Transportasi Umum Harus Higienis dan Terapkan Protokol Kesehatan
Senin, 03 Agustus 2020 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
“Terakhir, transportasi tidak boleh menjadi sarana penularan dan penyebaran Covid-19,” ucapnya, Senin (3/8/2020). (Baca juga: Keputusan Kemenhub Dinilai Berpotensi Tingkatkan Jumlah Kasus COVID-19 )
Djoko mengatakan, asumsi Bank Dunia rata-rata pengeluaran untuk transportasi itu 10 persen dari pendapatan. Di Indonesia, terbagi dalam beberapa kelompok. Pertama, pekerja dengan gaji Rp3-5 juta per bulan.
Pengeluaran untuk ongkos dari kelompok ini biasanya mencapai 20 persen. Kedua, pekerja dengan penghasilan Rp6-8 juta. Ketiga, kelompok yang menggunakan transportasi umum berupa bus regional (JR Connexion). Tarif bus ini rata-rata Rp25 ribu.
Terakhir, kelompok yang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka biasanya mengeluarkan biaya sekitar Rp3-4 juta per bulan. Bahkan bisa mencapai Rp7,5 juta jika menggunakan sopir.
Di masa pandemi ini, kapasitas transportasi umum tidak mungkin diisi penuh. Contohnya, kapasitas kereta rel listrik (krl) dibatasi 35-35 persen atau satu gerbong sekitar 74 orang.
Guna memenuhi mobilitas warga Jabodetabek untuk berbagai kegiatan selama pandemi, perlu diciptakan tiga bentuk layanan transportasi umum. Pertama, krl lebih diprioritaskan untuk kelompok berpenghasilan UMK dan milenial dengan pendapatan kurang dari Rp10 juta per bulan.
Djoko mengatakan, asumsi Bank Dunia rata-rata pengeluaran untuk transportasi itu 10 persen dari pendapatan. Di Indonesia, terbagi dalam beberapa kelompok. Pertama, pekerja dengan gaji Rp3-5 juta per bulan.
Pengeluaran untuk ongkos dari kelompok ini biasanya mencapai 20 persen. Kedua, pekerja dengan penghasilan Rp6-8 juta. Ketiga, kelompok yang menggunakan transportasi umum berupa bus regional (JR Connexion). Tarif bus ini rata-rata Rp25 ribu.
Terakhir, kelompok yang menggunakan kendaraan pribadi. Mereka biasanya mengeluarkan biaya sekitar Rp3-4 juta per bulan. Bahkan bisa mencapai Rp7,5 juta jika menggunakan sopir.
Di masa pandemi ini, kapasitas transportasi umum tidak mungkin diisi penuh. Contohnya, kapasitas kereta rel listrik (krl) dibatasi 35-35 persen atau satu gerbong sekitar 74 orang.
Guna memenuhi mobilitas warga Jabodetabek untuk berbagai kegiatan selama pandemi, perlu diciptakan tiga bentuk layanan transportasi umum. Pertama, krl lebih diprioritaskan untuk kelompok berpenghasilan UMK dan milenial dengan pendapatan kurang dari Rp10 juta per bulan.
Lihat Juga :