Waspada Potensi Penularan COVID-19 Saat Idul Adha
Kamis, 30 Juli 2020 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
Kata Syafri, jika ada daerah yang memang dianggap masuk zona hijau, pelaksanaan salat Id bisa saja dilakukan lapangan. Meski di satu sisi diakui pengawasannya akan lebih sulit. Mesti mengontrol massa yang lebih besar. Dibanding masjid, yang cakupannya dinilai masih bisa dikontrol.
"Kalau misalnya (salat Id) di lapangan, kalau bisa dijamin ada physical distancing, bisa dijamin protokol kesehatan ketat jalan, yang zona hijau ya, kenapa tidak? Cuma yah itu, tetap kesadaran individu dijaga untuk protokol kesehatan," beber dia.
Direktur Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengaku, pencegahan penularan COVID-19 saat ini hanya bisa dilakukan lewat penerapan protokol kesehatan. Kesadaran individu sangat diperlukan dalam aktivitasnya agar disiplin memakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak.
Syafri mengungkapkan, masih adanya kasus penularan COVID-19 di Sulsel, karena masih adanya warga yang tidak taat protokol kesehatan. Tingkat kepatuhan masih rendah. Jika hal ini terus berlanjut, puncak pandemi COVID-19 bakal sulit diprediksi. Baca Juga : Kasus Positif COVID-19 di Kabupaten Luwu Timur Bertambah 21
"Nah, puncak pandemi itu kita belum bisa prediksi. Karena kasus kita kelihatan masih ada laju insidensi yang masih tinggi, walaupun saat ini tidak lagi seperti pernah sewaktu di atas 200. Kita juga masih pada posisi belum signifikan turun. Makanya kita harus lebih ketat lagi. Itu kuncinya," tegasnya.
Data Gugus Tugas COVID-19 Sulsel, dilaporkan masih ada penambahan kasus positif baru sebanyak 131 orang, kemarin. Kemudian disusul dengan penambahan pasien sembuh sebanyak 38 orang, lalu bertambah 3 orang yang dinyatakan meninggal.
"Kalau misalnya (salat Id) di lapangan, kalau bisa dijamin ada physical distancing, bisa dijamin protokol kesehatan ketat jalan, yang zona hijau ya, kenapa tidak? Cuma yah itu, tetap kesadaran individu dijaga untuk protokol kesehatan," beber dia.
Direktur Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini mengaku, pencegahan penularan COVID-19 saat ini hanya bisa dilakukan lewat penerapan protokol kesehatan. Kesadaran individu sangat diperlukan dalam aktivitasnya agar disiplin memakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak.
Syafri mengungkapkan, masih adanya kasus penularan COVID-19 di Sulsel, karena masih adanya warga yang tidak taat protokol kesehatan. Tingkat kepatuhan masih rendah. Jika hal ini terus berlanjut, puncak pandemi COVID-19 bakal sulit diprediksi. Baca Juga : Kasus Positif COVID-19 di Kabupaten Luwu Timur Bertambah 21
"Nah, puncak pandemi itu kita belum bisa prediksi. Karena kasus kita kelihatan masih ada laju insidensi yang masih tinggi, walaupun saat ini tidak lagi seperti pernah sewaktu di atas 200. Kita juga masih pada posisi belum signifikan turun. Makanya kita harus lebih ketat lagi. Itu kuncinya," tegasnya.
Data Gugus Tugas COVID-19 Sulsel, dilaporkan masih ada penambahan kasus positif baru sebanyak 131 orang, kemarin. Kemudian disusul dengan penambahan pasien sembuh sebanyak 38 orang, lalu bertambah 3 orang yang dinyatakan meninggal.
Lihat Juga :