Kisah Sopir Bajaj Rela Pindah Domisili dan Kantongi KTP DKI demi Anak Dapat KJP
Rabu, 24 April 2024 - 19:55 WIB
loading...
A
A
A
"Seragam sekolah mahal, boro-boro dapat KJP. Saya sudah pindah dari tahun berapa ya pas anak saya yang kelas 3 SMK mau masuk kelas 1 pindah. Saya pindah alamat, pindah KTP DKI supaya dapat KJP eh tidak dapat juga," tuturnya.
Dia sudah melaporkan ke sekolah sang anak, namun ternyata diminta untuk mendaftar Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
"Tapi, saya kan nggak paham. Saya kalau tidak narik ya tidak makan. Kalau buat mondar-mandir belum tentu diterima, nggak apa-apalah sudahlah tidak usah gitu-gitu, narik saja," ucapnya.
Meski demikian, dia tetap bersyukur lantaran tahun ini anak pertamanya lulus sekolah. Terlebih perjuangannya terlalu berat dari pertama nikah hingga memiliki 2 anak.
"Terlalu berat perjuangannya. Dari pertama nikah sampai sekarang sudah punya anak 2 cari duit di jalanan bagaimana susahnya anak sekolah yang SMK bayaran setiap bulan Rp500 ribu, yang kecil Rp150 ribu ya mau bagaimana lagi cuma bisa narik bajaj," ujar Agus.
Dia sudah melaporkan ke sekolah sang anak, namun ternyata diminta untuk mendaftar Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
"Tapi, saya kan nggak paham. Saya kalau tidak narik ya tidak makan. Kalau buat mondar-mandir belum tentu diterima, nggak apa-apalah sudahlah tidak usah gitu-gitu, narik saja," ucapnya.
Meski demikian, dia tetap bersyukur lantaran tahun ini anak pertamanya lulus sekolah. Terlebih perjuangannya terlalu berat dari pertama nikah hingga memiliki 2 anak.
"Terlalu berat perjuangannya. Dari pertama nikah sampai sekarang sudah punya anak 2 cari duit di jalanan bagaimana susahnya anak sekolah yang SMK bayaran setiap bulan Rp500 ribu, yang kecil Rp150 ribu ya mau bagaimana lagi cuma bisa narik bajaj," ujar Agus.
(jon)
Lihat Juga :