Petaka Wabah Kolera Sebelum Perang Diponegoro Bikin Rakyat Jawa Menderita

Sabtu, 09 Desember 2023 - 08:19 WIB
loading...
Petaka Wabah Kolera...
Potret dokter berkeliling di Pulau Jawa mengobati rakyat yang terkena wabah kolera sebelum Perang Diponegoro. Foto/Dok Kemendikbud
A A A
Derita penduduk Jawa semasa Pangeran Diponegoro masih berlanjut usai serangan Imam Mahdi ke pemerintahan kolonial Belanda. Persoalan wabah penyakit dan kekeringan ekstrem terjadi menerjang desa-desa di Pulau Jawa bagian selatan - tengah.

Hal ini memperburuk kondisi perekonomian masyarakat di tengah dampak monopoli cukai oleh Belanda dan penjaga gerbang cukai pada April 1821. Apalagi panen padi yang kurang memuaskan dan krisis dalam industri gula pribumi ikut memberi andil.

Pada awal 1821, situasi semakin parah karena gagalnya panen di banyak tempat lantaran kemarau panjang yang tidak biasanya terjadi. Residen Belanda Nahuys Van Burgst saat menulis laporan pada bulan April 1821, menyebut konon hampir empat bulan tak turun hujan.

Baca Juga: Kisah Diposono, Pangeran Mataram yang Kerahkan Makhluk Halus Usir Belanda dan Tionghoa

Peter Carey dalam bukunya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro: 1785 – 1855” mencatat di selatan Pacitan bahkan kondisi persawahan kering. Di sana banyak sawah terbengkalai, karena kekurangan air. Kalaupun ditanami akan cepat kering, karena tiupan angin kering dari arah laut.

Pada Juni 1821, wabah kolera Asia pertama menghantam Pacitan dan memakan banyak korban penduduk yang memang sudah dalam kondisi lemah: setiap hari ada saja petani harus diangkat dari perkebunan lada dan kopi setelah tewas akibat kelelahan dan demam.

Kekeringan ekstrem ini membuat para pribumi yang didominasi petani terancam hidupnya. Sebab sawah mereka mengering, dan hanya bisa mengandalkan makan akar-akaran dan daun-daunan. Mereka ini terutama adalah mereka yang tidak memiliki akses pada sawah irigasi.

Baca Juga: Kisah Pasukan Diponegoro Ketergantungan Candu dan Opium di Perang Jawa

Alhasil, pada waktu itu, seluruh warga desa mengungsi ke daerah-daerah yang lokasinya dekat keraton, guna menghindari kerja paksa di tanah-tanah pemerintah di pantai selatan. Jumlah penduduk turun hingga hampir 10 persen hanya dalam tempo dua tahun.

Ketika datang melanda pada April-Agustus 1821, wabah kolera itu benar-benar seganas sebagaimana yang diramalkan Kiai Iman Sampurno. Di Jawa, wabah itu menyerang penduduk yang tidak memiliki kekebalan alamiah terhadap penyakit tersebut.

Wabah mematikan itu dibawa oleh para pelaut dari Pulau Pinang dan Melaka ke Pantai Utara Jawa, wabah itu pertama kali menjangkiti Kampung Melayu di Terboyo, Semarang.

Pada awal Mei, wabah itu menyebar ke sepanjang Pantai Utara dengan serangan yang sangat mematikan terjadi di Ibu Kota kolonial, Batavia. Di mana ada 156 orang yang dilaporkan tewas dalam sehari, serta Surabaya, warga yang tewas setiap harinya mencapai jumlah 76 orang.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
AS Waspada, Blokir Pelancong...
AS Waspada, Blokir Pelancong dari Zona Wabah Ebola
WHO Umumkan Darurat...
WHO Umumkan Darurat Ebola Global, Kemenkes Pastikan Belum Ada Kasus di Indonesia
Rekomendasi
Malih Tong Tong Doakan...
Malih Tong Tong Doakan Haji Bolot Cepat Sembuh, Akui Rindu Kerja Bareng Lagi
Aturan Baru ESDM, Blending...
Aturan Baru ESDM, Blending Batu Bara Harus Dapat Restu Bahlil
Jangan Lewatkan! Kejar...
Jangan Lewatkan! Kejar Promo Rumah, Kendaraan, & Liburan di BRI Consumer Expo 2026 Makassar
Berita Terkini
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
Korban Tewas Gempa Magnitudo...
Korban Tewas Gempa Magnitudo 6,7 di Sulteng Bertambah Jadi 3 Orang
Dihadiri Ribuan Peserta,...
Dihadiri Ribuan Peserta, Menteri UMKM Buka Musawarah Fest HIPMI Jakarta Selatan
Sinergi Adev Natural...
Sinergi Adev Natural Indonesia dan Pangdam Siliwangi Ajak Masyarakat Teladani Semangat Hijriah
Tambang Emas Tanpa Izin...
Tambang Emas Tanpa Izin Ancam Lumbung Pangan di Parimo, Muhammad Irfain Desak Pemda Tindak Tegas
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved