alexametrics

Cerita Pagi

Tamar Djaja, Aktivis Pergerakan dan Sastrawan Minangkabau

loading...
Tamar Djaja, Aktivis Pergerakan dan Sastrawan Minangkabau
Salah satu karya Tamar Djaja. Foto/Istimewa
A+ A-
Era pergerakan kebangsaan ditandai lahirnya penulis-penulis dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Mereka pada masa itu berprofesi sebagai sastrawan atau politisi. Namun, jumlahnya terbilang langka, terutama pada awal abad ke-20.

Tamar Djaja, sosok yang tidak asing dalam dunia sastra maupun aktivitas pergerakan. Tamar Djaja terlahir dengan nama Tamburrasyid Tamar Djaja. Dia lahir tanggal 12 Maret 1913 di Sungai Jaring, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tamar Djaja lahir pada masa arus gerakan modernisasi Islam mempunyai pengaruh besar terhadap pribadinya.

Dalam konteks l'histoire des mentalité (sejarah kesadaran), menurut pemerhati sejarah Sumatera Barat Fikrul Hanif Sufyan, periode kelahiran Tamar Djaja ini sangat menentukan. Sementara, menjadi anggota gagasan gerakan pemurnian agama tersebut, lanjut Fikrul Hanif, telah menyebabkan seseorang merasa telah berada di dalam sebuah jaringan persekutuan suci berskala kosmopolitan. Pada tingkat domestik, anggota-anggota tersebut harus berhadapan dengan colonial state (negara kolonial).



Setelah tamat dari pendidikan dasar, Sekolah Rakyat (SR), Tamar Djaja melanjutkan studinya di pusat-pusat pendidikan Islam yang telah disebut Taufik Abdullah: Sumatera Thawalib Padang Panjang, di bawah asuhan Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Abdul Hamid Hakim, dan lainnya.

Dalam studinya ini, Tamar Djaja berkenalan lebih jauh dengan gagasan-gagasan reformasi Islam melalui buku-buku karya tajdid Muhammad bin Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Sayyid Rashid Ridha, Jamaluddin al-Afghani dan Sayyid Quthb, serta Syekh Akhmad Khatib. Dan tentu saja, bersamaan dengan itu, Tamar Djaja juga membaca karya-karya gurunya pada tingkat domestik seperti Haji Rasul dan Abdullah Ahmad.

Menurut Fikrul Hanif, Tamar Djaja secara intelektual menemui kematangannya saat berkesempatan untuk menginstitusionalisasikan gagasan-gagasan itu di dalam sebuah organisasi. Pada tahun 1930, Tamar Djaja aktif di Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI), salah satu partai lokal yang sudah berbasis Islam dan kebangsaan.

Pola hidup berorganisasi (secara modern) yang dibawa PERMI mendorong 'acuan kehidupan baru' secara massif yang cocok dengan kehidupan kampus Thawalib Padang Panjang, yang dahulu bergesekan dengan komunismenya Haji Datuk Batuah.

Aktivitasnya di PERMI tidak saja menggemblengnya dalam berorganisasi, berpolitik, namun juga mengasah kemampuannya dalam dunia jurnalistik. Hal ini terbukti semasa aktif di PERMI, Tamar Djaja menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Keris.

Menurut H.A.J. Klooster, dalam beberapa tulisannya di media massa, pada tahun akhir tahun 1939 dan pasca-Kemerdekaan, Tamar Djaja juga menggunakan nama samaran dari St. (Sutan) Rais Alamsjah.

Menurut catatan William Bradley Horton (2009), melalui penerbit Penjiaran Ilmu yang didirikannya tahun 1939, Tamar Djaja bertindak sebagai kepala editor yang menyunting tulisan Roman Pergaoelan.

Sejak menjabat chief editor, lanjut Fikrul Hanif, Tamar Djaja aktif menulis beberapa karya mulai dari sastra, politik, sejarah, yang kemudian menjadi acuan dari peneliti, di antaranya: Spion Perempuan (1940), Dari Desa ke Kota (1940), Sebabnya Saya Bahagia! (1940), Journalist Alamsjah (1940), Si Bachil (1941), Berontak!!! : Menentukan Nasib (1946), Trio Komunis Indonesia : Tan Malaka, Alimin, Semaoen (1946), Sejarah Pergerakan Politik Indonesia (1946), dan Pengertian Politik: Tata Negara (1946).

Pada tahun 1945, Tamar Djaja merangkap anggota dewan Generasi Pemuda Indonesia dan Ketua Humas dari Komite Nasional Indonesia (KNI). Pada tahun 1947, Tamar Djaja memimpin redaksi Genderang Sjahid, sebuah koran yang terbit sekali seminggu. Sejak dideklarasikannya Masyumi di Yogyakarta, Tamar Djaja diangkat sebagai ketua Humas untuk cabang Masyumi Sumatera Barat.

Selain itu, atas instruksi PB Masyumi, ia diserahi tugas sebagai editor kepala koran Berdjuang, terbit seminggu sekali.

Sejak tahun 1949, Tamar Djaja secara resmi menutup Penjiaran Ilmu, penerbitan yang pernah ia dirikan di Bukittinggi. Fikrul Hanif menduga ada beberapa faktor yang menyebabkan Tamar Djaja menutup penerbitannya.

Pertama, ditutupnya penerbit ini ada hubungannya dengan masa Agresi Belanda II, yang menyebabkan situasi Bukittinggi dan daerah di sekitarnya dalam situasi darurat perang. Kedua, seluruh tokoh yang terlibat aktif dalam perusahaan penerbitan, termasuk Tamar Djaja, ikut serta dalam rombongan petinggi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) menuju pedalaman Sumatera Barat.

Pasca-PDRI dan penyerahan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar, Tamar Djaja kembali aktif dalam dunia politik dan jurnalistik. O.G Roeder (1971) menulis, pada tahun 1950 Tamar Djaja hijrah ke Jakarta.

Pada awal tahun 1950, Tamar Djaja diserahi tugas sebagai Kepala Pusat Informasi dari Masyumi. Selain itu, berkat kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan pers, Tamar Djaja ditunjuk sebagai Pimred Suara Masyumi dan Kursus Politik.

Pada tahun 1953, selain bertugas sebagai pengurus Masyumi dan memimpin dua media pers dari Partai Masjumi, Tamar Djaja masuk dalam struktur birokrasi pemerintahan. Selanjutnya, menurut Fikrul Hanif, Tamar Djaja diserahi tugas untuk kepala Seksi Publikasi Departemen Agama di 1953-1956, menjadi anggota dewan redaksi Aliran Islam (Bandung) pada tahun 1956, Al Islam (Medan) pada tahun 1953, dan Anti-Komunis (Jakarta) pada tahun 1956.

Dedikasi tinggi yang ditunjukkan Tamar Djaja dalam mengembangkan media pers yang diamanahkan kepadanya, rupanya tidak menyurutkan langkah bapak delapan orang anak ini, ketika ditunjuk sebagai chief editor majalah Daulah Islamiyah yang diterbitkan di Jakarta tahun 1956.

Menurut O.G Roeder, pada tahun 1957 Tamar Djaja terlibat dalam perdebatan panas dengan Deliar Noer dalam kolom surat kabar Adabi. Dalam tulisannya, menurut Fikrul Hanif (2013), Tamar Djaja membantah Boedi Oetomo sebagai tonggak awal pergerakan nasional. Tamar Djaja berpendapat, seharusnya Sarekat Islam yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 menjadi tolok ukur Hari Kebangkitan Nasional.

Demikian sekelumit catatan tentang sosok Tamar Djaja yang menurut Wikipedia telah menghasilkan sedikitnya 33 karya, di antarnya Pusaka Indonesia Orang-orang Besar Tanah Air: Volume 1, Menegakkan Kebenaran (1974), Nyonya Dokter : Roman Pergaulan, Bacaan bagi Generasi Pembangunan (1975), dan Rohana Kudus : Srikandi Indonesia, Riwayat Hidup dan Perjuangannya (1980).
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak