupa bahan makanan dipakai oleh keluarga (famili) yang mengerjakannya.
Masyarakat Maluku Tengah pun dibuat kesal oleh VOC saat melakukan ekspedisi Hongi. Pasalnya, ekspedisi ini justru banyak menjadi tragedi sejarah yang menimpa masyarakat Maluku.
Awalnya Pattimura memberikan ancaman gertak sambal ke Belanda pada 29 Mei 1817. Saat itu Pattimura menuntut perbaikan dari Belanda yang menguasai kawasan Maluku Tengah, termasuk Ambon. Pattimura dan pengikutnya mengancam akan memberi perlawanan jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Baca juga: 6 Fakta Kapitan Pattimura, Pahlawan Berdarah Bangsawan asal Maluku
Memang secara sosial, kedatangan VOC ke Maluku di abad 17 memunculkan permukiman-permukiman baru dengan nama 'Negeri' di pantai Kepulauan Maluku Tengah. Berangsur-angsur muncul suatu struktur sosial di negeri-negeri yang merupakan gabungan antara unsur-unsur sistem budaya lama dengan unsur yang dimasukkan VOC.
Masyarakat negeri di pantai Kepulauan Ambon-Uliase mendapat hak atas tanah (dati) untuk perkebunan-perkebunan cengkeh di samping tanah-tanah pusaka milik keluarga masing-masing.
Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia", hasil cengkeh setiap dati dijual kepada VOC dengan harga tertentu, sedangkan hasil tanah pusaka berupa bahan makanan dipakai oleh keluarga (famili) yang mengerjakannya.
Masyarakat Maluku Tengah pun dibuat kesal oleh VOC saat melakukan ekspedisi Hongi. Pasalnya, ekspedisi ini justru banyak menjadi tragedi sejarah yang menimpa masyarakat Maluku.
Lihat Juga :