Bangun Koneksi Jalur Sumatera untuk Indonesia Maju
Jum'at, 31 Juli 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Keseriusan PT Hutama Karya membangun tol di Sumatera, juga didukung penuh pemerintah pusat, melalui komitmen Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2020 kepada PT Hutama Karya. BUMN ini mendapat suntikan modal senilai Rp11 triliun dari rencana awal hanya Rp3,5 triliun.
Senior Executive Vice President (SEVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan, PMN tahun 2020 akan membantu percepatan pembangunan JTTS.
Dana tersebut akan dipakai untuk membangun ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 km, ruas Simpang Indralaya-Muara Enim 119 km, dan Pekanbaru-Pangkalan 95 km.
Menurut dia, pendanaan ini akan memperkuat Global Bonds senilai Rp9 triliun yang sebelumnya telah didapat PT Hutama Karya. Struktur permodalan perseroan juga akan makin solid, dalam rangka mendukung Nawacita pemerintah.
Urat Nadi Ekonomi dan Pariwisata
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jambi Budi Setiawan mengungkapkan, salah satu persoalan lambatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera adalah infrastruktur jalan. Saat ini, arus barang antar daerah masih berbiaya tinggi, akibat membengkaknya ongkos distribusi.
Sedangkan ekonomi Sumatera lebih banyak ditopang hasil sumber daya alam (SDA). Seperti perkebunan, pertambangan, pertanian, dan sebagian hasil produk manufaktur. Barang ekonomi tersebut, mayoritas masih dikirim ke Pulau Jawa, sebagai pangsa pasar utama.
"Kami menghadapi tantangan besar pada proses distribusi barang. Pengiriman produk bisa memakan waktu berjam-jam. Misalnya dari Jambi ke Palembang bisa 16 jam, karena kondisi jalan hancur, macet, dan persoalan lainnya," ungkap Budi.
Lambatnya distribusi barang, ujar dia, berpengaruh terhadap lambatnya perputaran produk. Perputaran uang atau cash flow cenderung lambat. Tak heran, walaupun sumber daya alam melimpah, kontribusi 10 provinsi di Sumatera terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hanya 22,21% pada tahun 2015.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di sebagian provinsi di Sumatera pada 2019 di bawah 5%. Provinsi Jambi tercatat sebesar 4,40% (yoy), Provinsi Bengkulu 4,96%, Provinsi Riau 4,89%, dan Provinsi Aceh 4,15%.
Sedangkan provinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5%, di antaranya Provinsi Sumatera Barat 5,13% dan Provinsi Lampung 5,27%.
Menurut Budi, ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai diyakini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Sumatera yang memiliki populasi penduduk sekitar 55 juta jiwa ini.
Rencana pemerintah membangun Jalan Tol Trans Sumatera, adalah keputusan tepat. Mega proyek ini diharapkan bisa memutus kebuntuan akan solusi mahalnya biaya distribusi.
"Tol Trans Sumatera ini sangat kami butuhkan, karena akan memudahkan distribusi produk dan barang. Tentu, akses antar provinsi dari Lampung, Jambi, Bengkulu, Medan, Pekanbaru, Palembang bisa lebih mudah," tutur pengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Hipmi Kota Jambi ini.
Menurut dia, ruas Tol Trans Sumatera yang kini beroperasi, telah memberi dampak signifikan bagi ekonomi kawasan. Mobilitas masyarakat lebih cepat dari Jawa ke Sumatera atau sebaliknya.
Akses dari Palembang ke Jakarta, bisa ditempuh kurang dari 5 jam. Berbeda saat belum ada tol, membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.
Dia berharap, proyek JTTS bisa segera terealisasi. Setidaknya dimulai dengan membangun konektivitas antarprovinsi di Sumatera. Apalagi bila akses tol itu saling terhubung dengan pusat industri di Sumatera.
Harapan serupa juga disampaikan Ketua Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita) Provinsi Sumatera Selatan Anton Wahyudi.
Menurut dia, sektor pariwisata akan sangat diuntungkan dengan adanya JTTS. Pertukaran wisatawan domestik antar provinsi akan meningkat.
Senior Executive Vice President (SEVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya Muhammad Fauzan mengatakan, PMN tahun 2020 akan membantu percepatan pembangunan JTTS.
Dana tersebut akan dipakai untuk membangun ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 km, ruas Simpang Indralaya-Muara Enim 119 km, dan Pekanbaru-Pangkalan 95 km.
Menurut dia, pendanaan ini akan memperkuat Global Bonds senilai Rp9 triliun yang sebelumnya telah didapat PT Hutama Karya. Struktur permodalan perseroan juga akan makin solid, dalam rangka mendukung Nawacita pemerintah.
Urat Nadi Ekonomi dan Pariwisata
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jambi Budi Setiawan mengungkapkan, salah satu persoalan lambatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera adalah infrastruktur jalan. Saat ini, arus barang antar daerah masih berbiaya tinggi, akibat membengkaknya ongkos distribusi.
Sedangkan ekonomi Sumatera lebih banyak ditopang hasil sumber daya alam (SDA). Seperti perkebunan, pertambangan, pertanian, dan sebagian hasil produk manufaktur. Barang ekonomi tersebut, mayoritas masih dikirim ke Pulau Jawa, sebagai pangsa pasar utama.
"Kami menghadapi tantangan besar pada proses distribusi barang. Pengiriman produk bisa memakan waktu berjam-jam. Misalnya dari Jambi ke Palembang bisa 16 jam, karena kondisi jalan hancur, macet, dan persoalan lainnya," ungkap Budi.
Lambatnya distribusi barang, ujar dia, berpengaruh terhadap lambatnya perputaran produk. Perputaran uang atau cash flow cenderung lambat. Tak heran, walaupun sumber daya alam melimpah, kontribusi 10 provinsi di Sumatera terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional hanya 22,21% pada tahun 2015.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi di sebagian provinsi di Sumatera pada 2019 di bawah 5%. Provinsi Jambi tercatat sebesar 4,40% (yoy), Provinsi Bengkulu 4,96%, Provinsi Riau 4,89%, dan Provinsi Aceh 4,15%.
Sedangkan provinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5%, di antaranya Provinsi Sumatera Barat 5,13% dan Provinsi Lampung 5,27%.
Menurut Budi, ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai diyakini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Sumatera yang memiliki populasi penduduk sekitar 55 juta jiwa ini.
Rencana pemerintah membangun Jalan Tol Trans Sumatera, adalah keputusan tepat. Mega proyek ini diharapkan bisa memutus kebuntuan akan solusi mahalnya biaya distribusi.
"Tol Trans Sumatera ini sangat kami butuhkan, karena akan memudahkan distribusi produk dan barang. Tentu, akses antar provinsi dari Lampung, Jambi, Bengkulu, Medan, Pekanbaru, Palembang bisa lebih mudah," tutur pengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Hipmi Kota Jambi ini.
Menurut dia, ruas Tol Trans Sumatera yang kini beroperasi, telah memberi dampak signifikan bagi ekonomi kawasan. Mobilitas masyarakat lebih cepat dari Jawa ke Sumatera atau sebaliknya.
Akses dari Palembang ke Jakarta, bisa ditempuh kurang dari 5 jam. Berbeda saat belum ada tol, membutuhkan waktu lebih dari 12 jam.
Dia berharap, proyek JTTS bisa segera terealisasi. Setidaknya dimulai dengan membangun konektivitas antarprovinsi di Sumatera. Apalagi bila akses tol itu saling terhubung dengan pusat industri di Sumatera.
Harapan serupa juga disampaikan Ketua Association of The Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita) Provinsi Sumatera Selatan Anton Wahyudi.
Menurut dia, sektor pariwisata akan sangat diuntungkan dengan adanya JTTS. Pertukaran wisatawan domestik antar provinsi akan meningkat.
Lihat Juga :