alexametrics

Alumni ITB Beda Kubu Ajak Masyarakat Bangun Kedamaian di Pilpres 2019

loading...
Alumni ITB Beda Kubu Ajak Masyarakat Bangun Kedamaian di Pilpres 2019
Diskusi yang digelar di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Minggu malam 17 Februari 2019. Foto SINDOnews/Agung BS
A+ A-
Di tengah upaya saling klaim dukungan dari kalangan akademisi, termasuk alumni perguruan tinggi oleh dua kubu pasangan calon presiden-wakil presiden (capres-cawapres), alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) sepakat membangun kedamaian di ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Tekad tersebut tampak dalam diskusi yang menghadirkan dua alumni ITB perwakilan pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).Dalam diskusi yang digelar di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Minggu malam 17 Februari 2019 itu, keduanya membedah visi misi capres-cawapres yang tengah berkontestasi.
Alumni Teknik Fisika ITB angkatan 87 yang juga Deklarator Gerakan Alumni ITB Dukung Jokowi, Utju Suiatna menilai, diskusi yang digelar Aktivis Salman ITB tersebut sebagai upaya intelektual untuk membedah visi misi calon pemimpin Indonesia, sehingga mahasiswa mendapat gambaran yang jelas terkait program-program yang akan dilakukan pemimpinnya kelak.

"Sehingga, dalam memilih, mereka tidak hanya berdasarkan emosional, tetapi berdasarkan intelektual dengan data-data atau informasi yang mereka dapatkan, jadi ini luar biasa," katanya.

Utju menilai, Jokowi sangat layak melanjutkan kepemimpinannya. Pasalnya, Jokowi-Ma'ruf merupakan sosok dengan personalitas dan moralitas yang sangat baik. Menurut dia, personalitas dan moralitas harus menjadi patokan utama dalam memilih pemimpin yang baik, selain kapabilitasnya.

"Dalam memilih pemimpin, kita kan tetap berpatokan pada dua hal. Pertama personalitas dan moralitas, kedua kapabilitas, itu tak dapat dipisahkan. Dari sisi personalitas dan moralitasnya, kita bisa melihat Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf Amin sangat santun, beliau selalu mengajak berdemokrasi yang santun, tidak memecah belah demi kebaikan bersama, itu jadi salah satu pertimbangan (dalam memilih)," papar Utju.

Dari sisi kapabilitasnya, lanjut Utju, Jokowi juga dinilainya sukses membawa Indonesia menjadi lebih baik dalam kurun waktu hampir lima tahun terakhir. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dan masifnya pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Jadi, secara personalitas, moralitas, dan kapabilitasnya, Pak Jokowi sangat pantas untuk melanjutkan kepemimpinan," tegas Utju.

Sementara itu, alumni Biologi ITB angkatan 93 yang juga Sekretaris Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandi Jawa Barat Haru Shuandaru juga menyambut baik diskusi tersebut. Bahkan, dia mengaku sangat senang bisa bersilaturahmi dengan seniornya yang berbeda haluan politik itu.

"Saya senang bisa diundang, bisa silaturahmi dengan Kang Utju, sebelum 17 April (Pilpres 2019) dan setelahnya kita alumni ITB, kita juga sama-sama tetap anak bangsa," ungkap Haru.

Haru berharap, Pilpres 2019 bisa berjalan damai, harmonis, jujur, adil, dan transparans. Menurut dia, Pilpres 2019 merupakan kontestasi gagasan dan ide dari dua pasangan capres-cawapres demi Indonesia yang lebih baik. Meski begitu, Haru juga berharap, kontestasi Pilpres 2019 dimenangkan oleh Prabowo-Sandi.

"Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Jokowi yang sudah menjadi Presiden selama dua periode. Sebagai tim kampanye Pak Prabowo, saya berharap, Pak Prabowo yang nanti jadi Presidennya," ujar Haru tersenyum.

Haru juga menilai, Prabowo sebagai sosok pemimpin yang sangat layak memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Sebagai seorang pemimpin, baik dalam karir militer maupun politik, Prabowo dinilainya telah menunjukkan moralitas sebagai pemimpin yang baik. Apalagi, kata Haru, masyarakat Indonesia menginginkan perubahan di negeri ini.

"Saya kira masyarakat sangat memerlukan perubahan. Hal itu terlihat dari hasil survei apa yang mereka butuhkan, mulai dari harga sembako hingga lapangan pekerjaan," papar Haru.

Haru juga mengungkapkan, banyak hal yang perlu dikritisi dari kepemimpinan Jokowi. Oleh karena itu, kehadiran Prabowo menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat yang menghendaki perubahan dan kondisi yang lebih baik dari saat ini.

"Masyarakat menginginkan perubahan, itu paling mendasar, pesan itu sudah bisa dirasakan dan insya Allah akan ada kejutan tanggal 17 April nanti," katanya.

Haru kembali menegaskan, meski persaingan politik semakin memanas seiring semakin dekatnya hari pemungutan suara Pilpres 2019, 17 April nanti, pihaknya berkomitmen sekaligus mengajak masyarakat untuk tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Kita mah gak panas. Saya kira gak usah lah sampai terlalu jauh seperti itu. Kita adu gagasan, adu kontestasi saja. Kita ingin pemilu yang damai, berkualitas, jujur, adil, dan transparans," tegas Haru yang diamini Utju Suiatna.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak