Kementan Berhasil Turunkan Kasus Rabies di Bali
Selasa, 28 Juli 2020 - 10:43 WIB
loading...
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita saat membuka Rapat Koordinasi Pemberantasan Rabies Bali 2020 di Denpasar, Bali, Senin (27/7/2020).
A
A
A
DENPASAR - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) berhasil menurunkan kasus penyakit rabies di Bali pada tahun ini karena program vaksinasi massal. Hal ini disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita saat membuka Rapat Koordinasi Pemberantasan Rabies Bali 2020 di Denpasar, Bali, Senin (27/7/2020).
I Ketut Diarmita menjelaskan pada tahun 2019 jumlah kasus positif rabies sampai bulan Juli ada sebanyak 144 kasus, sedangkan di tahun 2020 pada bulan yang sama ada sebanyak 66 kasus. Artinya ada penurunan kasus rabies. "Penurunan kasus penyakit rabies ini tidak terlepas dari suksesnya program vaksinasi massal yang dilakukan tahun 2019," kata Ketut.
Ia menambahkan, terjadinya fluktuasi peningkatan kasus positif rabies di Provinsi Bali tidak terlepas juga dari tingginya populasi anjing yang diperkirakan mencapai 649.028 ekor. Ini menurutnya akan menjadi tantangan tersendiri dalam rangka pembebasan rabies di Provinsi Bali.
![Kementan Berhasil Turunkan Kasus Rabies di Bali]()
Terlebih, sebanyak 61 persen dari populasi anjing tersebut adalah anjing berpemilik yang dilepasliarkan. Alasan banyak pemilik yang melepasliarkan anjingnya ini karena kurangnya kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya rabies, serta kurangnya edukasi adanya potensi penularan virus rabies dari anjingnya.
"Selain itu, perpindahan anjing dari daerah positif rabies ke daerah lainnya di Provinsi Bali yang masih tinggi juga ikut mendukung peningkatan kasus rabies di Bali tahun 2019," imbuh Ketut.
I Ketut Diarmita menjelaskan pada tahun 2019 jumlah kasus positif rabies sampai bulan Juli ada sebanyak 144 kasus, sedangkan di tahun 2020 pada bulan yang sama ada sebanyak 66 kasus. Artinya ada penurunan kasus rabies. "Penurunan kasus penyakit rabies ini tidak terlepas dari suksesnya program vaksinasi massal yang dilakukan tahun 2019," kata Ketut.
Ia menambahkan, terjadinya fluktuasi peningkatan kasus positif rabies di Provinsi Bali tidak terlepas juga dari tingginya populasi anjing yang diperkirakan mencapai 649.028 ekor. Ini menurutnya akan menjadi tantangan tersendiri dalam rangka pembebasan rabies di Provinsi Bali.

Terlebih, sebanyak 61 persen dari populasi anjing tersebut adalah anjing berpemilik yang dilepasliarkan. Alasan banyak pemilik yang melepasliarkan anjingnya ini karena kurangnya kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya rabies, serta kurangnya edukasi adanya potensi penularan virus rabies dari anjingnya.
"Selain itu, perpindahan anjing dari daerah positif rabies ke daerah lainnya di Provinsi Bali yang masih tinggi juga ikut mendukung peningkatan kasus rabies di Bali tahun 2019," imbuh Ketut.
Lihat Juga :