Kisah Tionghoa Muslim Makmur Ketika Majapahit Diruntuhkan Kesultanan Demak

Minggu, 28 April 2024 - 07:58 WIB
loading...
Kisah Tionghoa Muslim...
Di balik runtuhnya Kerajaan Majapahit yang gemilang, terselip kisah menarik tentang komunitas Tionghoa Muslim yang hidup makmur di masa itu. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
Di balik runtuhnya Kerajaan Majapahit yang gemilang, terselip kisah menarik tentang komunitas Tionghoa Muslim yang hidup makmur di masa itu. Kisah ini dimulai saat Kesultanan Demak, di bawah pimpinan Raden Patah, melancarkan ekspansi dan berhasil menaklukkan Majapahit pada tahun 1478.

Meskipun pusat Kerajaan Majapahit dan ibu kotanya tidak mengalami kerusakan berarti, peristiwa ini menandai berakhirnya era kejayaan Majapahit. Raden Patah, yang juga dikenal sebagai Jin Bun, tidak membumihanguskan Majapahit, namun menawan Raja Majapahit, Bhre Kertabhumi, dan membawanya ke Demak.

Di bawah kepemimpinan Jin Bun, Majapahit dimasukkan sebagai negara bawahan Demak dan diwajibkan untuk membayar upeti. Namun, Jin Bun tidak hanya fokus pada aspek politik, dia juga membuka peluang bagi komunitas Tionghoa Muslim untuk berkembang pesat.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa Jin Bun memiliki hubungan erat dengan komunitas Tionghoa Muslim di pesisir utara Jawa. Dia memberikan mereka berbagai kemudahan dan perlindungan, sehingga mereka dapat menjalankan perdagangan dan bisnis dengan leluasa.

Baca Juga: Sejarah Paregreg, Perang Saudara Awali Keruntuhan Kerajaan Majapahit

Kebijakan Jin Bun ini mendorong migrasi besar-besaran komunitas Tionghoa Muslim ke Demak dan sekitarnya. Mereka membawa modal, teknologi, dan keahlian baru yang turut mendorong kemajuan ekonomi Demak.

Komunitas Tionghoa Muslim di Demak hidup dengan makmur dan terintegrasi dengan baik dalam masyarakat. Mereka membangun masjid dan rumah ibadah, serta berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya.

Keberhasilan Jin Bun dalam merangkul komunitas Tionghoa Muslim menjadi salah satu faktor kunci di balik kemajuan Kesultanan Demak. Kebijakannya yang toleran dan terbuka terhadap berbagai etnis dan agama menjadi contoh bagi para pemimpin di masa depan.

Kisah komunitas Tionghoa Muslim di Demak ini menunjukkan bahwa toleransi dan keberagaman dapat menjadi kekuatan pendorong bagi kemajuan bangsa. Di tengah pergolakan politik dan perubahan zaman, mereka mampu beradaptasi dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Namun, di balik kisah kemakmuran ini, terdapat pula narasi yang berbeda tentang runtuhnya Majapahit. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Jin Bun, yang didorong oleh ambisi politik dan pengaruh Sunan Ampel, melancarkan serangan ke Majapahit dengan tujuan menghancurkan kerajaan Hindu-Buddha tersebut dan menyebarkan agama Islam.

Narasi ini memicu kontroversi dan perdebatan tentang motif sebenarnya di balik runtuhnya Majapahit. Apakah Jin Bun benar-benar ingin menghancurkan Majapahit atas nama agama, atau dia hanya ingin memperluas kekuasaannya?

Terlepas dari perdebatan tersebut, kisah komunitas Tionghoa Muslim di Demak tetap menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. Kegigihan, keuletan, dan toleransi mereka menjadi contoh bagi generasi penerus untuk membangun bangsa yang maju dan sejahtera.
(hri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Antara “One China...
Antara One China Policy dan Dua Realitas Politik
Rekomendasi
Mengenal Terapi Regeneratif,...
Mengenal Terapi Regeneratif, Pendekatan Medis untuk Peremajaan dan Pemulihan Jaringan
Jelang Lawan Arab Saudi,...
Jelang Lawan Arab Saudi, Yamal Belum Siap Main 90 Menit
QS WUR 2027: UI Kembali...
QS WUR 2027: UI Kembali Jadi Universitas Terbaik di Indonesia, Bertahan di Top 200 Dunia
Berita Terkini
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top
Warga Rawa Buaya Bersyukur...
Warga Rawa Buaya Bersyukur Terima Bantuan Kursi Roda dari Dina Masyusin dan Dinsos
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Almamater Lima Soroti...
Almamater Lima Soroti Dugaan Penyusutan Lahan Taman Potret Tangerang
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Infografis
Kisah Jalur KRL Jabodetabek,...
Kisah Jalur KRL Jabodetabek, Diawali Rute Tanjung Priok-Jatinegara Pada 1924
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved