Krisis Bahan Olahan Karet di Sumut Makin Parah, 9 Pabrik Tutup
Jum'at, 14 Juli 2023 - 14:27 WIB
loading...
Krisis bahan olahan karet (bokat) di Sumatera Utara semakin parah. Dampaknya sudah ada 9 pabrik pengolahan karet tutup. Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOnews
A
A
A
MEDAN - Krisis bahan olahan karet (bokat) di Sumatera Utara semakin parah. Dampaknya sudah ada 9 pabrik pengolahan karet yang terpaksa gulung tikar karena tak mendapatkan bahan baku.
Kapasitas terpasang pabrik pengolahan karet alam di Sumatera Utara saat ini tercatat 886.484 ton per tahun.
Baca juga: Kobaran Api Meluluhlantakkan 2 Pabrik Pengolahan Karet di Asahan Sumut
Besarnya kapasitas ini tidak didukung oleh ketersediaan bahan olah karet (BOKAR) yang cukup dari Sumatera Utara.
Bahkan dari tahun ke tahun jumlah BOKAR yang dapat dipasok dari perkebunan yang ada di Sumatera Utara semakin berkurang.
"Periode Januari sampai Juni 2023 total produksi karet hasil olahan sebesar 184.084 ton. Berarti utilisasinya hanya 41,53% bila disetahunkan," kata Sekretaris Eksekutif pada Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, Jumat (14/7/2023).
Dalam rentang periode tersebut, sambung Edy, rata-rata pasokan dari Sumatera Utara sebesar 38,75 persen. Selebihnya dari 14 provinsi lain, yakni Riau (20,32 persen), Lampung (17,43 persen), Aceh (8,21 persen) dan Jambi (5,21 persen).
Baca juga: Asal Usul Nama Karet Tengsin, Berawal dari Pemilik Kebun Karet Keturunan Tionghoa yang Dermawan
Kemudian Kepulauan Riau (3,39 persen), Bengkulu (2,81 persen), Sumatera Barat (2,02 persen), Sulawesi Selatan (0,80 persen), Jawa Barat (0,38 persen), Jawa Timur (0,25 persen). Sulawesi Tenggara (0,25 persen), Kalimantan Selatan (0,11 persen), Sulawesi Utara (0,05 persen) dan Kalimantan Barat (0,01 persen).
"Dari rata-rata pasokan Sumut pada semester I-2023, bila dibandingkan dari total kapasitas terpasang hanya menyumbang pasokan 8,05 persen," pungkasnya.
Kapasitas terpasang pabrik pengolahan karet alam di Sumatera Utara saat ini tercatat 886.484 ton per tahun.
Baca juga: Kobaran Api Meluluhlantakkan 2 Pabrik Pengolahan Karet di Asahan Sumut
Besarnya kapasitas ini tidak didukung oleh ketersediaan bahan olah karet (BOKAR) yang cukup dari Sumatera Utara.
Bahkan dari tahun ke tahun jumlah BOKAR yang dapat dipasok dari perkebunan yang ada di Sumatera Utara semakin berkurang.
"Periode Januari sampai Juni 2023 total produksi karet hasil olahan sebesar 184.084 ton. Berarti utilisasinya hanya 41,53% bila disetahunkan," kata Sekretaris Eksekutif pada Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, Jumat (14/7/2023).
Dalam rentang periode tersebut, sambung Edy, rata-rata pasokan dari Sumatera Utara sebesar 38,75 persen. Selebihnya dari 14 provinsi lain, yakni Riau (20,32 persen), Lampung (17,43 persen), Aceh (8,21 persen) dan Jambi (5,21 persen).
Baca juga: Asal Usul Nama Karet Tengsin, Berawal dari Pemilik Kebun Karet Keturunan Tionghoa yang Dermawan
Kemudian Kepulauan Riau (3,39 persen), Bengkulu (2,81 persen), Sumatera Barat (2,02 persen), Sulawesi Selatan (0,80 persen), Jawa Barat (0,38 persen), Jawa Timur (0,25 persen). Sulawesi Tenggara (0,25 persen), Kalimantan Selatan (0,11 persen), Sulawesi Utara (0,05 persen) dan Kalimantan Barat (0,01 persen).
"Dari rata-rata pasokan Sumut pada semester I-2023, bila dibandingkan dari total kapasitas terpasang hanya menyumbang pasokan 8,05 persen," pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :