Viral Monyet Gunung Merapi Masuk Permukiman Warga, Ini Penjelasan TNGM

Senin, 06 Mei 2024 - 10:00 WIB
loading...
Viral Monyet Gunung...
Monyet ekor panjang (MEP) kawasan puncak Gunung Merapi dikabarkan turun ke permukiman karena suhu panas. Foto/Ilustrasi
A A A
SLEMAN - Monyet ekor panjang (MEP) kawasan puncak Gunung Merapi dikabarkan turun ke permukiman karena suhu panas beredar luas di media sosial. Kabar yang diunggah melalui akun instagram ataupun akun X @merapi_uncover akhirnya viral.

Dalam postingannya berisi narasi gerombolan monyet gunung turun karena efek suhu panas yang melanda kawasan lereng Merapi.

“Kethek (monyet gunung) berkeliaran disekitar sungai boyong (dusun rejodani Ngaglik dan sekitarnya) diperkirakan efek suhu panas dan kurangnya makanan di habitat aslinya,” tulis keterangan foto dalam postingan tersebut, Minggu (5/5/2024).

Unggahan mengundang berbagai komentar dari warganet. Sebagian menyebut jika turunnya MEP ke pemukiman karena Puncak Gunung Merapi tengah bergeiolak akibat aktivitas yang meningkat. Bahkan sebagian menghubungkan dengan kondisi Gunung Merapi bakal erupsi.

Baca Juga: Pertama dalam Sejarah, Gunung Merapi Miliki 2 Kubah Lava Aktif

Kepala Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Muhammad Wahyudi menepis jika MEP tersebut turun ke pemukiman merupakan efek dari suhu panas puncak Gunung Merapi. Jika dihubungkan dengan suhu di Puncak Merapi, maka hal tersebut tidak benar.

Berdasarkan laporan rutin aktifitas Gunung Merapi oleh PGM Kaliurang.“Untuk parameter suhu Merapi dari hari Jumat sampai dengan Minggu pada periode pengamatan pukul 06.0 - 12.00 WIB tidak ada kenaikan signifikan,” kata Wahyudi, Senin (6/5/2024).

Pada hari Jumat 2 Mei 2024 suhu udara berkisar 22,9 - 26 ⁰C, Sabtu 3 Mei 2024 suhu udara berkisar 23,3 - 25 ⁰C kemudian Minggu 4 Mei, suhu udara hanya 21 - 25,5 ⁰C. Dan pada periode pengamatan 12.00 - 18.00 - 24.00 WIB suhu relatif turun karena menjelang malam dan pagi hari.

Sehingga menurut data tersebut tidak ada anomali peningkatan suhu. Sehingga dugaan tersebut terbantahkan dengan adanya data situasi terkini dari Puncak Gunung Merapi. Jika dihubungkan dengan ketersediaan makanan di Puncak Gunung Merapi masih mencukupi.

Terkait statemen dari warga yang menyatakan MEP turun dari puncak Merapi, Wahyudi menyebut bahwa berdasar hasil survei habitat makaka adalah di kawasan hutan Merapi, bukan di puncak Merapi. Dan Untuk lokus perjumpaan yang dilaporkan sudah jauh dari kawasan TNGM.



Menurutnya untuk informasi lokasinya ini tepatnya kurang jelas, alur sungai boyong panjang, namun ini tertulis 'ke arah utara menyebut Rejodani, Ngaglik..' maka lokasi ini sangat jauh dari kawasan. Bisa lebih dari 10km.

Wahyudi menambahkan MEP yang terlihat di kawasan Rejodani Pakem Sleman tersebut hanyalah monyet yang terusir dari koloni (kelompoknya). Di mana MEP yang terusir dari koloni tersebut sering berulah di pemukiman.

“Kawanan Monyet Ekor Panjang (MEP) itu jumlahnya ratusan ekor. Kalau hanya 3 ekor itu bukan kawanan, tapi monyet yang terusir dari habitatnya. Dan itu biasanya yang sering berbuat ulah,” ungkapnya.

Wahyudi menambahkan TNGM tidak memperoleh info apa pun terkait adanya Kelompok MEP di sekitar wilayah Kaliurang yang turun ke bawah. Info dari salah satu TPHL yang berdomisili Ngepring Purwobinangun, MEP sudah biasa ditemukan di timur kali boyong.

MEP tersebut kemudian turun sampai di lokasi penambangan pasir dan sampai di BOD 6 atau akses sebelum lapangan Tritis ada akses jalur tambang. Lokasi yang beredar luas di media sosial tersebut jaraknya cukup jauh.

Di samping itu, lanjutnya, dalam unggahan yang beredar menyebutkan jumlah 3 ekor ini juga kurang menyakinkan kalau dikatakan kelompok alami MEP. MEP kalau berkelompok itu tidak hanya 3 ekor dan pasti puluhan. Berarti ini 'pencilan' yang terusir dari kelompoknya.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
POCE JOBFAIR 2026 di...
POCE JOBFAIR 2026 di UPN Veteran Yogya Hadirkan Ribuan Peluang Karier
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.000 Meter
Gunung Semeru Erupsi,...
Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 2.500 Meter
Waspada, Gunung Dukono...
Waspada, Gunung Dukono Alami Erupsi Sore Ini
Gunung Merapi Luncurkan...
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Sejauh 1,5 Km
Karaton Ngayogyakarta...
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Perkuat Promosi Budaya dan Pariwisata Yogyakarta di Pasar Global
Buntut Kasus Daycare...
Buntut Kasus Daycare di Yogyakarta, DPR Desak Pemda Evaluasi Izin Seluruh Tempat Titip Anak
Kekerasan Daycare di...
Kekerasan Daycare di Yogyakarta, Selly PDIP: Tragedi Kegagalan Sistem Perlindungan Anak
Rekomendasi
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
AS vs Paraguay: Tuan...
AS vs Paraguay: Tuan Rumah Unggul Tipis
Berita Terkini
Sekjen PPP Taj Yasin...
Sekjen PPP Taj Yasin dan Agus Suparmanto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
MNC Peduli dan Park...
MNC Peduli dan Park Hyatt Jakarta Gelar Aksi Food Rescue untuk Warga Duri Kepa
KAI Jadi Benchmark Layanan...
KAI Jadi Benchmark Layanan Publik Indonesia, Dinilai Mampu Bersaing secara Global
Begal dan Curanmor,...
Begal dan Curanmor, Kasus Besar yang Diungkap Polda Riau dalam Semalam
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Berbekal PROPER Hijau,...
Berbekal PROPER Hijau, Langkah Nyata Transformasi Ekologis Diperkuat di Sulawesi Tenggara
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved