alexametrics

Pengajar Voksi Humas UI Berikan Pelatihan Anti Hoaks di Sulteng

loading...
Pengajar Voksi Humas UI Berikan Pelatihan Anti Hoaks di Sulteng
Pengajar Vokasi Humas UI ikut memberi kontribusi pada kegiatan training dan diskusi Saring Sebelum Sharing di Sulteng. Foto/R Ratna P
A+ A-
PALU - Pengajar Vokasi Humas UI dalam program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) bersama BNPT dan FKPT Sulawesi Tengah (Sulteng) ikut meramaikan training dan diskusi "Saring Sebelum Sharing". Kegiatan ini diisi oleh Kasi Partisipasi Masyarakat BNPT, Setyo Pranowo; Kaprodi Vokasi Humas, Devie Rahmawati; FKPT Sulteng, Hardi dan dihadiri 100 anggota masyarakat, Babinkamtibmas, Babinsa, humas polda/polres, penerangan Koramil/Kodim, media massa, pegiat media sosial dan blogger di Sulawesi Tengah.

Keikutsertaan pengajar vokasi humas dalam kegiatan ini dimaksudkan sebagai proses pembelajaran untuk mencegah penyebarluasan berita bohong, ujaran kebencian, dan informasi bersifat negatif, yang merupakan cikal bakal paham radikal terorisme.

"Peserta dilatih oleh kami untuk dapat memiliki kepercayaan diri dan teknik-teknik komunikasi. Tujuannya agar mampu mengimbangi pemahaman radikalisme yang disebarkan melalui berbagai saluran, baik secara tatap muka, maupun melalui internet," kata Kepala Program Studi Vokasi Humas UI, Devie Rachmawati, Sabtu (18/5/2019).



Menurutnya, penyebarluasan berita bohong, ujaran kebencian, dan informasi negatif lain yang terjadi terus-menerus melalui berbagai platform media, di antaranya media sosial. Hal ini mengakibatkan mudahnya masyarakat terpapar paham radikal terorisme.

"Hal ini dibuktikan dalam survei nasional efektifitas kearifan lokal dalam menangkal radikalisme di era milenial oleh BNPT tahun 2018 lalu, di mana potensi radikalisme masyarakat berada di posisi sedang menguat," kata Devie, Sabtu (18/5/2019).

Lebih lanjut kata dia bahwa studi global tahun 2013 menyebutkan bahwa internet sedikitnya memberikan lima dampak dalam penyebaran pemahaman radikalisme. Pertama, memberikan kesempatan yang lebih luas karena internet dalam 24 jam sehari; 7 hari dalam seminggu menjadi sumber kunci informasi dan propaganda berbagai keyakinan. Kedua, internet telah menjadi echo chamber dari keyakinan yang sudah ada, yang terus diperkuat dengan orang-orang yang homogen, dengan pemikiran yang sama.

"Ketiga, akselerasi penyebaran. Keempat, efektivitas dan efisiensi propaganda tanpa harus bertemu fisik. Kelima, mereka menjadi radikal dengan sendirinya karena berbagai informasi yang tidak dipahami, yang kemudian diamini (self-radicalization)," ucap Founder Klinik Digital Vokasi UI itu.

Kasi Partisipasi Masyarakat BNPT, Setyo Pranowo mengatakan saat ini kaum milenial usia 16-25 menjadi target untuk menjadi pelaku teror. Di Bekasi misalnya, pemuda yang bahkan berprestasi sebagai atlet nasional, tetap mampu terpapar pandangan radikalisme. Dan mekanismenya semakin beragam tidak hanya melalui medsos, tetapi juga melalui game online.

"Fitur live chatting, membuat anak-anak muda dengan mudah diajak berdialog untuk hal-hal yang tidak positif termasuk paham radikal," katanya.

Dikatakan bahwa kejadian teror semakin tidak terbaca. Kejadian di Selandia Baru, benar-benar serupa dengan kejadian di Sibolga, dimana kawasan yang kondusif, aman dan nyaman, ternyata terusik dengan kejadian teror. Bahkan kejadian-kejadian di Indonesia sekarang seperti berulang di luar negeri sebagaimana kejadian di Srilanka baru-baru ini.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak