Sultanah Safiatuddin, Ratu Pertama Kesultanan Aceh Pecinta Ilmu Pengetahuan

Selasa, 10 September 2024 - 06:10 WIB
loading...
Sultanah Safiatuddin,...
Sultanah Safiatuddin merupakan putri sulung Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam. Foto/Istimewa
A A A
SULTANAH Safiatuddin merupakan putri sulung Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam, merupakan salah satu pemimpin Aceh yang disegani, bahkan mampu membuat penjajah Belanda tertekan.

Setelah suaminya Sultan Iskandar Tsani wafat, Sultanah Safiatuddin naik tahta dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul Alam Syah Johan Berdaulat Zillu Ilahi fi'I Alam. Safiatuddin memiliki nama asli Putri Sri Alam.

Dikutip dari "Perempuan-Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa" yang ditulis Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, saat itu banyak yang tak setuju bila perempuan menjadi pemimpin dengan alasan-alasan tertentu.

Baca juga: Kisah Pangeran Sambernyawa Menembus Gunung Lawu untuk Serang Belanda di Ponorogo

Safiatuddin menghadapi penentangan dari para ulama di Aceh saat itu karena ia seorang perempuan. Banyak yang tidak setuju seorang perempuan memimpin, tetapi setelah wafatnya Sultan Iskandar Tsani, sulit untuk menemukan pengganti laki-laki dari keluarga dekat.

Akhirnya, ulama besar Aceh, Nuruddin ar-Raniri, menengahi perdebatan tersebut dan berhasil meyakinkan para ulama untuk menerima Safiatuddin sebagai penguasa.

Selama 35 tahun memimpin, Sultanah Safiatuddin membentuk pasukan perempuan pengawal istana yang turut bertempur dalam Perang Malaka pada tahun 1639. Ia juga melanjutkan tradisi pemberian tanah kepada para pahlawan perang sebagai bentuk penghargaan.

Sultanah Safiatuddin dikenal sebagai sosok yang cerdas dan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia menguasai empat bahasa lainnya, yaitu Arab, Persia, Spanyol, dan Urdu.

Baca juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Gerakan Anti Tionghoa untuk Melawan Belanda

Pada masa pemerintahannya, ilmu pengetahuan dan kesusastraan berkembang pesat, menghasilkan banyak karya besar. Sultanah Safiatuddin juga berhasil menolak upaya Belanda untuk menempatkan diri di Aceh, membuat VOC gagal memperoleh komoditi seperti timah.

Sebagai pemimpin, Safiatuddin juga memperhatikan peningkatan status perempuan di masyarakat. Ia membuat peraturan yang mendukung kesetaraan gender dan perlindungan perempuan, termasuk menerapkan Cap Sikureung, stempel resmi Kesultanan Aceh Darussalam.

Sultanah Safiatuddin wafat pada 23 Oktober 1675, meninggalkan warisan kepemimpinan yang kuat dan memajukan Aceh dalam berbagai bidang, termasuk politik, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Setelah kematian Sultan Iskandar Muda, tahta Kesultanan Aceh dipegang oleh suami Safiatuddin, Sultan Iskandar Tsani, yang merupakan putra Sultan Ahmad Syah dari Pahang, Malaysia. Mereka menikah pada tahun 1617 setelah Pahang ditaklukkan oleh Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Tsani memerintah dari tahun 1636 hingga 1641 sebelum meninggal dunia, yang kemudian menimbulkan krisis dalam pencarian penggantinya.

Ketidaksepakatan tentang kepemimpinan perempuan diatasi oleh Nuruddin ar-Raniri, yang meyakinkan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin selama memiliki kualitas yang diperlukan, seperti amanah, adil, dan berilmu.

Berkat dukungan ini, Safiatuddin naik tahta pada tahun 1641 dan mendapatkan gelar Tajul Alam Safiatuddin Syah. Sebagai pemimpin, Safiatuddin tidak hanya menjaga kejayaan yang diwariskan ayahnya, tetapi juga memperkuat diplomasi yang mampu mencegah invasi asing.

Ia juga melakukan serangan militer terhadap VOC di Perak dan Pantai Barat Sumatra, yang dianggap telah melanggar kedaulatan Aceh. Di bidang pendidikan dan budaya, Safiatuddin memajukan Masjid Jami' Baiturrahman di Banda Aceh dan membangun berbagai pesantren.

Dengan bantuan Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkil, yang saat itu menjabat sebagai mufti, Safiatuddin mendorong kemajuan ilmu pengetahuan. Para ulama menghasilkan berbagai karya penting, termasuk kitab Hidayatul-Iman bi Fadhlil-Manan karya Syekh Ar-Raniry.

Safiatuddin juga membuka lembaga pendidikan untuk perempuan, memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai profesi. Bahkan, perempuan diizinkan duduk di Majelis Mahkamah Rakyat, parlemen Kesultanan Aceh.

Di bawah kepemimpinannya, Aceh mengalami kemajuan signifikan dalam politik, budaya, dan ilmu pengetahuan.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
15 Ribu Hektare Lahan...
15 Ribu Hektare Lahan Hangus Akibat Karhutla di Aceh dan Riau
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Perkenalkan Budaya Aceh,...
Perkenalkan Budaya Aceh, Peserta Audisi Miss Indonesia 2026 Tampil dengan Tari Ratoh Jaroe
Perjuangan Teuku Feroz...
Perjuangan Teuku Feroz Bantu Anak Aceh Tembus Kampus Top Nasional
Ambon, Poso, dan Aceh...
Ambon, Poso, dan Aceh Tenang, Anies: Di Situ Ada Sidik Jarinya Pak JK
Rekomendasi
Polri Ungkap Peran Ganda...
Polri Ungkap Peran Ganda Frans Antoni di Jaringan Narkoba Fredy Pratama
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Berita Terkini
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Pramono Bangun Pedestrian...
Pramono Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas untuk Tingkatkan Konektivitas
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Kasus Pemuda Tewas di...
Kasus Pemuda Tewas di Selokan Mustikajaya: 4 Orang Ditangkap, Motif Digali Polisi
Dukung Rumah Pastori...
Dukung Rumah Pastori GPdI Eklesia Amban, Kemenag Komitmen Pembangunan Sarana Keagamaan
Infografis
Bayraktar Kizilelma...
Bayraktar Kizilelma Turki, Jet Tempur Nirawak Pertama di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved