alexametrics

Ratusan Penyandang Disabilitas Unjuk Kebolehan di Gunungkidul

loading...
Ratusan Penyandang Disabilitas Unjuk Kebolehan di Gunungkidul
Ratusan Penyandang Disabilitas Unjuk Kebolehan di Gunungkidul
A+ A-
GUNUNGKIDUL - Ratusan penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di kompleks Balai Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Mereka bakal mengikuti Temu Inklusi Nasional untuk menggagas penyebaran ide-ide inklusi dan unjuk kebolehan sebagai bentuk kemandirian.

Penggagas kegiatan dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAP), Suharto memaparkan, sedikitnya ada 400 penyandang disabilitas yang akan inapkan di rumah-rumah warga setempat. Hal ini juga menjadi upaya penyadaran bersama sehingga warga bisa bersama penyandang disabilitas untuk merayakan keberagaman. "Nanti banyak ide atau gagassn yang muncul dari teman-teman disabilitas selama proses di Desa Plembutan, Playen ini," terangnya kepada wartawan, Rabu (24/10).

Dia menjelaskan, program yang diselenggarakan tersebut merupakan bagian dari wacana untuk menggulirkan program Indonesia inklusi pada 2030. Rencananya kegiatan semacam ini akan diselanggarakan tiap 2 tahun dengan harapan ide-ide yang muncul nantinya mampu diserap oleh pemerintah daerah.



Eko Sugeng, salah satu peserta Temu Inkkusi Nasional mengatakan, dirinya akan berbagai ilmu tentang meracik kopi. Sebagai penyandang disabilitas dia ingin berbagi kepiawaian dalam meracik kopi enak. "Kami bergabung drngan ousst rehabilitasi Yakkum, kemudian belajar banyak, bahkan kami livein dengan petani di Suroloyo, Kulon Progo. Kami belajar ngopeni (memelihara) kopi, dan meracik kopi," ucapnya.

Eko Sugeng termasuk orang yang tidak mau dibelaskasihani. Meski kedua tanganya tak berfungsi dengan baik lantaran diamputasi, sejak remaja dia tak mau merepotkan orang lain. Eko juga enggan mengeluh dan memilih jalan hidup produktif ditengah keterbatasan.“Sekitar 2002, usia saya masih 18 tahunan. Tersengat listrik hingga akhirnya kedua tangan ini diamputasi,” kata Eko.

Hingga sekarang pria yang tinggal di Sleman bekerja di cuppable Caffe tak jauh dari kantor Yakkum di Jalan Kaliurang, Sleman. Dia tinggal di kos bersama istri dan anak semata wayang berusia empat bulan. Hasil dari keahlian barista menurutnya bisa menghidupi keluarga. “Kebetulan istri saya juga bekerja jual beli online,” terangnya.

Meski dengan segala keterbatasan, diaoptimis bisa bersaing dengan Barista pada umumnya. Kini tinggal menunggu sertifikasi barista. Pengakuan secara tertulis tersebut menurutnya sangat dibutuhkan dalam bisnis kopi. “Untuk teman-teman disabilitas lain jangan berkecil hati. Saya juga sedang berjuang untuk bisa memiliki kedai kopi sendiri,” ucapnya yakin.

Bupati Gunungkidul Badingah mengatakan dengan digelarnya Temu Inklusi Nasional di Kabupaten Gunungkidul diharapkan dapat memberikan saran dan masukan kepada Gunungkidul dalam membuat kebijakan yang ramah difabel. Sehingga kemudian nantinya wacana yang digagas mampu terwujud.“Kita sangat mendukung bahwa pada tahun 2030 mendatang, Indonesia inklusi akan benar-benar terwujud,” imbuhnya.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak