Kisah Raja Wisnuwardhana Berhasil Satukan Singasari dan Kediri usai Terpecah

Minggu, 16 Juni 2024 - 06:15 WIB
loading...
Kisah Raja Wisnuwardhana...
Raja Wisnuwardhana yang berhasil menyatukan Kerajaan Singasari dan Kediri usai terpecah. Foto/Ilustrasi
A A A
Kediri dan Tumapel, yang kini masuk wilayah Malang memang telah lama berseteru hingga Kerajaan Singasari terpecah. Pecahnya kerajaan itu juga karena perselisihan di internal istana Tumapel yang akrab disebut Singasari.

Mangkatnya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi pada 1227, menjadi awal perseteruan antara Singasari dan Kediri. Daha yang menjadi kota kedua di bawah kekuasaan Singasari membelot dan berusaha berdikari sendiri.

Di bawah kekuasaan Bhatara Parameswara atau Mahisa Wong Teleng, Daha yang masih menjadi wilayah bawahan Singasari, tak mau tunduk kepada Tumapel yang dipimpin oleh Anusapati. Saudara-saudara Mahisa Wong Teleng atau Bhatara Parameswara juga turut membelot dan membela Mahisa Wonga Teleng

Dikisahkan Prof. Slamet Muljana pada "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit", di Prasasti Mula Malurung menyatakan, pergantian penguasa daerah terjadi. Dimana Guning Bhaya dan Tohjaya kemudian berturut-turut menggantikan Mahisa Wonga Teleng.

Baca Juga: Kisah Lolosnya Raden Wijaya dari Kepungan Pasukan Kerajaan Kediri

Sepeninggal Tohjaya yang berkuasa di Kediri, kedua kerajaan ini akhirnya berhasil disatukan oleh Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat, sejak tanggal 19 September 1248. Konon penyatuan kedua kerajaan ini dibantu oleh Mahisa Cempaka dan Ranggawuni, yang dalam Pararaton ternyata sebagai Sang Pamegat di Ranu Kebayan yang mendorong usaha penyatuan Kediri dengan Tumapel.

Dukungan dari para pembesar pejabat daerah di Daha pula, akhirnya Wisnuwardhana berhasil kembali menggabungkan Kediri dengan Tumapel yang telah dikuasai sepeninggal Anusapati pada 1248. Selanjutnya, Sang Apanji Patipati mengabdi kepada Sri Kertanagara, yang sejak tahun 1254 menurut Nagarakretagama diangkat sebagai raja di daerah Kediri.

Nama Ranggawuni tidak pernah disebut pada Prasasti Maribong dan Prasasti Mula Malurung. Pada kedua prasasti ini yang disebut ialah nama Seminingrat. Pada Prasasti Maribong jelas bahwa nama Jayawisnuwardhana adalah nama abhiseka. Sang Mapanji Seminingrat jelas adalah nama garbhopati Jayawisnuwardhana.

Namun tidak diketahui penggubah Pararaton hingga memperoleh nama Ranggawuni. Kebalikannya nama Seminingrat tidak pernah disebut dalam Pararaton. Tetapi Pararaton menyajikan panjang lebar tentang persekutuan Ranggawuni dan Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng.

Setelah berhasil mengalahkan Tohjaya, yang kemudian menyingkir ke Katang Lumbang, Ranggawuni lantas naik tahta di Kerajaan Tumapel, dengan mengambil nama abhiseka Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka dijadikan ratu angabhaya bergelar Narasinga.

Namun uraian Pararaton oleh Slamet Muljana pada bukunya disebut tak bisa dibenarkan, karena ternyata Nararya Tohjaya bukan raja di Tumapel, tetapi untuk memperebutkan kekuasaan di Kediri. Prasasti Mula Malurung sama sekali tidak menyinggung adanya pemberontakan terhadap Nararya Tohjaya.

Pararaton menyebutkan bahwa Tohjaya mangkat pada tahun saka 1172 atau sekitar 1250 Masehi, dan dicandikan di Katang Lumbang. Oleh karena penyatuan Kediri dan Tumapel berlangsung sepeninggal Nararya Tohjaya, maka peristiwa itu berlangsung sesudah tahun 1250.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Polisi Periksa 2 Saksi...
Polisi Periksa 2 Saksi Kasus Dokter Cabul di Kota Malang
Update Kekerasan Seksual...
Update Kekerasan Seksual Oknum Dokter di Malang, Polisi Tunggu Laporan Korban
Lagi! Kekerasan Seksual...
Lagi! Kekerasan Seksual oleh Oknum Dokter Terjadi di Malang
Rekomendasi
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
QS WUR 2027: UI Kembali...
QS WUR 2027: UI Kembali Jadi Universitas Terbaik di Indonesia, Bertahan di Top 200 Dunia
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Berita Terkini
BPDP Dorong UMKM Perkebunan...
BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas lewat Inovasi Produk
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top
Warga Rawa Buaya Bersyukur...
Warga Rawa Buaya Bersyukur Terima Bantuan Kursi Roda dari Dina Masyusin dan Dinsos
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved