Perang China dan Giyanti sebabkan Wilayah Kerajaan Mataram Menyempit
Jum'at, 20 Desember 2024 - 08:15 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini diperparah dengan perlawanan Untung Surapati yang dapat dipadamkan sekitar 1705, daerah Cerebon yang juga mengakui kekuasaan Mataram, sisa Priangan, dan separuh bagian timur Pulau Madura dianeksasi oleh Belanda.
Baca juga: 14 Perwira TNI Duduki Jabatan Baru di BIN usai Dimutasi Jenderal Agus Subiyanto
Selanjutnya, setelah Perang Cina berakhir pada 1743, seluruh daerah pantai utara Jawa dan seluruh Pulau Madura sudah dikuasai Belanda. Wilayah negara makin menyempit dengan berakhirnya Perang Giyanti pada 1755, yang berujung Perjanjian Giyanti.
Perjanjian ini memaksa wilayah negara Mataram dipecah menjadi dua bagian, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Pada 1757 dan 1813 wilayah terpecah lagi dengan munculnya kekuasaan Mangkunegaran dan Pakualaman.
Sementara itu, perubahan kekuasaan pada negara-negara di Jawa untuk pertama kali terjadi pada masa Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), yaitu dengan adanya peraturan baru mengenai upacara penerimaan residen di Istana Surakarta dan Yogyakarta.
Baca juga: 14 Perwira TNI Duduki Jabatan Baru di BIN usai Dimutasi Jenderal Agus Subiyanto
Selanjutnya, setelah Perang Cina berakhir pada 1743, seluruh daerah pantai utara Jawa dan seluruh Pulau Madura sudah dikuasai Belanda. Wilayah negara makin menyempit dengan berakhirnya Perang Giyanti pada 1755, yang berujung Perjanjian Giyanti.
Perjanjian ini memaksa wilayah negara Mataram dipecah menjadi dua bagian, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Pada 1757 dan 1813 wilayah terpecah lagi dengan munculnya kekuasaan Mangkunegaran dan Pakualaman.
Sementara itu, perubahan kekuasaan pada negara-negara di Jawa untuk pertama kali terjadi pada masa Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), yaitu dengan adanya peraturan baru mengenai upacara penerimaan residen di Istana Surakarta dan Yogyakarta.
Lihat Juga :