Suasana Mencekam dari Bunyi Meriam Tanda Kematian di Kerajaan Mataram saat Amangkurat 1 Berkuasa
Jum'at, 19 Mei 2023 - 07:04 WIB
loading...
Sultan Amangkurat I konon memerintah di Mataram sebagai raja dengan sewenang-wenang. Sang raja kerap kali konon menghukum mati orang-orang yang tak bersalah. (Ist)
A
A
A
Sultan Amangkurat I konon memerintah di Mataram sebagai raja dengan sewenang-wenang. Sang raja kerap kali konon menghukum mati orang-orang yang tak bersalah. Kabarnya, ada suatu tanda ketika sang raja mengeksekusi para warga tak bersalah itu.
Sultan memerintah agar anak buahnya bersama empat orang kepercayaan yakni Raden Mas, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Kiai Ngabei Wirapatra, menyelidiki nama, keluarga, dan alamat para pemuka agama. Hal ini dianggap agar mereka semua dapat dibunuh dengan sekali pukul.
Sultan juga menyiasati untuk tidak memperlihatkan diri di luar keraton. Tetapi ia menyuruh sidang-sidang peradilan yang diadakan setiap minggu terus berlangsung di dalam keraton, padahal semestinya sidang diadakan Sitinggil.
Hal ini untuk biasanya agar ia bisa bertindak dengan amat teliti. H.J. De Graaf mengisahkan pada "Disintegrasi Mataram : Di bawah Mangkurat I", setelah memperoleh semua keterangan yang diperlukan, diberikannya perintah - perintah terakhir kepada orang-orang kepercayaannya.
Selanjutnya mereka bertindak sebaik-baiknya dan membunuh semua orang laki-laki, wanita, dan juga anak-anak yang tidak bersalah. Isyarat untuk pembantaian besar-besaran itu adalah bunyi tembakan yang konon dari meriam besar Sapujagat atau Pancawara di istana.
Sultan pun mengamankan dirinya dengan pengawal-pengawal pribadi yang tangguh di bawah pimpinan orang-orang yang paling dipercaya. Belum setengah jam berlalu konon setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan.
Kejadian seperti itu konon kerap terjadi, tetapi Sultan Amangkurat I ingin mengelakkan tanggungjawab atas tindakan-tindakan kekerasannya itu, maka keesokan harinya ketika tampil tampak wajahnya marah dan terkejut sekali.
Sultan memerintah agar anak buahnya bersama empat orang kepercayaan yakni Raden Mas, Tumenggung Nataairnawa, Tumenggung Suranata, dan Kiai Ngabei Wirapatra, menyelidiki nama, keluarga, dan alamat para pemuka agama. Hal ini dianggap agar mereka semua dapat dibunuh dengan sekali pukul.
Sultan juga menyiasati untuk tidak memperlihatkan diri di luar keraton. Tetapi ia menyuruh sidang-sidang peradilan yang diadakan setiap minggu terus berlangsung di dalam keraton, padahal semestinya sidang diadakan Sitinggil.
Hal ini untuk biasanya agar ia bisa bertindak dengan amat teliti. H.J. De Graaf mengisahkan pada "Disintegrasi Mataram : Di bawah Mangkurat I", setelah memperoleh semua keterangan yang diperlukan, diberikannya perintah - perintah terakhir kepada orang-orang kepercayaannya.
Selanjutnya mereka bertindak sebaik-baiknya dan membunuh semua orang laki-laki, wanita, dan juga anak-anak yang tidak bersalah. Isyarat untuk pembantaian besar-besaran itu adalah bunyi tembakan yang konon dari meriam besar Sapujagat atau Pancawara di istana.
Sultan pun mengamankan dirinya dengan pengawal-pengawal pribadi yang tangguh di bawah pimpinan orang-orang yang paling dipercaya. Belum setengah jam berlalu konon setelah terdengar bunyi tembakan, 5 sampai 6 ribu jiwa dibasmi dengan cara yang mengerikan.
Kejadian seperti itu konon kerap terjadi, tetapi Sultan Amangkurat I ingin mengelakkan tanggungjawab atas tindakan-tindakan kekerasannya itu, maka keesokan harinya ketika tampil tampak wajahnya marah dan terkejut sekali.
Lihat Juga :