Waduh! 10,40% Warga Jatim Kehilangan Pekerjaan Akibat COVID-19
Selasa, 01 September 2020 - 09:26 WIB
loading...
Direktur Eksekutif Indopol Survei, Ratno Sulistiyanto. Foto/SINDOnews/Lukman Hakim
A
A
A
SURABAYA - Hasil survei dari Indopol Survei menyebutkan, sebanyak 10,40% masyarakat Jawa Timur (Jatim) yang mengaku kehilangan pekerjaan selama wabah COVID-19 . Kemudian ada 7,2% mengaku dirumahkan, dan 37,3% mengaku pekerjaannya berkurang selama wabah.
(Baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Pesantren Darussalam Jadi 539 Santri )
"PHK, dirumahkan, dan berkurangnya pekerjaan paling parah dialami mereka yang berpendapatan kurang dari Rp3 juta per bulan. Kondisi PHK terburuk dialami di Kabupaten Malang, Sampang, Kota Malang, Kota Madiun, dan Sumenep. Kondisi pekerja dirumahkan terburuk dialami di Situbondo, Pacitan, Kota Kediri, Kota Pasuruan, Gresik, Lamongan, dan Tuban," kata Direktur Eksekutif Indopol Survei, Ratno Sulistiyanto, Selasa (1/9/2020).
Indopol Survei juga menyebutkan, 58% masyarakat Jatim prihatin sekaligus waspada terhadap penularan COVID-19 ini. Ratno menganggap wajar jika masyarakat prihatin selama pandemi COVID-19 . Sebab, 17% masyarakat menilai COVID-19 telah menjadi penyebab kesengsaraan kehidupan mereka. "Di mana terdapat 16,2% masyarakat Jatim yang menganggap fenomena COVID-19 telah dilebih-lebihkan oleh pemerintah dan WHO," ujarnya.
(Baca juga: Tuban Zona Merah, Ribuan Orang Asyik Goyang dengan Biduan Seksi )
(Baca juga: Kasus Positif COVID-19 di Pesantren Darussalam Jadi 539 Santri )
"PHK, dirumahkan, dan berkurangnya pekerjaan paling parah dialami mereka yang berpendapatan kurang dari Rp3 juta per bulan. Kondisi PHK terburuk dialami di Kabupaten Malang, Sampang, Kota Malang, Kota Madiun, dan Sumenep. Kondisi pekerja dirumahkan terburuk dialami di Situbondo, Pacitan, Kota Kediri, Kota Pasuruan, Gresik, Lamongan, dan Tuban," kata Direktur Eksekutif Indopol Survei, Ratno Sulistiyanto, Selasa (1/9/2020).
Indopol Survei juga menyebutkan, 58% masyarakat Jatim prihatin sekaligus waspada terhadap penularan COVID-19 ini. Ratno menganggap wajar jika masyarakat prihatin selama pandemi COVID-19 . Sebab, 17% masyarakat menilai COVID-19 telah menjadi penyebab kesengsaraan kehidupan mereka. "Di mana terdapat 16,2% masyarakat Jatim yang menganggap fenomena COVID-19 telah dilebih-lebihkan oleh pemerintah dan WHO," ujarnya.
(Baca juga: Tuban Zona Merah, Ribuan Orang Asyik Goyang dengan Biduan Seksi )
Lihat Juga :