Kisah Perlawanan Ken Dedes, Gadis Cantik Anak Pendeta saat Diculik Penguasa Tumapel
Rabu, 24 Juli 2024 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Tunggul Ametung tidak gentar. Dengan nada sarkasme, ia menantang Ken Dedes untuk melontarkan semua kutukan yang diinginkannya. Baginya, kutukan dari seorang brahmana hanyalah omong kosong belaka.
“Lontarkanlah semua kutukanmu! Aku akan buktikan bahwa para brahmana tidak berdaya menghadapi kekuatan seorang ksatria,” ujar Tunggul Ametung dengan senyum sinis. “Aku akan menjadikanmu permaisuri di singgasana Tumapel, dan tidak ada yang bisa menghentikanku.”
Ken Dedes tidak tinggal diam. Perlawanan yang ia lakukan semakin kuat, dengan kecaman dan kutukan yang terus mengalir. Namun, setiap kata-kata keras yang keluar dari mulutnya hanya membuat Tunggul Ametung semakin keras dan penuh tantangan.
“Kau dan kaum brahmana-mu terlalu pongah. Kalian merasa berada di atas, tetapi nyatanya selalu merangkak di hadapan kami, para ksatria,” ejek Tunggul Ametung. “Masyarakat Tumapel tidak butuh dewa-dewa khayalanmu. Mereka hanya perlu menyembah Dewa Wisnu yang maha pemurah dan penyayang. Dan kaum brahmana bisa hidup nyaman karena kemurahan hatiku sebagai penguasa.”
Pernyataan itu membuat Ken Dedes semakin marah. Ia menuduh Tunggul Ametung sebagai sosok yang pongah dan congkak. Namun, Tunggul Ametung membalikkan tuduhan itu. Baginya, kaum brahmana-lah yang lebih munafik dan penuh kepura-puraan.
“Lontarkanlah semua kutukanmu! Aku akan buktikan bahwa para brahmana tidak berdaya menghadapi kekuatan seorang ksatria,” ujar Tunggul Ametung dengan senyum sinis. “Aku akan menjadikanmu permaisuri di singgasana Tumapel, dan tidak ada yang bisa menghentikanku.”
Ken Dedes tidak tinggal diam. Perlawanan yang ia lakukan semakin kuat, dengan kecaman dan kutukan yang terus mengalir. Namun, setiap kata-kata keras yang keluar dari mulutnya hanya membuat Tunggul Ametung semakin keras dan penuh tantangan.
“Kau dan kaum brahmana-mu terlalu pongah. Kalian merasa berada di atas, tetapi nyatanya selalu merangkak di hadapan kami, para ksatria,” ejek Tunggul Ametung. “Masyarakat Tumapel tidak butuh dewa-dewa khayalanmu. Mereka hanya perlu menyembah Dewa Wisnu yang maha pemurah dan penyayang. Dan kaum brahmana bisa hidup nyaman karena kemurahan hatiku sebagai penguasa.”
Pernyataan itu membuat Ken Dedes semakin marah. Ia menuduh Tunggul Ametung sebagai sosok yang pongah dan congkak. Namun, Tunggul Ametung membalikkan tuduhan itu. Baginya, kaum brahmana-lah yang lebih munafik dan penuh kepura-puraan.
Lihat Juga :