alexa snippet

Awal Ramadan, Blora Siap Hadapi Kekeringan

Awal Ramadan, Blora Siap Hadapi Kekeringan
Warga tengah mengambil air untuk keperluan sehari-hari di sumur penampungan air. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
A+ A-
BLORA - Musim kemarau 2017 mulai terlihat pada pekan terakhir Mei ini yang bertepatan dengan awal Bulan Suci Ramadan. Meskipun masih dijumpai hujan, namun intensitasnya sudah jauh berkurang.

Kepala Pelaksana BPBD Blora, Sri Rahayu mengimbau, agar warga mulai menghemat penggunaan air bersih dan mewaspadai potensi kebakaran di lahan kering. Pihaknya pun mulai bersiaga serangkaian langkah untuk megantisipasi dampak kekeringan.

"Mengingat tingginya potensi kekeringan di Kabupaten Blora ketika kemarau tiba. Kami ingin mengajak seluruh warga untuk siaga, membudayakan pengurangan risiko bencana kekeringan melalui beberapa langkah pencegahan," ujar Sri di Blora, Jawa Tengah, Sabtu (27/5/2017).

Dia mengatakan, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung maksimal selama 19 dasarian atau 190 hari. Wilayah yang diperkirakan terkeda dampak kemarau paling panjang adalah di Kunduran, Banjarejo, Jiken, Sambong Cepu, sebagian Kedungtuban, Ngawen, Jepon, serta Blora.

"Kemarau tahun ini hampir merata di seluruh wilayah Blora. Namun untuk risiko kekeringan yang paling rendah ada di Kecamatan Todanan, Kradenan, dan Kedungtuban," katanya.

Dia mengaku, pihaknya juga akan melakukan rapat koordinasi dengan beberapa pihak terkait guna menyelaraskan program bantuan air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan.

"Sesuai mekanisme, jika ada desa-desa yang mengalami kekeringan, saya minta kepala desanya untuk lapor ke camat agar diteruskan ke BPBD. Berdasarkan laporan itu, kami akan buatkan SK tentang status kekeringan yang nantinya digunakan sebagai dasar pemberian bantuan air bersih," paparnya.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top