DMC Dompet Dhuafa Kirim Lampu Tenaga Surya ke Pengungsi Erupsi Lewotobi
Senin, 02 Desember 2024 - 15:04 WIB
loading...
A
A
A
Lampu Tatasurya membawa harapan baru bagi para penyintas. Mereka cukup mengarahkan alat panelnya untuk menyerap sinar matahari dan lampu menyala seketika.
Dompet Dhuafa memprioritaskan lampu tatasurya ini posko pengungsian dengan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita. "Kami memprioritaskan kelompok rentan,” ujar Taqi Falsafati selaku PIC Penanganan Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki DMC Dompet Dhuafa.
Senyum merekah kembali saat mereka coba menyalakan lampu. Seraya melihat harapan tepat di depan mata. Tim Dompet Dhuafa bersama warga memasang panel menggunakan kayu atau bambu yang tertancap di tanah, ada pula yang diletakan di atas pohon, mengingat lokasinya berada di perhutanan.
"Terima kasih banyak atas bantuannya. Kita tidak perlu khawatir lagi soal penerangan di malam hari", tutup Theresia.
Sudah 25 hari berlalu semenjak Gunung Lewotobi Laki-Laki menggemparkan masyarakat Indonesia. Selama 25 hari itu pula pemerintah, lembaga dan komunitas saling bahu-membahu bantu penanganan untuk penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Abu menyelimuti rumah, lahan, jalan dan menyisakan kota kosong dalam seketika. Hanya beberapa hewan liar yang berkeliaran di kota sunyi tersebut. Pemandangan asri yang hijau berubah seketika menjadi nuansa muram.
Masyarakat mengungsi ke berbagai tempat menjauhi laju asap dan gunung. Beberapa mengungsi ke tempat publik seperti sekolah dan tempat ibadah yang memang memungkinkan menampung banyak jiwa.
Beberapa lainnya mengungsi secara mandiri. Ada yang mengungsi ke hutan dan sawah serta mendirikan tenda terpal seadanya, penerangan seadanya, dan tempat sanitasi seadanya.
Dompet Dhuafa memprioritaskan lampu tatasurya ini posko pengungsian dengan kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita. "Kami memprioritaskan kelompok rentan,” ujar Taqi Falsafati selaku PIC Penanganan Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki DMC Dompet Dhuafa.
Senyum merekah kembali saat mereka coba menyalakan lampu. Seraya melihat harapan tepat di depan mata. Tim Dompet Dhuafa bersama warga memasang panel menggunakan kayu atau bambu yang tertancap di tanah, ada pula yang diletakan di atas pohon, mengingat lokasinya berada di perhutanan.
"Terima kasih banyak atas bantuannya. Kita tidak perlu khawatir lagi soal penerangan di malam hari", tutup Theresia.
Sudah 25 hari berlalu semenjak Gunung Lewotobi Laki-Laki menggemparkan masyarakat Indonesia. Selama 25 hari itu pula pemerintah, lembaga dan komunitas saling bahu-membahu bantu penanganan untuk penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.
Abu menyelimuti rumah, lahan, jalan dan menyisakan kota kosong dalam seketika. Hanya beberapa hewan liar yang berkeliaran di kota sunyi tersebut. Pemandangan asri yang hijau berubah seketika menjadi nuansa muram.
Masyarakat mengungsi ke berbagai tempat menjauhi laju asap dan gunung. Beberapa mengungsi ke tempat publik seperti sekolah dan tempat ibadah yang memang memungkinkan menampung banyak jiwa.
Beberapa lainnya mengungsi secara mandiri. Ada yang mengungsi ke hutan dan sawah serta mendirikan tenda terpal seadanya, penerangan seadanya, dan tempat sanitasi seadanya.
Lihat Juga :