Kisah Pilu Pangeran Martapura, Raja Mataram Tersingkat Hanya Berkuasa 24 Jam
Selasa, 12 Maret 2024 - 06:07 WIB
loading...
Raja Ketiga Mataram Sultan Agung atau Raden Mas Rangsang. Foto/Istimewa
A
A
A
Cerita menarik mengiringi kenaikan tahta Raja Ketiga Mataram Sultan Agung. Pria dengan nama asli Raden Mas Rangsang naik tahta setelah Pangeran Hanyakrawati mangkat di Hutan Krapyak saat berburu.
Saat itu Pangeran Hanyakrawati telah berjanji memberikan tahtanya kepada Raden Martapura atau Raden Mas Wuryah.Di sisi lain, menjelang wafatnya Pangeran Hanyakrawati justru menunjuk Sultan Agung alias Mas Rangsang untuk menduduki tahta Mataram.
Raden Martapura atau Raden mas Wuryah adalah putra pertama dari istri Panembahan Hanyakrawati yang bernama Ratu Lung Ngawu, yang berasal dari Ponorogo. Ratu Lung ini juga merupakan Garwa Padmi dari Panembahan Hanyakrawati.
Baca Juga: Kematian Misterius Panembahan Senopati Picu Kekacauan di Kerajaan Mataram
Penunjukkan Panembahan Hanyakrawati menjelang wafat yang justru menunjuk Raden Mas Rangsang alias Sultan Agung sebagai Raja Mataram menggantikan dirinya mendapat penentangan dari pihak Ponorogo.
Dikisahkan pada buku "Babad Tanah Jawi", dicarilah solusi pemecahan masalah untuk mengatasi kasus ini. Konon sebelum meninggal dunia, Panembahan Hanyakrawati telah mendapat firasat. Sehingga, ia memanggil para pangeran dan kerabat.
Saat itu Pangeran Hanyakrawati telah berjanji memberikan tahtanya kepada Raden Martapura atau Raden Mas Wuryah.Di sisi lain, menjelang wafatnya Pangeran Hanyakrawati justru menunjuk Sultan Agung alias Mas Rangsang untuk menduduki tahta Mataram.
Raden Martapura atau Raden mas Wuryah adalah putra pertama dari istri Panembahan Hanyakrawati yang bernama Ratu Lung Ngawu, yang berasal dari Ponorogo. Ratu Lung ini juga merupakan Garwa Padmi dari Panembahan Hanyakrawati.
Baca Juga: Kematian Misterius Panembahan Senopati Picu Kekacauan di Kerajaan Mataram
Penunjukkan Panembahan Hanyakrawati menjelang wafat yang justru menunjuk Raden Mas Rangsang alias Sultan Agung sebagai Raja Mataram menggantikan dirinya mendapat penentangan dari pihak Ponorogo.
Dikisahkan pada buku "Babad Tanah Jawi", dicarilah solusi pemecahan masalah untuk mengatasi kasus ini. Konon sebelum meninggal dunia, Panembahan Hanyakrawati telah mendapat firasat. Sehingga, ia memanggil para pangeran dan kerabat.
Lihat Juga :