alexametrics

Puluhan Mahasiswa Undip Selamat dari Tsunami Selat Sunda

loading...
Puluhan Mahasiswa Undip Selamat dari Tsunami Selat Sunda
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam tim ekspedisi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang selamat dari Tsunami Selat Sunda. Foto/Istimewa
A+ A-
SEMARANG - Tsunami Selat Sunda yang memporak-porandakan pesisir Banten dan Lampung menyimpan cerita tersendiri bagi mahasiswa yang tergabung dalam tim ekspedisi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Mereka berada di lokasi kejadian saat gelombang laut datang yang didahului suara bergemuruh.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ekspedisi Pulau Legundi merupakan gabungan dari Ekspedisi Dwipantara UKSA 387 Undip, Ekspedisi Thalassina Unit Kegiatan Mahasiswa Sea Crest FPIK Undip, Arcadia UIN Jakarta, dan Unila Lampung.

Tujuan ekspedisi ini untuk menyiapkan Pulau Legundi Lampung menjadi Desa Wisata Bahari. Kegiatan berupa survei sumber daya alam pesisir, pulau kecil dan pemberdayaan masyarakat, atas undangan Kepala Desa Pulau Legundi Kabupaten Pesawaran, Lampung.



Ekspedisi dijadwalkan mulai 20-30 Desember 2018. Tim Ekspedisi Dwipantara UKSA 387 Undip dan Ekspedisi Thalassina Unit Kegiatan Mahasiswa Sea Crest FPIK Undip datang pada 20 Desember 2018, sedangkan tim dari unversitas lainnya dijadwalkan bergabung 24 Desember. Setelah melakukan survei selama dua hari, terjadi musibah bencana alam gelombang pasang tsunami di pulau tersebut.

“Gelombang pasang tsunami terjadi pada 22 Desember 2018 sekira pukul 21.30 waktu setempat, pada saat tim sedang rapat/briefing harian. Gelombang pasang ditandai dengan suara gemuruh yang datang dari laut, dan seluruh peserta ekspedisi diperintahkan oleh penduduk setempat untuk berlari ke atas bukit terdekat,” kata Ketua UKSA 387 Undip, Munasik, dalam keterangannya, Rabu (26/12/2018).

“Peserta tidak sempat menyelamatkan seluruh perlengkapan berikut alat komunikasi karena beserta penduduk melakukan evakuasi terhadap anak-anak dan orang tua untuk bisa menaiki bukit terdekat. Terjadi tiga kali gelombang pasang yang menerjang pemukiman penduduk, dan tinggi gelombang tertinggi berkisar tiga meter atau setinggi atap rumah,” tambahnya.

Setelah air surut, mahasiswa ekspedisi turun kembali ke permukiman untuk mengambil perlengkapan sederhana yang digunakan sebagai tempat berteduh di atas bukit. Semua penduduk dan tim ekspedisi selamat dari musibah ini. Namun, satu orang penduduk meninggal karena tengah menderita sakit stroke.

“Karena hujan, mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang dibuat oleh tim ekspedisi hingga pagi hari. Tim ekspedisi juga memberikan pertolongan pertama bagi penduduk yang menderita luka-luka pada waktu evakuasi menaiki bukit terdekat,” terang dosen Undip tersebut.

Bantuan logistik datang dari Lampung pada pagi hari yang dibawa Camat Pesawaran dan evakuasi tim ekspedisi dilakukan secara bertahap oleh Marinir dan Polairud. Seluruh tim ekspedisi kemudian ditampung di Pondok Pesantren Diniyah Putri milik salah seorang keluarga alumni Undip.

“Kemudian bantuan datang dari IKA Undip cabang Lampung berupa makanan, pakaian dan bantuan kesehatan. IKA Undip Cabang Lampung juga menyediakan Trauma Healing untuk tim ekspedisi,” tukasnya.

Dia menjelaskan, jumlah penduduk Pulau Legundi sekira 500 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan jumlah peserta tim ekspedisi Undip sebanyak 30 orang, terdiri dari 25 orang mahasiswa, 4 orang alumni dan 1 orang dosen Pembina.

Proses pemulangan tim ekspedisi ke rumah masing-masing dilakukan oleh Universitas Diponegoro secara bertahap, mulai 24-26 Desember 2018. Pemulangan dibagi menjadi tiga tahap. Tanggal 24 Desember 2018, 2 orang ke Jakarta, 1 orang ke Medan dan 2 orang ke Semarang dan 13 orang ke Jakarta.

Tanggal 25 Desember 2018, 7 orang ke Jakarta. Tanggal 26 Desember 2018, 1 orang ke Palembang, dan 4 orang melanjutkan perjalanan dari Jakarta ke Semarang.

“Ada 4 orang alumni yang masih tinggal di Lampung, untuk mencari dan mengumpulkan alat survei di Pulau Legundi, bekerjasama dengan masyarakat setempat,” tuturnya.

Nama Peserta Ekspedisi Pulau Legundi Lampung.
Mahasiswa Undip 25 Orang (Program Studi):
1. Viny Ratnasari (Ilmu Kelautan)
2. Jan Erickson W (Ilmu Kelautan)
3. Yualita Prasida (Ilmu Kelautan)
4. Vincentia Robin (Ilmu Kelautan)
5. Ahmad Rayyis (Ilmu Kelautan)
6. Rafdi Abdillah Harjuna (Ilmu Kelautan)
7. Sonny R. Damanik (Ilmu Kelautan)
8. Wahyu Nur Muhammad (D3 Teknik Mesin)
9. Ahmad Annas Nururroziq (Ilmu Kelautan)
10. Andy Setya Permadi (S1 Teknik Perkapalan)
11. Ade Rama Danta Budi Utama (Ilmu Kelautan)
12. Mohammad Fajrin (Biologi)
13. Gandang Herdananto N (Ilmu Kelautan)
14. Indah Lestari (Oseanografi)
15. Ahmad Humam Harjono (D3 Teknik Perkapalan)
16. Wanda Laras Farahdita (Ilmu Kelautan)
17. Faishal Falah (Ilmu Kelautan)
18. M. Ravian Wiraputra (Ilmu Kelautan)
19. Chika Velita (Ilmu Kelautan)
20. Defi Puspitasari (Ilmu Kelautan)
21. Muhammad Ramadhan (Ilmu Kelautan)
22. Dinda Ayu Octaviana (Oseanografi)
23. Reinicha Agni Puspitarini (Ilmu Kelautan)
24. Muhammad Sababa AlHaq (Ilmu Kelautan)
25. Pedri Caca Cicilia Sitepu (Ilmu Kelautan)

Alumni Undip 4 Orang:
1. Mochammad Satrio Wibowo (Alumi Ilmu Kelautan 2009)
2. Sakti Mukhlasin (Alumni Ilmu Kelautan 2010)
3. Henri Rovinus Siagian (Magister Ilmu Kelautan Undip)
4. Irfan Lazuardi (Ilmu Kelautan 2006)

Dosen Pembina Unit Kegiatan Kemahasiswaan Sea Crest:
1. Ir. Ita Riniatsih, M. Si

Taufik Budi
(rhs)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak