alexametrics

Terduga Teroris di Sidoarjo

Mereka Masih Muda, Lugu, dan Dekat dengan Masyarakat

loading...
Mereka Masih Muda, Lugu, dan Dekat dengan Masyarakat
Polisi saat menggeledan rumah terduga teroris di Sidoarjo. Koran SINDO/Aan
A+ A-
SIDOARJO - Ratno (51), baru saja menurunkan tumpukan tomat dan wortel dari sepeda motornya ketika senja perlahan pergi di Dusun Jedong, Urangangung, Sidoarjo. Di gang sempit di RT 2, pendulum rejekinya biasanya mengalir deras. Seperti malam-malam sebelumnya, semua dagangan tersaji, memenuhi kebutuhan semua warga.

Selepas Maghrib, Yanti (25), berjalan dari arah barat menuju ke lapak milik Ratno. Sebuah dompet kecil berwarna coklat ditenteng di tangan kirinya. Dengan setelan baju berwarna hitam, sebagian wajahnya juga ditutup rapat dengan cadar dan kerudung syar’i.



Ratno tetap melemparkan senyum ketika Yanti datang ke lapaknya. Memilah beberapa sayur dan ikan segar. Tawar-menawar pun terjadi, Yanti ingin membeli sekilo ikan bandeng untuk dimasak besok pagi.

Keinginan itu tak bisa dipenuhi Ratno, karena sisa ikan bandengnya tinggal dua ekor berukuran kecil. "Mereka (Yanti dan Betty, red) suka ikan, kadang mujair, bandeng dan tongkol," ujar Ratno, Senin (14/5/2018).

Karena tak dapat bandeng, Yanti memalingkan pilihan pada potongan tempe dan sayur bayam. Sembari menyampaikan keinginan pada Ratno untuk menyediakan ikannya besok. Ratno pun menjanjikan ikan yang dibawanya besok lebih segar. Sambil senyum kecil masih mengembang setelah ada kepastian ikannya besok laku terjual.

Besoknya, saat matahari masih sepengalah di Sidoarjo, Ratno datang ke kampung Jedong dengan terperangah. Sebuah rumah dengan pagar besi berwarna biru dengan tiga buah pohon nangka yang daunnya rimbun dijaga ketat oleh puluhan aparat kepolisian. Garis polisi berwarna kuning membatasi semua akses warga untuk bisa masuk ke dalam rumah.

Ratno hanya duduk di sebuah gerdu rumah warga yang jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi rumah yang dijadikan sarang terduga teroris di Sidoarjo. Punggungnya disandarkan pada dinding ketika Fuadi (67), pemilik rumah yang ditempati Betty dan Yanti datang menghampirinya. "Bagaimana Abah ceritanya mereka kok jadi teroris? Anak-anak yang lugu seperti itu kok nekat!" celetuknya yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Fuadi.

"Lha ini nasib ikan yang dipesannya bagaimana? Belum dibayar, orangnya sudah ditangkap polisi," keluhnya.

Tangan Fuadi kini mencoba merogoh saku kanan celananya. Sebatang rokok diambil dan dihisap dalam-dalam sebelum memulai bercerita. Pikirannya seperti terbang empat tahun silam, tepatnya di tahun 2014 ketika dua gadis kecil datang ke rumahnya untuk menanyakan harga sewa rumah tua yang sudah usang miliknya.

Karena kasihan, Fuadi kemudian memberikan harga sewa yang cukup murah, setahun hanya Rp1 juta pada Betty dan Yanti. "Rumah itu lama tak dipakai. Niat saya sih biar ada penghuninya saja," jelas Fuadi.

Tiap tahun, Fuadi selalu menaikan harga sewa rumahnya yang memiliki halaman luas serta sudah dipaving dengan rapi. Di tahun kedua ia menaikan menjadi Rp1,5 juta dan terakhir harganya kini menjadi Rp2 juta per tahunnya. "Kalau bayar sih nggak pernah telat. Mungkin karena mereka pedagang ya, jadi uangnya selalu saja ada," sahutnya.

Tak terbersit di benaknya kalau kedua perempuan muda itu menjadi terduga teroris yang memiliki enam rakitan bom  berdaya ledak tinggi di rumahnya. Padahal, di beberapa kesempatan ia selalu mampir ke depan rumah untuk bersapa dengan keduanya. "Saya selalu bertanya mereka sedang masak apa. Soalnya kalau  lagi masak aromanya sedap, tercium  dari jalan," katanya.

Pembawaan kedua perempuan itu juga seperti warga kebanyakan. Mereka bersosialisasi, bertegur sapa dan bermasyarakat seperti warga lainnya. Tak ada kesan tertutup bagi keduanya. "Malah semua warga di kampung ini ngerti kok kalau Betty dan Yanti itu penjual jilbab dan baju muslim di Pasar Gading Fajar," sahut Ketua RT 2 Jedong, Winarno.

Setiap hari, katanya, para warga selalu mengetahui kalau Betty dan Yanti bersepeda membawa dagangan ke pasar. Tamu yang datang ke rumahnya juga jarang. Kalau pun ada, biasanya satu rombongan mobil dan isinya perempuan semua.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak