Dedi Mulyadi: Tidak Ada Sukses dengan Mengeluh, Hidup Harus Berjuang Tanpa Putus Asa
Senin, 18 November 2024 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
Masuk SMP, jarak dari rumah 10 kilometer (km), Kang Dedi membeli sepeda untuk ke sekolah dengan menjual domba. "Jadi strugle. Apakah saya minder? Tidak. Mereka pinter matematika, saya pinter ngomong. Temen saya pinter bahasa Inggris, saya pinter bahasa Sunda. Kalau ulangan bahasa Sunda saya bisa, mereka enggak bisa," tutur Kang Dedi.
Namun kondisi sederhana tidak membuat Kang Dedi rendah diri. Kesederhanaan membuat Kang Dedi lebih menggali potensi yang dimiliki, salah satunya pidato.
"Dari semua murid, yang bisa naik mimbar di sekolah ya saya. Maka saya jadi idola di sekolah. Kemampuan berbicara. Tidak pernah rendah diri," ucapnya.
Saat SMA, Kang Dedi bersekolah di SMA Purwadadi, bukan sekolah favorit. Jarak SMA dari rumah 20 km. Maka, ibu menyuruh Kang Dedi tinggal di tempat kos. Namun Kang Dedi terpikir biaya untuk menyewa tempat kos setiap bulan.
Di tempat kos, Kang Dedi bangun dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Kang Dedi membantu pemilik tempat kos mengisi bak mandi dengan air, menyapu halaman, mengepel, dan menyiram bunga.
Akhirnya, pemilik kos menggratiskan sewa kamar kos karena Kang Dedi meringankan bebannya tidak perlu lagi mengisi bak mandi, menyiram bunga, menyapu halaman, dan mengepel. Bahkan ibu kos memberi makanan untuk sarapan Kang Dedi.
Kang Dedi sukses menjadi politisi tidak secara tiba-tiba. Kang Dedi merintis dari bawah, menjadi aktivis. Saat mahasiswa, Kang Dedi menjadi Ketua PC HMI Persiapan Purwakarta. Beberapa kali menggelar acara dibubarkan aparat karena dinilai ekstrem, melawan pemerintah Orde Baru (Orba).
Dari pengalaman ini, Kang Dedi memiliki bekal cukup dengan menguasai kemampuan menulis pidato bagi anggota DPRD Purwakarta. Untuk makan, sedapatnya diberi oleh anggota dewan. "Makanya, politisi muda zaman dulu badannya kurus, matanya celong, dan bajunya lusuh," kata Kang Dedi.
Berbeda dengan politisi muda zaman sekarang. Rambutnya dijambul dan jasnya keren. "Belum tentu kapilih (terpilih), tapi penampilan diheulakeun (didahulukan)," ujarnya.
Namun kondisi sederhana tidak membuat Kang Dedi rendah diri. Kesederhanaan membuat Kang Dedi lebih menggali potensi yang dimiliki, salah satunya pidato.
"Dari semua murid, yang bisa naik mimbar di sekolah ya saya. Maka saya jadi idola di sekolah. Kemampuan berbicara. Tidak pernah rendah diri," ucapnya.
Saat SMA, Kang Dedi bersekolah di SMA Purwadadi, bukan sekolah favorit. Jarak SMA dari rumah 20 km. Maka, ibu menyuruh Kang Dedi tinggal di tempat kos. Namun Kang Dedi terpikir biaya untuk menyewa tempat kos setiap bulan.
Di tempat kos, Kang Dedi bangun dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Kang Dedi membantu pemilik tempat kos mengisi bak mandi dengan air, menyapu halaman, mengepel, dan menyiram bunga.
Akhirnya, pemilik kos menggratiskan sewa kamar kos karena Kang Dedi meringankan bebannya tidak perlu lagi mengisi bak mandi, menyiram bunga, menyapu halaman, dan mengepel. Bahkan ibu kos memberi makanan untuk sarapan Kang Dedi.
Kang Dedi sukses menjadi politisi tidak secara tiba-tiba. Kang Dedi merintis dari bawah, menjadi aktivis. Saat mahasiswa, Kang Dedi menjadi Ketua PC HMI Persiapan Purwakarta. Beberapa kali menggelar acara dibubarkan aparat karena dinilai ekstrem, melawan pemerintah Orde Baru (Orba).
Dari pengalaman ini, Kang Dedi memiliki bekal cukup dengan menguasai kemampuan menulis pidato bagi anggota DPRD Purwakarta. Untuk makan, sedapatnya diberi oleh anggota dewan. "Makanya, politisi muda zaman dulu badannya kurus, matanya celong, dan bajunya lusuh," kata Kang Dedi.
Berbeda dengan politisi muda zaman sekarang. Rambutnya dijambul dan jasnya keren. "Belum tentu kapilih (terpilih), tapi penampilan diheulakeun (didahulukan)," ujarnya.
Lihat Juga :